Call for Papers: Simposium Perdana ”Dugong dan Habitat Lamun” di Indonesia | WWF Indonesia

Call for Papers: Simposium Perdana ”Dugong dan Habitat Lamun” di Indonesia



Posted on 01 March 2016   |  
© WWF-Indonesia
Oleh: Casandra Tania (Marine Species Officer, WWF-Indonesia) dan Dwi Suprapti (Marine Species Conservation Coordinator, WWF-Indonesia)
Dugong (Dugong dugon) atau biasa dikenal dengan nama Duyung merupakan satu dari 35 jenis Mamalia laut yang dijumpai tersebar di perairan Indonesia, khususnya di habitat padang lamun. Meskipun bertubuh besar dengan bobot mencapai 600 kg, namun satwa laut menyusui ini memiliki perilaku yang ramah dan hidup berasosiasi secara khusus dengan ekosistem lamun sebagai habitat pakannya.
 
Dugong memiliki ancaman kehidupan yang begitu komplek. Secara alami dugong memiliki reproduksi yang lambat, dimana membutuhkan waktu 10 tahun untuk menjadi dewasa dan memerlukan waktu 14 bulan untuk melahirkan satu individu baru pada interval 2,5 - 5 tahun. Ancaman lainnya yaitu tertangkapnya dugong secara tidak sengaja oleh alat tangkap perikanan (bycatch), perburuan masif untuk pemanfaatan daging, taring serta air mata dugong yang disinyalir memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi.
 
Fenomena terdampar pun tak jarang berakhir dengan kematian pada dugong, sehingga berpengaruh terhadap populasinya di alam. Selain itu, degradasi habitat dan pencemaran diduga telah menyebabkan rusaknya padang lamun sebagai habitat pakan dugong. Oleh karena itulah populasi dugong begitu terancam sehingga membutuhkan upaya perlindungan yang lebih kuat.
 
Secara Nasional dugong dilindungi melalui UU No.5 Tahun 1990 tentang konservasi sumber daya hayati dan ekosistemnya serta UU No. 31 Tahun 2004 tentang perikanan. Sedangkan secara internasional dugong telah terdaftar didalam ‘Global Red List of IUCNsebagai ‘Vulnerable to extinction’ atau rentan terhadap kepunahan dan juga telah masuk kedalam Appendix I CITES (the Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) yang  ini berarti bagian tubuh dugong tidak dapat diperdagangkan dalam bentuk apapun.
 
Mekipun secara nasional dan internasional dugong telah ditetapkan sebagai satwa yang dilindungi namun upaya konservasinya belum berjalan optimal. Minimnya data dan informasi baik terhadap Dugong maupun habitatnya, menyebabkan keterbatasan dalam aksi konservasi terkait Dugong dan lamun di Indonesia.
 
Untuk mengumpulkan informasi terkini mengenai aspek biologi, ekologi, ancaman, dan pemanfaatan dugong serta habitat lamunnya, Kementerian Kelautan dan Perikanan bersama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Institut Pertanian Bogor, dan WWF-Indonesia mengundang  akademisi, peneliti, dan praktisi untuk berkontribusi dengan mengirimkan abstrak untuk pelestarian populasi Dugong di Indonesia. Empat pemakalah terpilih akan diberangkatkan untuk menghadiri Simposium Nasional Dugong dan Habitat Lamun di Bogor pada tanggal 20-21 April 2016 mendatang. (Pendaftaran melalui: http://goo.gl/forms/xMBXKrToLc)
 
Melalui simposium ini diharapkan dapat menakar status terkini tentang populasi dan pengelolaan dugong serta habitat lamunnya, menginisiasi dan memperkuat jejaring pemerhati dugong di Indonesia, serta menyusun rekomendasi dan panduan teknis mengenai metode survei serta pemantauan terhadap populasi dugong dan habitat lamun.
 
Bagi para perumus kebijakan, akademisi, peneliti, praktisi, dan pemerhati dugong dan lamun, mari bergabung dalam kegiatan simposium ini! Penerimaan abstrak telah dibuka sampai dengan tanggal 25 Maret 2016. Jadilah bagian dalam inisiatif pelestarian populasi dugong dan habitat lamun di Indonesia.
 

Comments

blog comments powered by Disqus