Mengurai Permasalahan Sawit di Taman Nasional Tesso Nilo | WWF Indonesia

Mengurai Permasalahan Sawit di Taman Nasional Tesso Nilo



Posted on 26 June 2013   |  
Laporan
Laporan "Sawit dari Taman Nasional"
© WWF-Indonesia

Ekspansi perkebunan sawit ke Taman Nasional Tesso Nilo perlu dihentikan segera demi perbaikan kredibilitas sawit Indonesia

Jakarta – Tantangan Taman Nasional Tesso Nilo saat ini adalah perambahan. Namun bukanlah tidak mungkin keruwetan ini diuraikan dengan semangat mencari win-win solution, sebagaimana diprakarsai Menteri Kehutanan dan Bupati Pelalawan ketika mengunjungi Tesso Nilo Februari lalu.
 
Pemantauan WWF hingga 2012 menunjukkan bahwa 52.266,5 hektar di hutan Tesso Nilo telah beralih menjadi kebun sawit, 15.714 ha di antaranya terjadi di kawasan taman nasional. WWF mendesak semua pihak mencari jalan keluar konstruktif, dan perambahan dihentikan segera. Pemerintah daerah terutama Dinas Perkebunan diharapkan aktif untuk mendata perkebunan sawit melalui perizinan perkebunan. WWF sendiri siap bekerjasama termasuk dengan masyarakat hukum adat mendata lokasi kebun mereka, dan membantu pengelolaan kebun ini secara berkelanjutan. 
 
Dua perusahaan global—Asian Agri dan Wilmar— sampai kuartal akhir 2012 diindikasikan tidak dengan cermat menyaring masuknya Tandan Buah Segar (TBS), yang membuka peluang masuknya TBS yang ditanam dari taman nasional. Sebagai anggota RSPO yang senantiasa menerapkan perbaikan manajemen, hal ini segera ditanggapi dengan seksama oleh kedua perusahaan. 
 
Irwan Gunawan, Deputi Direktur Transformasi Pasar WWF-Indonesia mengatakan, “WWF menyambut baik aksi nyata yang dilakukan dua perusahaan tersebut. Sebagai anggota RSPO, keduanya wajib melakukan beberapa penanganan terhadap kondisi yang terjadi. Diharapkan di masa mendatang kedua perusahaan tersebut dapat mengembangkan dan segera mengimplementasikan sistem penelusuran lacak balak (chain of custody) yang menyeluruh dan transparan dari lokasi kebun sampai ke pabrik; serta melakukan verifikasi internal untuk mengidentifikasi dan menghentikan pembiayaan perkebunan kelapa sawit illegal.”
 
“Masalah seperti ini tidak terjadi hanya pada dua perusahaan itu, atau hanya di kawasan Tesso Nilo saja. Perusahaan sawit yang bertanggung jawab harus menerapkan prosedur yang sama pada seluruh operasinya.”
 
Lebih lanjut Nazir Foead, Direktur Konservasi, menjelaskan bahwa kelapa sawit yang dihasilkan bukan dari kawasan hutan bernilai konservasi tinggi akan menciptakan sentimen positif pasar. Hal ini sangat krusial bagi Indonesia sebagai negara pengekspor minyak sawit terbesar di dunia. WWF mendorong tim bentukan DPRD dan Pemda Pelalawan bersama Balai TNTN untuk segera menyelesaikan tugas pendataan di lapangan demi mencari solusi bersama
 

Informasi lebih lanjut, silakan hubungi:
Irwan Gunawan, Deputy Director Market Transformation Initiative, WWF-Indonesia
Email: igunawan@wwf.or.id, HP: +62 812 8748 535

Annisa Ruzuar, Communication Coordinator Market Transformation Initiative, WWF- Indonesia
Email: asruzuar@wwf.or.id, HP: +62 813 2004 4343


Catatan Editor:
  • Laporan investigasi berjudul ”Menelusuri Sawit Illegal dari Kompleks Hutan Tesso Nilo: Perambahan Ekosistem Kunci Sumatera oleh Industri Kelapa Sawit” dapat diakses di https://dl.dropboxusercontent.com/u/83668676/WWF%20Indonesia_Laporan%20TBS%20Illegal%20dari%20Taman%20Nasional_FINAL.pdf
  • Kompleks hutan Tesso Nilo meliputi kawasan Taman Nasional Tesso Nillo, IUPHHK PT. Hutani Sola Lestari dan IUPHHK PT. Siak Timber Raya.
  • Analisa Citra Satelit Landsat 2002-April 2011 menunjukan pertambahan luas kawasan yang dirambah di dalam kompleks hutan Tesso Nilo—kompleks tersebut memiliki luasan 167.618—cenderung meningkat setiap tahunnya. Peningkatan tertinggi terjadi pada tahun berikut: 2006 areal yang dirambah seluas 14.165 Ha, tahun 2008 mencapai 14.704 Ha dan paling luas pada tahun 2009 yang mencapai 16.305 Ha. Dalam lingkup kompleks hutan Tesso Nilo, perambahan paling besar terjadi pada lokasi IUPHHK PT. Siak Raya Timber yaitu mencapai 84% atau sekitar 32.310 Ha, selanjutnya Taman Nasional Tesso Nilo yang mencapai 43% atau sebesar 35.416 Ha. Sedangkan di dalam konsesi IUPHHK PT. Hutani Sola Lestari mencapai 40,% atau sebesar 18.497 Ha.
  • Kebun sawit di dalam kompleks hutan Tesso Nilo dikuasai dan dikelola oleh individu dan kelompok. Teridentifikasi 524 orang mendominasi 72% (26.298 Ha) dari total area perambahan yang telah dikonversi menjadi kebun sawit (36.353 Ha). Rata-rata kebun yang dimiliki oleh individual adalah 50 hektar, jauh lebih besar dari rata-rata kebun yang dimiliki oleh petani, yang mengindikasikan adanya modal yang besar. Hasil investigasi WWF juga mengidentifikasikan 17 kelompok perambah yang memiliki kebun kelapa sawit di dalam kompleks hutan Tesso Nilo. 
 

Comments

blog comments powered by Disqus