Penyu Laut Di Indonesia: Kisah Ambasador Laut yang Terancam Punah | WWF Indonesia

Penyu Laut Di Indonesia: Kisah Ambasador Laut yang Terancam Punah



Posted on 18 October 2013   |  
© WWF/JŰrgen Freund

Sebagai spesies yang daur hidupnya secara alamiah sudah rentan, kelangsungan populasi Penyu Laut makin terancam dengan meningkatnya aktivitas manusia.

Siapa yang tak kenal dengan penyu, reptil yang asosiatif dengan sifat lambat namun persisten dalam mencapai tujuan? Binatang yang menghabiskan sebagian besar hidupnya di laut ini secara alamiah memang hidup dan berkembang biak dalam kondisi yang penuh tantangan alih-alih keterbatasan fisiknya. Mulai dari gangguan alam dan binatang pemangsa saat penetasan telur penyu, rendahnya kemungkinan hidup penyu yang baru menetas, panjangnya waktu yang dibutuhkan penyu untuk mencapai usia reproduktif (sekitar 30 – 50  tahun, sebelum berenang kembali ke pantai peneluran—tempatnya dulu menetas, berjalan, dan berenang masuk ke laut), serta berbagai ancaman yang dihadapinya saat mengarungi samudra.

Di Indonesia, ditemukan enam spesies penyu dari tujuh yang tercatat di dunia. Empat di antaranya bahkan bertelur di pantai-pantai di sepanjang perairan Indonesia, yakni Penyu Hijau, Penyu Belimbing, Penyu Sisik, dan Penyu Lekang. Bagi mereka, perairan Indonesia merupakan rute perpindahan (migrasi) yang terpenting di persimpangan Samudera Pasifik dan Hindia. Lebih dari itu, Indonesia tercatat memiliki pantai peneluran Penyu Belimbing terbesar di wilayah Pasifik, yaitu di Abun, Papua, serta peneluran Penyu Hijau terbesar di Asia Tenggara, yaitu di Kepulauan Berau, Kalimantan Timur.

Di Abun, Papua Barat, Penyu Belimbing Pasifik (Dermochelys coriacea) bertelur di sejumlah pantai. Meski jumlah populasinya menurun drastis selama tiga dekade terakhir, setiap tahun ada sekitar 1.000 Penyu Belimbing yang mengunjungi Pantai Abun untuk bertelur. Penyu lain yang juga terlihat bertelur di Pantai Abun, antara lain Penyu Hijau (Chelonia mydas), Penyu Lekang (Lepidochelys olivacea), dan Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata), namun populasinya tak sebesar Penyu Belimbing. Penyu Belimbing Abun diindikasikan memiliki pola migrasi dengan wilayah jelajah ke arah utara dan selatan untuk mencapai daerah pakan. Mereka bermigrasi hingga ke bagian barat daya Kepulauan Kei Kecil (Laut Banda), Laut Sulu, Laut Cina Selatan, Australia Tenggara, dan Pantai Barat Amerika Serikat. Kepulauan Kei Kecil terindikasi merupakan daerah pakan bagi Penyu Belimbing yang memangsa Ubur-ubur Besar berwarna coklat yang banyak terdapat di sana.

Di Berau, Kalimantan Timur, sembilan dari 31 pulau kecil merupakan pantai peneluran Penyu Hijau. Per tahunnya, sekitar 15.000 penyu betina datang dan bertelur di sana. Berdasarkan studi migrasi penyu di Indonesia, padang lamun di Kepulauan Berau merupakan wilayah pakan penting bagi penyu ini. Oleh karena itu, Kawasan Konservasi Perairan Daerah Pulau Berau, Kalimantan Timur, mencapai luasan 1.222.988 ha, yang terbentang dari bagian utara Pulau Panjang sampai selatan Tanjung Mangkaliat.

Wilayah lain di Indonesia yang penting bagi perkembangbiakkan spesies penyu adalah Paloh. Daerah pesisir Paloh terletak di sebelah utara Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Pantai berpasirnya membentang seluas lebih dari 100 km di mana 63 km (sekitar 79% dari total garis pantai) merupakan habitat peneluran bagi Panyu Hijau dan Penyu Sisik. Fakta tersebut mengindikasikan bahwa Paloh merupakan wilayah peneluran penyu terpanjang di Indonesia. Fakta lain menunjukkan lebih dari 2.000 sarang Penyu Hijau (lebih dari 500 betina) per tahun yang dijumpai di Pantai Paloh. Hal ini menjadikan jumlah populasi Penyu Hijau di Paloh terbesar kedua rantai yang terbentang dari Peninsula, Malaysia sampai Lautan Sulu, Sulawesi.


Mitos dan Ancaman Kepunahan


Masyarakat pesisir di sekitar wilayah peneluran sejak dulu telah mengaitkan penyu dengan beragam mitos dan tradisi lokal. Para nelayan di Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah, misalnya, percaya bahwa menangkap penyu akan membawa kesialan dan penyakit bagi pelakunya. Penawarnya, sang nelayan harus dibawa ke seorang dukun atau kepala adat, dan memenuhi berbagai persyaratan, seperti melarung sesaji, membakar menyan, dll. Sementara itu, masyarakat di Kepulauan Kei Kecil mengenal Penyu Belimbing dengan sebutan Tabob. Bagi mereka, Tabob merupakan simbol leluhur. Tujuh bukit yang ada di tempurung Penyu Belimbing menunjukkan jumlah satuan komunitas adat lokal yang ada di daerah tersebut.

Selain memiliki arti dalam tradisi lokal, daging dan telur penyu dikonsumsi masyarakat dan merupakan sumber protein sehari-hari. Sayangnya, sejak tiga dekade lalu berkembang perdagangan produk penyu, bahkan hingga ke pasar global. Angkanya kian tahun kian meningkat tajam. Perdagangan daging penyu banyak dilakukan di Bali, sedangkan perdagangan telur penyu dapat dengan mudah ditemukan di Kalimantan, Sumatera, dan Jawa.

IUCN
 telah menyatakan Penyu Laut masuk dalam Red List of Threatened Species (Daftar Merah Spesies yang Terancam). Sebagai spesies yang daur hidupnya secara alamiah sudah rentan, kelangsungan populasi Penyu Laut makin terancam dengan meningkatnya aktivitas manusia. Aktivitas-aktivitas tersebut mencakup hancurnya habitat dan tempat penyu bertelur, tangkapan sampingan (bycatch), perburuan telur, perdagangan ilegal produk berbahan dasar penyu, dan berbagai eksploitasi yang membahayakan lingkungan. Hancurnya habitat penyu akan secara langsung membahayakan kelestarian Sang Ambasador Laut ini.

© WWF/JŰrgen Freund Enlarge
Salah satu potensi wisata bawah laut Kabupaten Berau
© WWF-Indonesia / Cipto A GUNAWAN Enlarge
© WWF / Jürgen Freund Enlarge
Penyamaran lokasi peteluran dari predator
© WWF-Indonesia/Aulia RAHMAN Enlarge
Penyu Hijau
Penyu Hijau
© Simon BUXTON/WWF Enlarge

Comments

blog comments powered by Disqus