Abrasi Pantai, Peneluran Penyu Di Pulau Derawan Memprihatinkan | WWF Indonesia

Abrasi Pantai, Peneluran Penyu Di Pulau Derawan Memprihatinkan



Posted on 27 March 2013   |  
Sudut pada bagian penangkaran telur penyu di Pulau Derawan terlihat menganga dan melayang dari pondasi pasir. Penangkaran ini terkena dampak abrasi pantai selama beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2010 lokasinya masih sekitar 10 meter dari tepi pantai, sekarang, 2013, hanya berjarak sekitar 2-3 meter saja.
© WWF-Indonesia / Rusli ANDAR

Oleh: Aulia Rahman

Penangkaran telur penyu untuk kepentingan relokasi di Pulau Derawan masih berada di posisinya sekitar tahun 2010. Bangunan semi permanen yang tampak seperti penjara bambu, merupakan penjaga telur penyu dari predator alami seperti biawak dan lainnya. Tinggi pagar bambu menjulang ke langit sepanjang dua meter. Kini, bangunan penjaga telur penyu yang akan menetas tersebut menjadi renta. Bukan karena usianya yang susut karena waktu, melainkan ombak besar yang terus-menerus menghajar bibir pantai Pulau Derawan, salah satu dari Sembilan pulau peneluran penyu yang ada di Kabupaten Berau. Bangunan yang dulunya berada sekitar 10-15 meter dari bibir pantai, sekarang persis berada di tepi ombak. Sebagian sudutnya kehilangan pondasi pasir tempat pilar-pilar bambu menancap, menganga meminta sudut tersebut kembali ditambal. Namun apa lacur, penangkaran yang menjadi wadah relokasi telur penyu tersebut sudah semakin sulit direlokasi.

Abrasi menyisakan kesempitan bagi penyu betina untuk menjalankan siklus hidupnya. Sampah yang hanyut, batang pohon, serta akar pohon di sisa daratan, tidak memberikan banyak kesempatan bagi individu penyu betina untuk mencari ruang yang luas bagi telur-telurnya. Tidak jarang gangguan tersebut mengakibatkan penyu hijau gagal bertelur. Padahal pada setiap musim peneluran, setiap penyu betina dewasa dapat bertelur rata-rata 100 butir. Di tiap musim peneluran yang panjangnya berkisar dua bulanan, setiap individu betina dapat bertelur antara 5-7 kali, dan pada setiap kesempatan yang gagal, penyu betina akan membuang telur-telurnya ke laut.

Pantai peneluran sepanjang 1,5 km di pulau tersebut hanya menyisakan sisi barat yang masih bertahan. Sedangkan, sisi selatannya semakin tipis. Rusli Andar, Pimpinan Program Konservasi WWF-Indonesia di Berau menyebutkan bahwa pola cuaca serta angin yang datang dari selatan mempercepat gerusan ombak terhadap pasir. Garis pantai yang semakin pendek dulunya menjadi rumah untuk bertelur bagi rata-rata 250 individu penyu hijau betina setiap tahunnya, namun sekarang nyaris musnah di ujung tanduk. Lebih lanjut Rusli menambahkan bahwa upaya relokasi penangkaran atau membangun yang baru akan terus dilakukan dengan cara mencari lokasi yang relatif masih aman. Berikutnya, upaya membersihkan pantai peneluran yang tersisa dari sampah dan batang pohon mati juga akan dilakukan.

WWF-Indonesia memulai upaya konservasi di Berau pada 2000 dengan dukungan dari WWF-NL dan DANIDA (Danish International Development Agency). Upaya perlindungan penyu juga sudah dilakukan oleh Pemkab Berau yang telah lama melarang penjualan telur penyu sesuai dengan SK Bupati Berau No. 660/2346-UM/XII/2001 yang isinya berupa larangan mengeksploitasi dan memanfaatkan telur penyu.

Informasi lebih lanjut, silakan kontak:
Rusli Andar, Pimpinan Program Konservasi WWF-Indonesia di Berau,
Email: randar@wwf.or.id

Sudut pada bagian penangkaran telur penyu di Pulau Derawan terlihat menganga dan melayang dari pondasi pasir. Penangkaran ini terkena dampak abrasi pantai selama beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2010 lokasinya masih sekitar 10 meter dari tepi pantai, sekarang, 2013, hanya berjarak sekitar 2-3 meter saja.
© WWF-Indonesia / Rusli ANDAR Enlarge
Salah satu potensi wisata bawah laut Kabupaten Berau
© WWF-Indonesia / Cipto A GUNAWAN Enlarge
Sudut pada bagian bangunan di Pulau Derawan terlihat menganga dan melayang dari pondasi pasir. Bangunan ini terkena dampak abrasi pantai selama beberapa tahun terakhir. Bangunan-bangunan yang dulunya terletak agak di tengah, sekarang posisinya sudah mepet ke pinggir pantai.
© WWF-Indonesia / Rusli ANDAR Enlarge
Peta Kepulauan di Kabupaten Berau
© WWF-Indonesia Enlarge

Comments

blog comments powered by Disqus