Pulau Nai, Lokasi Strategis Perbaikan Praktik Budi daya Rumput Laut Kotoni | WWF Indonesia

Pulau Nai, Lokasi Strategis Perbaikan Praktik Budi daya Rumput Laut Kotoni



Posted on 10 September 2015   |  
Pembudidaya rumput laut
© WWF-Indonesia / Faridz Rizal Fachri
Oleh Faridz Rizal Fachri
Pulau Nai merupakan salah satu pulau dari gugus Kepulauan Kei Kecil di Kabupaten Maluku Tenggara. Lokasi pulau yang terletak paling dekat dengan zona inti kawasan konservasi Taman Pulau Kecil (TPK) Kei Kecil ini  banyak ditemui kawasan budi daya rumput laut jenis kotoni (Kappaphycus alvarezii) yang menyebar hingga bagian utara Pulau Hoat.
 
Proses budi daya di Pulau Nai dapat dilakukan sepanjang musim, termasuk musim barat dan musim timur. Produksi budi daya rumput laut Kotoni di Pulau Nai dengan total pembudi daya sebanyak 71 KK dapat mencapai 272,64 ton/tahun atau setara dengan 3,3 persen total produksi rumput laut Kabupaten Maluku Tenggara pada tahun 2014. Dengan memiliki potensi budi daya, lokasi strategis dekat dengan zona inti, serta memiliki komunitas, Pulau Nai  memiliki daya tawar kuat untuk dijadikan lokasi  proses pendampingan Aquaculture Improvement Program (AIP) bagi komoditas rumput laut kotoni.
 
Pelaksanaan proses budi daya di Pulau Nai ini dilakukan oleh kelompok-kelompok pembudi daya yang dibentuk oleh Dinas Kelautan Perikanan (DKP) Maluku Tenggara. Kelompok ini diharapkan mendapatkan pendampingan dan pengembangan kapasitas sesuai dengan aplikasi AIP untuk komoditas rumput laut kotoni. (Baca Juga: Seluk Beluk Budi Daya)
 
AIP, Perbaikan Praktik Budi daya
 
Pada tahun 2013, WWF-Indonesia mendirikan JARING Nusantara (JARNUS), yang bertujuan untuk mendampingi produsen di tingkat nelayan dan pembudi daya dalam melakukan praktik-praktik terbaik penangkapan dan pengembangbiakan produk makanan laut, termasuk rumput laut kotoni. Langkah-langkah pendampingan tersebut diantaranya bekerjasama dengan DKP, kelompok pembudi daya yang telah terbentuk secara resmi, dan lembaga JARNUS lainnya. Implementasi AIP dan pengembangan community enterprise akan menjadi fokus pendampingan kedepannya. (Baca Juga: Meneruskan Keahlian Cemilan dari Rumput Laut Khas Alor)
 
Berbagai aspek terus diupayakan untuk mencapai perbaikan praktik budi daya rumput laut, seperti pelaksanaan audit manual, penyusunan rencana kerja AIP; penerapan Better Management Practice (BMP); pencatatan data (log book) produksi rumput laut; penyusunan kurikulum untuk peningkatan kapasitas, pengaktifan, dan pengorganisasian kelompok; serta pengembangan bisnis rumput laut itu sendiri. Upaya-upaya tersebut dilakukan sejalan dengan misi konservasi TPK-Kei Kecil terkait pengelolaan sumber daya laut dan pesisir yang berkelanjutan.
 
Unduh juga panduan praktik budi daya rumput laut di sini
Pembudidaya rumput laut
© WWF-Indonesia / Faridz Rizal Fachri Enlarge
Landscape Pulau Nai
© WWF-Indonesia / Faridz Rizal Fachri Enlarge
Peta Budidaya TPK Malra
© WWF-Indonesia Enlarge

Comments

blog comments powered by Disqus