#xpdckeikecil: Fenomena ‘Meti Kei’ | WWF Indonesia

#xpdckeikecil: Fenomena ‘Meti Kei’



Posted on 12 October 2015   |  
Kondisi 'Meti Kei' di siang hari di Desa Ohoidertawun
© Noverica Widjojo
Oleh: Ayu Ginanjar Syukur (Responsible Marine Tourism Staff, WWF-Indonesia)

Hal menarik di penyelaman hari pertama dan kedua bagi tim B yaitu fenomena ‘Meti Kei’ yang mengakibatkan kami harus berangkat tepat waktu, kembali ke penginapan untuk istirahat makan siang sedikit lebih lama, dan kapal juga harus berhati-hati agar tidak terjebak di antara terumbu karang. 

Sebenarnya apa itu ‘Meti Kei’?

Fenomena ‘Meti Kei’ adalah kondisi surut terendah laut dalam setahun. “’Meti Kei’ sudah menjadi istilah umum di daerah Indonesia Bagian Timur. Padahal, surut terendah yang paling besar terjadi di Aru. Namun karena orang-orang di Kei lebih dahulu mempopulerkan istilah ini, maka disebut ‘Meti Kei’, bukan ‘Meti Aru’. Bahkan karena begitu terkenalnya, istilah ini juga dipakai untuk menggambarkan kondisi keuangan yang sedang menipis,” ungkap Om Noke.

‘Meti Kei’ berlangsung di perairan Kei kurang lebih selama dua bulan per tahun, yaitu Oktober-November. Saat ‘Meti Kei’ – yang umumnya terjadi dalam beberapa jam dalam sehari – banyak hal yang menarik perhatian saya. Mulai dari luas pantai yang bertambah hingga 500-700 m ke arah laut; beberapa pulau tersambung akibat surutnya air laut; masyarakat intertidal surut turun mengambil sumber daya laut dan pesisir; hingga munculnya gundukan-gundukan terumbu karang di permukaan, seperti yang terjadi di Pulau Ohoiwa dan Desa Tetoat. 

Sebagai seorang peneliti terumbu karang, kesan pertama saya pribadi melihat munculnya gundukan terumbu karang di atas permukaan merupakan hal yang sangat menarik, karena kita tidak perlu turun ke bawah laut untuk melihat terumbu karang. Meski terlihat indah dari atas air laut, namun terumbu karang yang terekspos oleh sinar matahari memiliki dampak positif dan negatif. “Kelebihan dari karang yang sering terekspos cahaya matahari adalah karang menjadi lebih resisten atau kuat terhadap perubahan lingkungan dibandingkan dengan karang yang sedikit mendapat cahaya. Sehingga, apabila terjadi perubahan suhu permukaan air laut karena pemanasan global karang yang sering terekspos ini sudah terbiasa dan tidak mudah mati. Sementara, dampak negatif yang paling mudah terlihat adalah beberapa terumbu karang sudah mengalami stres dengan menunjukkan tanda-tanda memutih (bleaching). Selain itu, karang menjadi lebih mudah patah karena manusia dapat berjalan di atasnya,” ungkap Iqbal. “Oleh karena itu, apabila suatu daerah mengalami ‘Meti Kei’, maka daerah tersebut harus lebih diawasi sehingga aktivitas-aktivitas manusia tidak menambah tekanan terhadap ekosistem terumbu karang yang terekspos,” lanjutnya.

Kami sangat beruntung sudah diinformasikan terlebih dahulu oleh masyarakat setempat mengenai waktu terjadinya ‘Meti Kei’, sehingga kami tidak perlu mendorong kapal, dan pastinya, baik kami maupun kapal tidak perlu merusak terumbu karang untuk mencapai tubir. 

Sebelumnya
Kondisi 'Meti Kei' di siang hari di Desa Ohoidertawun
© Noverica Widjojo Enlarge
'Meti Kei' di Desa Ohoidertawun menjelang matahari terbenam
© Noverica Widjojo Enlarge

Comments

blog comments powered by Disqus