Petani Bingung Hadapi Iklim | WWF Indonesia

Petani Bingung Hadapi Iklim



Posted on 17 June 2010   |  
Akurasi Prakiraan Jadi Kunci Adaptasi

JAKARTA, KOMPAS - Petani tanaman pangan, pekebun, ataupun petani hortikultura kebingungan menghadapi iklim yang kian sulit diprediksi. Setelah dilanda kemarau panjang pada akhir 2009, kini petani dihadapkan pada hujan yang tak kunjung berhenti.

Oleh karena itu, sejumlah kalangan menyarankan agar pemerintah membantu petani beradaptasi terhadap dampak perubahan iklim global.

Kegalauan petani menghadapi iklim yang tidak menentu ini diakui Kepala Balai Besar Sumber Daya Lahan Pertanian pada Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian Irsal Las. "Petani agak galau, dampak perubahan iklim global kian nyata. Kita harus belajar terus menyesuaikan diri," kata dia. Rabu (16/6) di Bogor.

Menurut Irsal, dalam menghadapi perubahan iklim, faktor ramalan iklim sangat penting. Namun, selama ini ramalan iklim dua bulan ke depan biasanya kurang akurat Ramalan yang hanya untuk jangka waktu satu hingga dua minggu biasanya lebih akurat "Dengan rentang ramalan satu-dua minggu petani bisa apa. Susah bagi petani memutuskan apakah harus menanam atau tidak," ujar Irsal.

Di negara beriklim tropis se-perti Indonesia, iklim berubah lebih dinamis. Upaya yang paling mungkin dilakukan adalah mengajak petani lebih rajin membaca gejala iklim. Sistem komunikasi iklim harus dibangun sampai tingkat petani dan sekolah lapang iklim diperbanyak.

Kabul (40), petani di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, mengaku tanaman tem-bakaunya banyak yang rusak. "Saya coba tanam cabe, kubis, kentang, dan sawi, mati. Tanam tembakau rusak, terlalu banyak hujan," kata dia.

Keluhan serupa disampaikan Muladi, petani bawang merah di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Ia rugi puluhan juta rupiah akibat perubahan iklim. "Informasi soal iklim tidak pernah sampai ke kami," ujar Muladi

Kerugian juga dialami petani tebu di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. "Tanaman tebu bisa tidak masak sehingga kandungan rendemen rendah," kata Muk-tijan, petani tebu di Pasuruan.

Persoalan yang dihadapi pe-tani padi bahkan lebih kompleks. "Selain-kualitas gabah turun, produktivitas juga turun. Serangan hama penyakit menyebabkan petani padi banyak yang gagal panen," kata Poniran, petani padi di Kabupaten Tegal, Jawa Tengah.

Meningkatnya gangguan hama dan penyakit tanaman diakui oleh Tenaga Ahli Bidang Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Ati Wasiati dalam lokakarya di Bogor. Jawa Barat Peningkatan serangan hama dan penyakit itu terjadi pada periode Januari-Mei 2010, khususnya wereng batang coklat dan tikus.

Wereng batang coklat menyerang tanaman padi seluas 30.159 hektar, tikus 59.502 hektar, dan penggerek batang 64.914 hektar. Berbagai upaya dilakukan, termasuk mengimbau petani agar mengatur pola tanam. "Harus ada komando agar mengatur pola tanam. Pemerintah daerah yang memegang peranan," kata Ati.

Pengaturan pola tanam juga disampaikan Wakil Menteri Pertanian Bayu Krisnamurthi. Ia mengingatkan agar semua pihak mewaspadai pola penanaman padi dengan komoditas tunggal. Saat ini 60 persen tanaman padi adalah varietas Ciherang.

"Bila terjadi serangan hama penyakit akan berdampak lebih hebat," kata dia. (MAS)

Comments

blog comments powered by Disqus