Menjaga Harimau, Menjaga Ekosistem Hutan yang Sehat | WWF Indonesia

Menjaga Harimau, Menjaga Ekosistem Hutan yang Sehat



Posted on 28 July 2015   |  
Harimau Sumatera
© WWF Indonesia
Oleh: Natalia Trita Agnika
Ketika hampir kehilangan sesuatu, biasanya kita baru tersadar akan nilai penting hal tersebut dalam kehidupan kita. Kondisi ini juga terjadi pada eksistensi harimau di alam bebas yang oleh para peneliti dinyatakan sudah mendekati tahap kepunahan. Pada awal 1900-an, jumlah harimau di dunia berkisar 100.000 individu. Kini, populasinya tersisa 3.000 individu di alam bebas (sumber: tigerday.org). Sedangkan di Indonesia, populasi Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) kurang dari 400 individu. Indonesia dulunya memiliki tiga spesies harimau (Harimau Bali, Harimau Jawa, dan Harimau Sumatera); kini hanya Harimau Sumatera yang masih dapat ditemui di habitat aslinya. Harimau Jawa dan Harimau Bali telah punah.

Dalam dongeng dan cerita anak-anak, harimau digambarkan sebagai satwa pemimpin yang perkasa, sang “Raja Hutan”. Posisinya sebagai predator puncak di ekosistem hutan membuatnya terlihat mengintimidasi. Namun, posisinya tersebut sesungguhnya menjadi indikator penting mengenai kondisi kesehatan ekosistem hutan. Keberadaan harimau secara tak langsung menginformasikan ketersediaan sumber air yang cukup bagi seluruh makhluk hidup di kawasan tersebut. Satwa kharismatik ini juga berperan mengendalikan tingkah-laku dan populasi herbivora.

Jika sang “Raja Hutan” punah, maka hutan kehilangan jiwanya. Bahkan sebuah studi menjelaskan bahwa hilangnya predator puncak dari sebuah ekosistem akan menimbulkan “trophic cascade”; sebuah fenomena berubahnya struktur ekosistem melalui perubahan rantai makanan akibat perubahan populasi predator (sumber: britannica.com). Gambaran efek hilangnya predator puncak terlihat pada hilangnya keberadaan serigala di Amerika Utara bagian timur. Peristiwa tersebut menyebabkan meningkatnya populasi rusa yang kemudian mengurangi populasi tanaman.

Karena itulah, kegiatan konservasi harimau dapat membantu menjaga struktur dan proses di ekosistem tempat tinggal predator puncak tersebut. Demi membangun kesadaran akan penyelamatan dan pemulihan jumlah harimau di dunia yang hampir punah, dunia memperingati International Tiger Day pada 29 Juli setiap tahunnya. Tujuannya tak lain untuk melindungi dan menambah habitat harimau di alam liar melalui upaya konservasi harimau.

Dewasa ini habitat harimau makin terusik oleh aktivitas manusia. Penebangan pohon dan pembukaan hutan untuk berbagai kepentingan, membuat keberadaan harimau makin terdesak. Jumlah populasi harimau bisa jadi makin berkurang karena sejumlah negara belum melakukan sensus atas populasi harimau di negaranya. Oleh karena itu, seraya memperingati International Tiger Day 2015 publik diingatkan kembali pada kritisnya jumlah populasi harimau di alam bebas. Terlebih Harimau Sumatera, salah satu spesies harimau yang tersisa, berada di alam Indonesia. Bergabunglah bersama upaya menyelamatkan Harimau Sumatera dengan menjadi seorang Tiger Warrior di program "WWF Warrior”. Menjaga harimau berarti ikut menjaga ekosistem hutan yang sehat.
 
Harimau Sumatera
© WWF Indonesia Enlarge
Harimau yang tertangkap kamera di TNBBS
© WWF-Indonesia Enlarge
Tiga anak harimau Sumatera
Tiga anak harimau Sumatera
© WWF/Alain Compost Enlarge

Comments

blog comments powered by Disqus