Tiga City Champions Earth Hour Bagi Program di Green School Bali | WWF Indonesia

Tiga City Champions Earth Hour Bagi Program di Green School Bali



Posted on 28 June 2014   |  
-
-
© WWF-Indonesia/Nefa D. FIRMAN
 Oleh: Nefa D. Firman
 
Tiga City Champions Earth Hour Indonesia ikut ambil bagian dalam “Sustainability & Conservation Weekend” di Green School, Bali, pada 14 dan 15 Juni 2014 lalu. Acara ini terdiri dari workshop, diskusi panel, nonton bareng, dan ditutup dengan sesi kuliah khusus oleh Dr. Jane Goodall. Kegiatan yang pertama kali dilakukan di Green School ini diselenggarakan dalam rangkaian penyambutan para lulusan angkatan kedua Green School serta penggalangan dana bagi gerakan “Bye Bye Plastic Bags” dan “Roots and Shoot”. Ika Juliana (20) dari Denpasar, Felix Krisnugraha (29) dari Jogjakarta, dan Sarah Shabrina (20) dari Bandung, mendapat kesempatan berbagi pengalaman dan programnya di depan keluarga besar sekolah internasional dengan pendekatan alam yang unik tersebut. 
 
Pada hari pertama, para City Champions mengajak adik-adik usia SD hingga SMP mengolah sampah dalam upcycling workshop. Tema kegiatan hari itu adalah “Festival Plastik Tidak Fantastik” yang diusung oleh dua pelajar Green School, Isabel (11) dan Melati (13) dalam gerakan “Bye Bye Plastic Bag”. Sesi upcycle yang dimentori oleh Dwik, Yudha, dan Burju dari Earth Hour Denpasar dibanjiri oleh pelajar yang ingin membuat tas dari kaos bekas dan karya seni dari gulungan tisu bekas. Bertempat di gym terbuka Green School, tidak kurang dari 40 anak dengan tekun mengolah barang bekas selama kurang lebih 3 jam. “Senang melihat antusiasme pengunjungnya, khususnya adik-adik yang sudah peduli lingkungan sejak usia muda ini,” ujar Ika. 
 
Pada hari kedua, para City Champions bersama puluhan panelis lain berbagi pengalaman dan berdiskusi tentang berbagai isu lingkungan, mulai dari konservasi laut, pengolahan limbah yang bertanggung jawab, hingga upaya pemberdayaan masyarakat untuk pelestarian alam. Saat itu, Felix berkesempatan menyampaikan program adopsi pohon “Baby Tree Friends” yang melibatkan masyarakat lokal di Jogjakarta, Ika berbagi tentang program “Birukan Laut”, sebuah program adopsi karang di Denpasar yang dilaksanakan sejak 2013, sementara Sarah memaparkan program pengolahan minyak jelantah yang sedang dikerjakan oleh Earth Hour Bandung. 
 
Felix mengaku sempat berkecil hati sebelum sesi berbagi karena mengetahui panelis lain memiliki beragam program yang dinilainya luar biasa. “Tapi setelah dipikir-pikir, tidak ada gunanya merasa ciut. Kami sama-sama menjalankan program sesuai kebutuhan dan kondisi lingkungan masyarakat di tempat kami tinggal,” tutur pria yang berprofesi sebagai penyiar radio ini. Setiap sesi berbagi diikuti oleh 4-5 panelis yang notabene ahli di bidang konservasi dan kebanyakan warga negara asing. Panel berjalan santai dengan dihadiri 30-40 orang dan disampaikan dalam Bahasa Inggris. Tanggapan dari hadirin dan panelis dalam sesi diskusi sangat dinamis. “Sampai-sampai ada yang minta diajarkan bikin biofuel. Tapi karena peralatan dan waktunya kurang memadai, kami lanjutkan diskusinya setelah panel berakhir,” cerita Sarah bersemangat. 
 
Para City Champions juga mengisi waktunya dengan berkeliling area Green School yang seluruhnya dibuat dari bambu dan banyak memanfaatkan barang-barang bekas. “Sebelumnya sekadar tahu namanya dari Nadya Hutagalung, dan tahu bahwa sekolah ini sangat ramah lingkungan,” ujar Felix. Ketiga City Champions mengaku terpesona oleh konsep sekolah yang terbuka tanpa dinding, melakukan segregasi sampah, menggunakan panel solar, serta melakukan pengolahan limbah secara mandiri. Mereka juga mengapresiasi segala fasilitas sekolah yang berada di kawasan pedesaan nan asri dan jauh dari hiruk pikuk kota itu. 
 
“Keren dan unik banget! Ruang-ruang kelasnya terbuka dan berhadapan langsung dengan alam,” ujar Sarah. Galon air minum dapat ditemukan dengan mudah dan hampir semua orang membawa wadah air minumnya masing-masing. “Walaupun sebagian besar yang bersekolah adalah warga negara asing, tapi mereka tetap menyapa guru-gurunya dengan ‘Bapak’ dan ‘Ibu’. Saya juga jarang melihat orang sibuk dengan gadget. Semuanya berkomunikasi langsung.”
 
“Baru pertama kali ini saya masuk toilet dengan 2 koslet. Ternyata fungsinya beda, yaitu satu untuk buang air kecil dan lainnya untuk buang air besar. Semua buangan lantas diolah menjadi kompos,” tutur Ika. “Selain itu, sekolah juga menggunakan panas matahari untuk listrik dan memanfaatkan lahan yang ada untuk media bercocok tanam bagi murid-murid.”
 
Sesi yang paling dikenang oleh ketiga City Champions serta pengunjung lainnya adalah kuliah umum oleh Dr. Jane Goodall, seorang Etolog legendaris yang juga utusan perdamaian PBB. Meskipun langit mulai memerah saat kuliah umum hendak dimulai, tak memupuskan animo ratusan pengunjung untuk duduk beralas tikar di bawah tenda bambu raksasa setinggi 18 meter dengan atap gonjong mirip Rumah Gadang Minangkabau, siap menyimak materi berjudul “Where the Hope Lies”. Dengan suara khas, Dr. Goodall memulai sesi dengan cerita inspiratif mengenai masa kecilnya yang penuh pertanyaan tentang alam dan satwa. Ia mendapat dukungan dari ibunya untuk memulai petualangannya meneliti perilaku satwa khususnya simpanse di Afrika sejak 1960. Hasil penelitiannya tersebut menjadi dasar untuk penelitian primata hingga kini. Dalam kuliahnya, Dr. Goodall memotivasi hadirin khususnya para pelajar untuk menjadi utusan masa depan yang sadar lingkungan dengan berinisiatif menciptakan hubungan yang harmonis antara alam dan manusia. 
 
Pengalaman berbagi di Green School dan menyimak kuliah umum Dr. Goodall meninggalkan kenangan serta motivasi yang tak ternilai bagi ketiga City Champions. “Luar biasa! Materi yang beliau bawakan sangat inspiratif dan menyentuh,” kenang Felix. “Ternyata banyak sahabat kita yang peduli dengan lingkungan. Inilah yang membuat saya yakin bahwa kita masih bisa menciptakan masa depan yang lebih hijau,” pungkasnya.
-
-
© WWF-Indonesia/Nefa D. FIRMAN Enlarge
-
-
© WWF-Indonesia/Nefa D. FIRMAN Enlarge
-
-
© WWF-Indonesia/Nefa D. FIRMAN Enlarge
-
-
© WWF-Indonesia/Nefa D. FIRMAN Enlarge
-
-
© WWF-Indonesia/Nefa D. FIRMAN Enlarge
-
-
© WWF-Indonesia/Nefa D. FIRMAN Enlarge

Comments

blog comments powered by Disqus