Damar Mata Kucing, Keberhasilan Pengelolaan Hutan Berkelanjutan Berbasis Masyarakat | WWF Indonesia

Damar Mata Kucing, Keberhasilan Pengelolaan Hutan Berkelanjutan Berbasis Masyarakat



Posted on 09 October 2017   |  
Sistem budidaya repong damar dilakukan di kawasan hutan marga, dan ada pula yang diusahakan di dalam kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan sebagai produk Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK).
© WWF-Indonesia
Oleh: HIjrah Nasir

Sektor kehutanan di Pesisir Barat, Lampung, memiliki kontribusi yang besar dalam menopang perekonomian masyarakat dengan luas wilayah hutan mencapai 60% dari total luas wilayah kabupaten. Salah satu produk unggulan kehutanan Pesisir Barat, terutama Krui adalah damar mata kucing. Krui dikenal sebagai penghasil damar dengan kualitas terbaik di dunia. Pengelolaan repong (perkebunan) damar merupakan kearifan lokal dalam sistem budidaya masyarakat Krui,dan ini merupakan salah satu contoh keberhasilan pengelolaan hutan berkelanjutan berbasis masyarakat. Sistem budidaya repong damar dilakukan di kawasan hutan marga, dan ada pula yang diusahakan di dalam kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan sebagai produk Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK).

Berdasarkan data BAPPEDA Kabupaten Pesisir Barat tahun 2016, total luas lahan areal damar mencapai 17.160,75 Ha dengan produksi sekitar 6.720,2 ton/tahun. Repong damar menjadi sub-sektor penting yang menyangga perekonomian di daerah ini. Hal tersebut terbukti dari data yang menyebutkan bahwa 80 persen dari pendapatan rata-rata perkapita masyarakat Pesisir Krui, berasal dari produksi getah damar dengan PDB 14,5 milyar rupiah. Selain itu, damar sebagai produk komoditi yang diekspor juga menjadi sumber devisa bagi negara.

Krui menjadi produsen terbesar damar mata kucing, 80 persen dari total produksi nasional berasal dari sana. Negara tujuan ekspornya antara lain India, Jerman, Filipina, Perancis, Belgia, Uni Emirat Arab, Bangladesh, Pakistan dan Italia.

Ekspor damar mata kucing sebenarnya sudah berlangsung selama ratusan tahun. Ekspor pertama damar mata kucing ke Eropa dimulai sejak tahun 1829 dan pada tahun 1933 ke Amerika Serikat. Damar mata kucing ini banyak digunakan sebagai stabilizer pada industri cat, tinta, farmasi, dan kosmetik baik di dalam maupun luar negeri.

Potensi dalam pengembangan damar mata kucing yang cukup tinggi dan mendukung upaya konservasi, membuat WWF-Indonesia tertarik untuk melakukan kajian mata rantai nilai (value chain analysis) perdagangan damar mata kucing di Krui. Sebagai produk HHBK, damar memiliki posisi strategis dalam mendorong pengelolaan hutan berbasis masyarakat dan menjadi salah satu model pemberdayaan ekonomi masyarakat berkelanjutan. Namun rendahnya nilai tambah bagi produk ini menjadikan harga damar mata kucing rendah di level petani, sehingga perlu adanya upaya untuk meningkatkan nilai jual damar mata kucing yang menguntungkan petani dan mampu menghindari adanya penebangan damar karena desakan ekonomi.

Analisis mata rantai nilai damar mata kucing akand digunakan sebagai alat untuk mengidentifikasi aktor, masalah dan potensi di setiap mata rantai nilai, dan menganalisis penambahan nilai dari setiap rantai. WWF melakukan pengumpulan data terkait analisis mata rantai nilai melalui FGD dan wawancara dengan narasumber kunci dari setiap rantai aktor yang terlibat dalam perdagangan komoditas ini, antara lain petani, ojek damar, penghadang, pengepul, dan pedagang besar. Kegiatan ini berlangsung dari tanggal 28-30 Agustus 2017 di Krui. Lokasi survei dilakukan di hutan damar yang berada di dalam kawasan TNBBS dan hutan marga yang berada di Desa Pahmongan dan Desa Penengahan.

Dalam survei ini, tim melakukan identifikasi terhadap aktor yang terlibat dalam mata rantai perdagangan damar mata kucing untuk mengetahui setiap pertambahan nilai dari masing-masing aktor dan apa yang menjadi permasalahan yang diterima selama ini. Tim melakukan FGD dengan kelompok masyarakat dampingan WWF yang mendapatkan izin mengelola lahan damar di dalam kawasan TNBBS, dan menyebarkan kuesioner yang diisi oleh peserta yang berisi sejumlah pertanyaan tentang produktivitas kebun damar, pendapatan dari kebun damar, serta regulasi mengenai pertanian atau perdagangan damar yang ada. Selanjutnya tim melakukan wawancara ke petani di Pahmongan untuk melakukan perbandingan tentang petani yang mempunyai damar di luar kawasan TNBBS.

Pada hari berikutnya tim melakukan wawancara ke pedagang, pengepul dan pedagang besar serta melakukan kunjungan ke gudang damar dan meninjau lokasi hutan damar yang ada di Desa Penengahan. Dari hasil survei ini, tim menemukan bahwa terdapat beberapa kendala dari industri repong damar di Krui, seperti petani damar yang tidak memiliki posisi tawar dalam penentuan harga. Harga damar selama ini ditentukan oleh konsumen dan pasar. Pedagang, pengepul, dan pedagang besar di Krui juga masih menggunakan teknik sederhana dalam pemilahan kualitas damar. Ini berdampak pada rusaknya kualitas damar, mengingat sifat alami damar yang tidak dapat disimpan dalam waktu lama ketika telah dipanen.

Rentang harga damar dari petani dan pedagang juga masih cukup besar, hal ini berdampak pada nasib petani damar yang mengelola repong damar sebagai bentuk manajemen hutan yang lestari. Tidak adanya lembaga yang menaungi petani dan pedagang juga menjadi masalah lainnya di Krui, hal ini dianulir karena persaingan antar petani dan pedagang damar di Krui. Tidak hanya itu, sampai saat ini juga belum ada regulasi yang menguntungkan petani damar.

Melihat kondisi tersebut, diperlukan adanya beberapa upaya penyelesaian masalah yang terjadi di Krui. Salah satu upaya yang perlu dilakukan adalah pemberian pelatihan mengenai wawasan dan rencana aksi yang menyeluruh oleh fasilitator yang berkompeten. Selain itu pembedaan kepentingan antara petani dan pedagang juga perlu disepakati. Hal ini bertujuan untuk dapat menciptakan sinergi antara petani dan pedagang sebagai komunitas damar Krui agar memiliki posisi tawar yang tinggi di pasar global, meningat monopoli kawasan akan damar mata kucing kini berada di Krui. Selain itu dorongan kepada pemerintah daerah untuk membuat regulasi yang mengatur perdagangan damar dan tidak merugikan petani juga perlu dilakukan. Pembukaan lahan hutan menjadi perkebunan damar juga perlu dikendalikan untuk tetap menjaga keanekaragaman hayati dan ketentraman hidup satwa liar di Krui.

 
Sistem budidaya repong damar dilakukan di kawasan hutan marga, dan ada pula yang diusahakan di dalam kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan sebagai produk Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK).
© WWF-Indonesia Enlarge

Comments

blog comments powered by Disqus