Capaian dan Inisiatif WWF di Rinjani

WWF-Indonesia telah bekerja di Provinsi Nusa Tenggara Barat sejak 1999, baik di isu kehutanan dan kebijakan. Inisiatif program PES dan capaian di WWF Lombok dari tahun 2000 sampai sekarang dapat disiumpulkan sebagai berikut:

Periode dari 1999 sampai sekitar tahun 2002 merupakan periode eksplorasi bagi WWF. Lokasi program pertama kali dilakukan di wilayah Rinjani dimana di tahun 1999 keterlibatan WWF dimulai dengan aktivitas penelitian keanekaragaman hayati dan sosial budaya menggunakan participatory methodologies (khususnya dalam penilaian yang mengikutsertakan desa-desa atau Participatory Rural Appraisal/PRA).

WWF-Indonesia berkolaborasi dengan pihak pemerintahan, kelompok masyarakat sipil, serta agen-agen pemerintah internasional dalam rangka mengembangkan pendekatan intervensi strategis logis (Landscape) guna meninjau and mengimplementasikan metode-metode efektif untuk mencapai pemahaman dan penetapan strategi kebijakan pada manajemen hutan berkelanjutan di wilayah tersebut sebagai pendekatan utama dalam mengelola wilayah hutan Rinjani.

Sejak 2004, WWF-Indonesia menginisiasi skema Payment for Environmental Services (air) di wilayah Hutan Lindung Rinjani, Pulau Lombok. Inisiatif tersebut melibatkan PDAM Kotamadya Mataram dan individu-individu pengguna air di Mataram sebagai pembeli. Sementara masyarakat di hulu sungai yang menjaga suplai air dan hutan sebagai penjual. Skema ini diharapkan akan dapat sepenuhnya diimplementasikan di kuarter ketiga tahun ini seiring dengan dikeluarkannya peraturan kabupaten mengenai Jasa Lingkungan.

Sejak Juli 2007, skema PES telah diadopsi sebagai bagian dari kebijakan pemerintah lokal, dan peraturan itu efektif bagi Pulau Lombok. Model pendanaan berkelanjutan memberikan insentif bagi masyrakat hulu untuk mengimplementasikan pengelolaan hutan yang baik di ekosistem Gunung Rinjani.

Berdasarkan peraturan peraturan lokal (Perda No. 4/2007), 75% biaya yang dibebankan pada masyarakat yang menggunakan jasa air dari PDAM Lombok dialokasikan kepada masyarakat di bukit Gunung Rinjani sebagai mekanisme "penggantian" untuk membantu melestarikan hutan dimana sistem kehidupan bergantung pada pulau kecil ini.

Pada 2008, proyek Nusa Tenggara secara kontinu memfasilitasi upaya pembangunan berkelanjutan di Nusa Tenggara Barat, khususnya dalam merevisi Rencana Tata Ruang Nusa Tenggara Barat. Pemerintah NTB menyetujui untuk mengadopsi kriteria dan indikator dalam tata lahan konservasi dan pembangunan berkelanjutan sebagai basis dalam merevisi Rencana Wilayah dan Tata Ruang. Hal penting dalam revisi Rencana Wilayah dan Tata Ruang adalah dicapainya kesepakatan antara Gubernur NTB dan Bupati untuk melindungi beberapa wilayah sebagai "Kawasan Strategis Provinsi Untuk Fungsi Lindung" dalam rencana tata ruang, serta pendekatan pembangunan program untuk Lombok sebagai LECI (Lombok as Eco City Island) dan Pulau Sumbawa sebagai SUEZ (Sumbawa Eco Zone).

WWF-Indonesia Nusa Tenggara menjalankan peranannya secara aktif bersama dengan tim Tata Ruang. Tim Tata Ruang berada di bawah program kolaborasi dengan WWF-Indonesia yang juga memegang peranan dalam memproses pembuatan dan perencanan kebijakan daerah. Dengan berkolaborasi dengan pemerintah lokal dan mengikutsertakan aspirasi-aspirasi para pemangku kepentingan, WWF-Indonesia mampu menyusun "Best Management Practice" untuk melindungi, mengelola, dan merestorasi rencana wilayah berdasarkan analisa tata ruang dan pembangunan ekonomi di suatu daerah.

BMP akan memperkuat dan mendukung pembangunan konsep dasar dan perangkat efektif bagi pemerintah daerah dan sektor swasta dalam mengelola pulau kecil di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Tim tata ruang dibentuk untuk memberikan input teknis guna memperkaya konsep pembangunan berkelanjutan dan memfasilitasi implementasi operasional pemerintah daerah di Lombok dan Sumbawa.

Kolaborasi dengan program NEWtrees yang didukung oleh Nokia Asia-Pasific, PT Indosat Tbk, Hongkong Shanghai Banking Corporation, pT Federal International Finance, PT Toyota-Astra Motor Tbk, dan Ranch Market bersama-sama dengan pemerintah Provinsi NTB bertujuan untuk menghijaukan wilayah Rinjani yang rusak. NEWtrees adalah program inisiatif yang dikembangkan oleh WWF-Indonesia dengan menggandeng sektor swasta untuk merehabilitasi wilayah hutan lindung yang rusak akibat deforestasi. Pada tahapan ini, aktivitas reforestasi yang didukung oleh perusahaan tersebut telah mencapai 190 hektar di wilayah Hutan Lindung Rinjani yang meliputi wilayah administratif Desa Sapit dan Perigi di Bukit Dupe, Bukit Sakan, dan Perigi.

Pada level kebijakan lokal, program ini bekerja sama dengan program pemerintah Provinsi NTB yang dinamakan "Green NTB." Oleh karena itu, Gubernur NTB sangat menyambut baik dan mendukung inisiatif WWF-Indonesia tersebut dan mitra korporasi WWF dalam menghijaukan Rinjani.

  / ©: WWF-Indonesia/Widodo Prayitno
© WWF-Indonesia/Widodo Prayitno