WWF Dukung Penuntasan Kasus Perburuan Gajah | WWF Indonesia

WWF Dukung Penuntasan Kasus Perburuan Gajah



Posted on 25 February 2015   |  
Barang bukti tersangka
Barang bukti tersangka
© detik.com

Jakarta - WWF mengapresiasi keberhasilan Kepolisian Daerah (Polda) Riau dalam menangkap pemburu Gajah pada 10 Februari lalu. Seperti diberitakan, Polda Riau berhasil menangkap delapan pemburu gajah yang tertangkap tangan dengan barang bukti satu pasang gading gajah utuh dengan berat total sekitar 40 kilogram beserta sejumlah peralatan yang digunakan pelaku untuk berburu, antara lain senjata api rakitan laras panjang jenis mauser, lengkap dengan enam peluru kaliber 7,62 milimeter.

Keterangan yang didapat dari pemburu, lokasi tempat pengambilan gading ini berasal dari Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis,Riau. Selain itu, dikabarkan, pelaku dan jaringannya juga mengaku telah melakukan pembunuhan gajah di beberapa lokasi lain termasuk di sekitar kawasan Tesso Nilo, Riau, dan sekitar Bukit Tigapuluh, Jambi. 

Sunarto, Ahli Spesies WWF Indonesia mengatakan “Dari ukuran gadingnya, kami meyakini ini merupakan salah satu individu terbesar dari sangat sedikit gajah jantan dewasa yang tersisa di kantong populasi Balai Raja atau Giam Siak Kecil”.  Kedua kantong populasi gajah itu merupakan harapan terakhir bagi konservasi satwa tersebut di Riau Utara, mengingat kantong-kantong populasi lain kondisinya sudah lebih kritis.  “Pembunuhan terhadap gajah jantan dewasa yang jumlahnya sudah sangat sedikit itu akan secara signifikan menekan populasi dan mempercepat kepunahan satwa yang memiliki kecerdasan tinggi dan sifat sosial yang sangat maju ini”, tambah Sunarto.

Catatan WWF Indonesia menunjukkan sedikitnya 145 individu gajah mati di Sumatera sejak tahun 2004, baik karena konflik atau perburuan.  Dari beberapa kasus dalam tiga tahun terakhir, terindikasi kuat adanya pelaku perburuan profesional yang telah beroperasi di Lampung hingga Aceh dengan modus yang sangat mirip. Dari sekian banyak kasus, hanya segelintir kasus kematian gajah yang berhasil diajukan ke persidangan, yakni satu kasus di Aceh pada tahun lalu, dan kasus di Riau pada Agustus 2005. Kasus di Riau pada tahun 2005  diajukan berkat penangkapan pelaku oleh Kepolisian Resort Rokan Hulu yang melibatkan perburuan gading oleh pelaku yang berasal dari Bengkulu satu pelaku  dijatuhi hukuman 12,5 tahun penjara.

“Hasil yang dicapai POLDA Riau ini merupakan momentum yang harus dipergunakan untuk mengungkap kasus-kasus pembunuhan gajah lainnya baik di Riau maupun daerah lainnya di Sumatera dan jaringan perdagangan gading  yang lebih luas,” ungkap Arnold Sitompul, Direktur Konservasi WWF Indonesia. Lanjut Arnold, ”Penting untuk memastikan  penangkapan pelaku perburuan gading ini  dapat dibawa ke proses persidangan dan dijatuhi hukuman  maksimal. Lemahnya penegakan hukum terhadap kematian gajah selama ini menjadi penyebab terus berulangnya kasus pembunuhan gajah.”

Krismanko Padang, Ketua Forum Konservasi Gajah Indonesia menyatakan, ”Melihat beberapa kasus kematian gajah karena perburuan dilakukan dengan menggunakan senjata api, kami berharap Kepolisian  dapat meningkatkan pengawasan dalam kepemilikan senjata api”. Selain itu, selain dengan undang-undang konservasi sumber daya alam, Krismanko juga berharap agar polisi dapat menjerat pelaku dengan undang-undang terkait kepemilikan senjata api dengan ancaman hukuman seumur hidup.

Beberapa kasus perburuan selama ini terjadi di areal hutan tanaman industri, dan sebagian besar gajah yang mati ditemukan di dalam kawasan tersebut juga. Arnold kembali menambahkan, “Ini membuktikan bahwa upaya yang dilakukan pemegang konsesi masih belum cukup dan partisipasi aktif mereka perlu ditingkatkan. Pemerintah hendaknya dapat mengawasi dan memastikan penjagaan yang memadai oleh pemegang konsesi terhadap berbagai kegiatan illegal seperti perburuan di dalam kawasan yang menjadi tanggung jawab mereka”.
 
                                                           --0--


Untuk informasi lebih lanjut:
Sunarto, Tiger & Elephant Specialist, WWF-Indonesia, sunarto@wwf.or.id, +62-811-9950-251
Catatan untuk Editor:

1. Kasus lain kematian gajah yang saat ini masih dalam proses penyelidikan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau adalah kasus kematian gajah yang terjadi pada Juni 2014  di konsesi RAPP yang tumpang tindih dengan TN Tesso Nilo. Menurut hasil olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) yang dilakukan oleh BKSDA, Kepolisian dan WWF ada indikasi kuat penggunaan senjata api. Pada tengkorak  kepala terdapat empat lubang yang diduga kuat akibat tembakan senjata api. Keempat lubang seluruhnya berada di kepala bagian kiri, satu di bagian pelipis, tiga di rongga pipi dengan jarak yang berdekatan.  Gading gajah diduga diambil secara paksa dengan menggunakan benda tajam. Potongan belalai juga terlihat dibuang tak jauh dari bangkai gajah.

2.  Para pelaku perburuan satwa liar yang dilindungi  dapat dijerat dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990, tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dengan ancaman hukuman lima tahun penjara, dan denda Rp. 200 juta.

Tentang WWF-Indonesia
WWF-Indonesia adalah organisasi konservasi nasional yang mandiri dan merupakan bagian dari jaringan global WWF. Mulai bekerja di Indonesia pada tahun 1962 dengan penelitian Badak Jawa di Ujung Kulon, WWF-Indonesia saat ini bergiat di 28 wilayah kerja lapangan di 17 propinsi, mulai dari Aceh hingga Papua. Didukung oleh sekitar 500 staff, WWF-Indonesia bekerja bersama pemerintah, masyarakat lokal, swasta, LSM, masyarakat madani, dan publik luas. Sejak 2006 hingga 2013, WWF Indonesia didukung oleh sekitar 64.000 supporter di dalam negeri. Kunjungi www.wwf.or.id.
 

Barang bukti tersangka
Barang bukti tersangka
© detik.com Enlarge

Comments

blog comments powered by Disqus