Memantau Hiu Paus, Kini Ada Panduannya! | WWF Indonesia

Memantau Hiu Paus, Kini Ada Panduannya!



Posted on 29 August 2014   |  
Hiu paus (Rhincodon typus)
© Javier Ordóñez / WWF
Jakarta – Sehubungan dengan perayaan Hari Hiu Paus Internasional (International Whale Shark Day) yang jatuh tiap tanggal 30 Agustus, hari ini (29/8), WWF-Indonesia bersama dengan Balai Besar Taman Nasional Teluk Cendrawasih (BBTNTC) meluncurkan buku “Panduan Teknis Pemantauan Hiu Paus di Taman Nasional Teluk Cenderawasih” di Restoran Bumbu Desa, Cikini. Peluncuran buku panduan ini juga dihadiri oleh Direktorat Konservasi Kawasan dan Jenis Ikan (KKJI) Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Hiu paus (Rhincodon typus) dapat ditemukan di hampir semua wilayah Indonesia seperti di perairan Sabang, Pantai Utara Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara, Alor, Flores, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua. Oleh karena itu, peluang bagi masyarakat untuk bertemu ikan terbesar di dunia ini cukup besar dan dapat dimanfaatkan untuk penelitian.

Panduan teknis ini dapat digunakan oleh individu atau lembaga untuk mendata hiu paus yang dapat ditemukan sewaktu-waktu di lokasi yang beragam, dimana belum tentu ada kehadiran seorang ahli spesies saat peristiwa berlangsung. Data yang dikumpulkan tersebut dapat dikirim kepada tim peneliti untuk dianalisis. “WWF berharap dengan adanya panduan ini, masyarakat dapat berkontribusi dalam penelitian dan upaya konservasi hiu paus,” kata Casandra Tania, Marine Species Officer WWF-Indonesia.

Hiu paus merupakan satwa yang dilindungi di Indonesia, sesuai dengan KEPMEN KP No. 18 Tahun 2013 Tentang Penetapan Status Perlindungan Penuh Ikan Hiu Paus. Meskipun sudah dilindungi, penelitian hiu paus masih belum banyak dilakukan. Padahal, dengan mengenali satwa, baik perilaku biologis maupun habitatnya, adalah salah satu cara untuk memastikan upaya perlindungannya berjalan efektif dan efisien.

“Keterlibatan banyak pihak, termasuk masyarakat, juga merupakan kunci keberhasilan konservasi hiu paus, mengingat ikan terbesar di dunia ini merupakan jenis ikan yang wilayah migrasinya mencakup area yang luas, tidak hanya di perairan indonesia tetapi juga lintas negara. Hal ini terbukti dengan banyak ditemukannya kasus hiu paus yang terdampar dan tertangkap jaring nelayan,” ujar Agus Darmawan, Direktur KKJI KKP.

Dari hasil pemantauan yang dilakukan oleh WWF-Indonesia bersama dengan BBTNTC, Hubbs-SeaWorld Research Institute (HSWRI), IPB dan Universitas Negeri Papua (UNIPA), sejak 2011 di Kwatisore, TNTC, terdapat lebih dari 100 individu hiu paus yang sudah teridentifikasi. Menurut Ben G. Saroy, Kepala BBTNTC, “Hasil studi dan pemantauan menunjukkan bahwa kawasan TNTC, khususnya Kwatisore, merupakan salah satu habitat penting hiu paus yang harus menjadi prioritas konservasi di Indonesia dan dunia. Selain itu, Kwatisore memiliki nilai lebih sebagai lokasi untuk berinteraksi dengan hiu paus. Selain karena hiu paus dapat ditemui sepanjang tahun di lokasi ini, waktu interaksi dapat mencapai 1 jam dengan air sejernih kristal. Ini merupakan atraksi wisata potensial yang dapat dikembangkan kedepannya.”

Penelitian hiu paus di Kwatisore dilakukan dengan penandaan satelit untuk memetakan pergerakan satwa, identifikasi foto, penandaan radio, serta studi genetika menggunakan pendekatan DNA mitokondria dan mikrosatelit. Data yang terkumpul dari penelitian ini berhasil disusun menjadi sebuah panduan teknis pemantauan hiu paus di TNTC, yang diharapkan akan menjadi referensi dalam penyusunan Pedoman Monitoring Hiu Paus di Indonesia oleh Direktorat KKJI.

Informasi lebih lanjut, silakan hubungi:
Casandra Tania, Marine Species Officer, WWF-Indonesia
Email: ctania@wwf.or.id, Hp: +62 811 8898075+62 811 8898075
Hiu paus (Rhincodon typus)
© Javier Ordóñez / WWF Enlarge
Tim WWF Indonesia, BBTNTC dan KKJI bersama meluncurkan panduan pemantauan hiu paus
© Novita Eka Syaputri / WWF-Indonesia Enlarge
BMP Pemantauan Hiu Paus
© WWF-Indonesia Enlarge

Comments

blog comments powered by Disqus