Nasib Bekantan di Kalimantan | WWF Indonesia

Nasib Bekantan di Kalimantan



Posted on 05 October 2016   |  
Bekantan (Nasalis larvatus) adalah salah satu satwa endemik Kalimantan yang dapat dijumpai di Desa Melemba, selain orangutan jenis Pongo pygmaeus-pygmaeus.
© Alain Compost / WWF
Sejak zaman es mencair,Bekantan (Nasalis larvatus), primata ini terperangkap di pulau Kalimantan, primata ini berevolusi  berbeda dari primata lainnya dibumi, berhidung  mancung berbentuk seperti umbi menggantung dan berukuran panjang, juga berperut gendut, bekantan mengasup bermacam daun dan buah, didalam tubuhnya daun terfementasi menghasilkan kekebalan alami dan sumber energi.

Bekantan hidup di hutan mangrove, rawa dan daerah riparian yang menyediakan  tumbuhan pakan yang cukup bagi satwa ini. kondisi alami habitat bekantan berada daerah lahan basah seperti hutan rawa gambut, bakau, satwa ini sangat tergantung pada daerah riparian yaitu daerah  peralihan antara sungai dengan daratan, dimana wilayah ini memiliki karakter yang khas, karena adanya perpaduan lingkungan perairan, daratan dan sungai, walaupun sebagian kecil populasi bekantan ada yang hidup di hutan dipterocarpaceae dan hutan kerangas di tepi sungai (Saltar et al. 1985 dalam Bismark 1995).

Luas habitat bekantan diperkiraakan 29.500 km2, dari luas tersebut, 40% di antaranyasudahberubahfungsi dan hanya 4,1% dikawasan konservasi (McNeely 1990 dalam Bismark 1995). Primata endemik di pulau Kalimantan ini memiliki peran penting dalam mempertahankan keutuhan ekosistem khususnya daerah lahan basah.

Jumlah populasi bekantan diperkirakan pada  tahun 1986 McKinnon  menaksirkan  jumlah  populasi  bekantan  hanya 250.000   individu,   25.000  populasi diantaranya   berada   di   kawasan   konservasi. Berdasarkan  Yeager  dan  Blondal  (1992),  bekantan  yang  ada  di  kawasan konservasi  kurang  dari  5000  individu  sedangkan  habitat  bekantan  yang berada  dalam  kawasan  konservasi  hanya  4,1  persen  dari  seluruh  habitat bekantan  (McNeely  et  al.,  1990).  Pada  tahun  1994  populasi  bekantan  di Kalimantan  di duga  berjumlah  114.000  individu  (Bismark,  2009)  dan  dalam hitungan PHVA  bekantan  tahun  2004,  populasi  bekantan  diduga  tinggal 25.000 individu, dan yang berada di kawasan konservasi berjumlah sekitar 5.000 individu.

Peran Hukum dan Rencana Aksi Konservasi Belum Memadai

Musuh alami bekantan adalah macan dahan (Neofelis diardi), satwa predator ini pengontrol populasi bekantan di alam liar, musuh lainnya manusia, bekantan masih diburu di daerah tertentu di Kalimantan,  bekantan masih sering dijadikan masyarakat sebagai sumber untuk memenuhi kebutuhan protein hewani (subsisten), disamping hal lainnya dengan menjadikan daging bekantan sebagai umpan yang manjur untuk berburu labi-labi (kura – kura air tawar)  dan perburuan lainnya untuk diperdagangkan.

Musuh terbesar lainnya bagi bekantan adalah pengrusakan habitat, konversi hutan alam dan fragmentasi habitat yang di gerakan oleh kebijakan untuk pembukaan kebun tambang dan lahan  mangrove, kondisi populasi bekantan dapat punah, apabila tidak ada usaha serius perlindungan oleh Pemerintah, hal ini disebabkan semakin meningkatnya ancaman pengrusakan habitat dan maraknya perburuan, ini seperti dialami oleh satwa langka lainnya di Indonesia, perlindungan hukum bagi bekantan masih bias, walau telah ada Undang-Undang yaitu Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Alam dan ekosistem serta telah ada Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Bekantan 2013-2022 yang telah disusun oleh Pemerintah.

Tapi aksi ini lagi-lagi sulit diimplementasikan, peraturan ini  terkendala oleh sumber daya manusia dan belum menyentuh akar masalah konservasi bekantan, habitat bekantan berada di luar kawasan konservasi, akibatnya makin sempitnya habitat dan perburuan, belum lagi bekantan masih di anggap tidak penting oleh pemerintah, bekantan tidak dijadikan bahan pertimbangan utama dari sebuah rencana pembangunan dearah dalam mendukung pembangunan secara berkelanjutan.

Hilangnya habitat dan populasi bekantan di suatu wilayah di Kalimantan sepertinya sudah dianggap sebagai sebuah kewajaran dan konsekuensi adalah orientasi pembangunan untuk kepentingan ekonomi dan mengabaikan aspek kelestarian keanekaragaman hayati.

Usaha Konservasi Bekantan

Bekantan sebagai menjalankan peran ekologi yang dilakukan di alam liar dalam menjaga ekosistem yang menjadi habitatnya, untuk menjamin tersedianya jasa ekosistem untuk menunjang kesejahteraan manusia. Jasa bekantan terbesar adalah pembentuk hutan di wilayah lahan basah dan kawasan mangrove di Kalimantan. Bekantan mengatur silvikultur hutan dengan memakan daun dan pucuk tanaman, hingga tanaman tumbuh sedemikian kompleks.

Dari aspek legal formal sudah ada dan membantu mencegah bekantan dari ancaman juga upaya penegakan hukum terhadap perburuan dan perdagangan illegal bekantan, juga terhadap tindakan illegal perusakan serta penghilangan habitatnya, dapat dilakukan secara optimal dengan meningkatkan perlindungan terhadap bekantan dengan melakukan patroli oleh polisi kehutanan yang bekerjasama dengan lapisan mayarakat dan pihak pengelola hutan mangrove dan lahan basah, dengan demikian, konservasi bekantan harus dilakukan secara terintegrasi dengan melakukan berbagai cara yang efektif, termasuk dengan pendekatan moral dengan melibatkan seluruh pihak yang berkepentingan terhadap primata unik ini.

Beberapa solusi untuk konservasi  adalah, pertama, adanya penunjukan areal perlindungan khusus bekantan, upaya konservasi yang juga mungkin dilakukan adalah menetapkan beberapa areal habitat bekantan yang relatif masih aman sebagai areal perlindungan bekantan dan mulai dilakukan kegiatan wisata terbatas untuk menyusuri areal mangrove sambil melakukan pengamatan bekantan bisa dilakukan  wisata riset khusus untuk mahasiswa lokal, nasional dan internasional.

Kedua, sosialis bagi masyarakat dilakukan untuk menyampaikan tentang kondisi keanekaragaman hayati yang ada di sekitarnya, tiga pengembangan ekowisata berbasis masyarakat, konsep pengelolaan tersebut secara langsung akan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal, minat pariwisata saat ini mengarah pemanfaatan bekantan di alam liar dan dapat dilihat secara alami sehingga ekowisata  potensial. Keberadaan bekantan dapat menjadi daya tarik utama ekowisata kegiatan konservasi ex-situ hal ini dapat dibuat diseluruh Kalimantan dan bertujuan untuk mengcaptive/re stocking bekantan di alam.

Hilangnya bekantan juga dapat berdampak pada turunnya kualitas lahan basah, secara alami juga hilangnya bekantan juga berpenagruh pada turunnya populasi macan dahan Kalimantan, bekantan adalah primata unik  di Kalimantan yang menjadi simbol baik dan sehatnya hutan di Kalimantan.






Ditulis oleh: Azhar
Alumnus Sekolah Tinggi Ilmu Kehutanan TGK Chik Pantee Kulu Banda Aceh


 
Bekantan (Nasalis larvatus) adalah salah satu satwa endemik Kalimantan yang dapat dijumpai di Desa Melemba, selain orangutan jenis Pongo pygmaeus-pygmaeus.
© Alain Compost / WWF Enlarge

Comments

blog comments powered by Disqus