Peringatan Hari Badak Sedunia WWF: Badak Indonesia Kritis, Perlu Segera Habitat Baru | WWF Indonesia

Peringatan Hari Badak Sedunia WWF: Badak Indonesia Kritis, Perlu Segera Habitat Baru



Posted on 20 September 2015   |  
WWF-Indonesia/Badak Jawa
© WWF-Indonesia/Badak Jawa
JAKARTA–  WWF di Indonesia telah ikut serta dalam konservasi badak sejak tahun 1962 yang dimulai dengan penelitian tentang Badak Jawa di Ujung Kulon. Setelah melipat gandanya populasi Badak Jawa di Ujung Kulon antara tahun 1967 – 1978, WWF Indonesia bersama Balai Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) dan lembaga konservasi lainnya terus berupaya menjaga stabilitas dan meningkatkan populasi Badak Jawa, studi populasi dan habitat, memfasilitasi upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat di sekitar Ujung Kulon, serta meningkatkan partisipasi dan kesadaran masyarakat dalam perlindungan dan pelestarian badak. Partisipasi masyarakat ini diperlukan untuk mencegah terjadinya perburuan badak dan perusakan habitatnya.

Populasi Badak Jawa di Taman Nasional Ujung Kulon saat ini jumlahnya mencapai 60 individu. Integritas habitatnya bersaing dengan pertumbuhan masif  langkap (Arenga obtusifolia), sejenis tanaman palem yang menghalangi sinar matahari menembus bagian bawah hutan, menyebabkan tidak tumbuhnya pakan alami badak. Ini  merupakan salah satu ancaman serius, selain bencana alam, bagi keberlangsungan populasi Badak Jawa yang hanya tertinggal di Indonesia.

“Badak Jawa harus segera dicarikan “rumah baru” sebagai habitat keduanya selain di Ujung Kulon. Ini adalah langkah mitigasi yang diperlukan untuk menjamin kelangsungan populasi Badak Jawa di dunia,” kata Dr. Arnold Sitompul, Direktur Konservasi WWF Indonesia. “Kondisi habitat badak Jawa di TNUK sangat rentan oleh bencana alam, karena lokasinya yang dekat Gunung Krakatau. Jika suatu saat meletus dan menghancurkan habitat Badak Jawa, maka kita akan kehilangan salah satu aset keanekaragaman hayati Indonesia,” tambah Arnold.

Badak Sumatera pun tak kalah pentingnya membutuhkan upaya penyelamatan segera. Kebakaran lahan, ekspansi lahan perkebunan, penebangan ilegal dan perburuan menjadi isu utama pelestarian badak di Sumatera. Perlu langkah-langkah konkrit dari Pemerintah Indonesia untuk segera menyelamatkan Badak Sumatera.
 
Dari sembilan kantung populasi Badak Sumatera di Sumatera dan Kalimantan, hanya tersisa empat kantong saja. Hasil studi terakhir menunjukkan sudah terjadi kepunahan lokal, seperti di   Taman Nasional Kerinci Seblat, yang sejak tahun 2008 sudah tidak lagi ditemukan Badak Sumatera. Data terakhir berdasarkan Population and Habitat Viability Assessment (PHVA; 2015) melansir populasi Badak Sumatera (Dicerorinus sumatrensis) diperkirakan tersisa sekitar 100 individu, yang hidup di  kawasan-kawasan Taman Nasional Gunung Leuser, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan dan Taman Nasional Way Kambas dan satu kantung populasi yang baru teridentifikasi pada  tahun 2013 di Kalimantan Timur.

Temuan keberadaan Badak Sumatera di Kalimantan membawa angin segar. Padahal Badak Sumatera di Kalimantan dipercaya sudah punah, dan ini menjadi harapan di tengah prediksi mengenai menurunnya angka populasi badak di dunia. WWF Indonesia bersama Sekretariat Bersama Badak Indonesia sedang meneliti lebih lanjut untuk mengetahui jumlah populasi dan keberadaannya, agar dapat diupayakan langkah-langkah penyelamatan yang tepat untuk menjaga dan mengembangkan populasi Badak Sumatera di Kalimantan.

Untuk memperingati Hari Badak Internasional (World Rhino Day) 22 September mendatang, WWF Indonesia bekerjasama dengan beberapa lembaga mengadakan serangkaian acara, di Aceh, Lampung, Ujung Kulon, Jakarta dan Kutai Barat. Melalui acara-acara ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan kepedulian masyarakat akan nasib badak di Indonesia.

Catatan untuk Editor:
  1. Di Jakarta acara World Rhino day (22 September) akan diadakan di Loop Station, Diskusi Fotografi yang bekerjasama dengan National Geographic Indonesia dan Universitas Nasional. Akan hadir para pakar fotografi satwa liar, antara lain Stephen Belchar warga New Zealand yang berhasil memotret langsung Badak Jawa di alam liar.
  2. Lomba menulis untuk para blogger bekerjasama dengan CeritaAnda.Viva.co.id , yang akan berakhir 30 September..
  3. Di Aceh, akan diselenggarakan Global March for Rhino and Elephant, pada tanggal 3 Oktober, street campaign bersama komunitas Earth Hour Banda Aceh dan kunjungan ke sekolah-sekolah.
  4. Di Ujung Kulon, dilangsungkan kunjungan ke sekolah-sekolah, pembuatan infografis oleh siswa-siswa sekolah dan lomba penulisan tentang badak Jawa bagi jurnalis di seputar Banten, Jawa Barat.
  5. Di Lampung akan diadakan street campaign pada tanggal 19 September.
  6. Di Kutai Barat, diadakan kunjungan ke Sekolah-sekolah, dan juga lomba foto habitat Badak tanggal 18-27 September.
  7. Di Balikpapan, akan ada diskusi pakar tentang upaya-upaya konservasi Badak Sumatera di Kalimantan pada tanggal 21-22 September di Hotel Gran Senyiur.
Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi:
 
Yuyun Kurniawan, Project Leader Ujung Kulon National Rhino Conservation Coordinator, WWF-Indonesia: Email: ykurniawan@wwf.or.id, Hp: 0811-122-0066
 
Diah R. Sulistiowati, Forest and Species Campaign Coordinator, WWF-Indonesia
Email : dsulistiowati@wwf.or.id,  Hp: 0811-100-4397

Comments

blog comments powered by Disqus