DisKo Jakarta Bio Marking: Mengenal Keanekaragaman Hayati Jakarta | WWF Indonesia

DisKo Jakarta Bio Marking: Mengenal Keanekaragaman Hayati Jakarta



Posted on 09 November 2017   |  
Diskusi Konservasi Jakarta Bio Marking (28/10/2017).
Diskusi Konservasi Jakarta Bio Marking (28/10/2017).
© WWF-Indonesia/ Azhari Lubis
Oleh: Sani Firmansyah (Supporter Center Officer  WWF-Indonesia)
 
Diskusi Konservasi (DisKo) yang diselenggarakan pada (28/10) yang lalu mengangkat tema “Jakarta Bio Marking”. Diskusi yang bertempat di Jakarta Creative Hub tersebut membahas keanekaragaman hayati asli Jakarta yang terancam punah beberapa spesiesnya. Ady Kristianto, salah satu narasumber dalam diskusi kali ini masih ingat nyaringnya kicauan burung kacamata di taman-taman di Jakarta. Namun hal itu sudah menghilang sekitar enam tahun lalu. "Sekarang sudah sulit, bahkan hampir tidak pernah menemukan burung-burung itu lagi di taman kota seperti taman Monas, Suropati, Langsat, dan lainnya," tutur Ady. Menghilangnya burung-burung itu juga akibat tingginya penangkapan. Berdasarkan pengakuan pemburu burung pada tahun 2013, perburuan burung untuk dijualbelikan bisa mendapatkan hingga 50 ekor burung per bulan. Dengan demikian, ada sekitar 600 burung yang hilang dari habitat mereka di Jakarta dalam setahun.
 
[Baca juga: Diskusi Konservasi “Ada Apa dengan Dugong?”]
 
Salah satu jenis burung yang menurun populasinya adalah elang bondol. Hewan yang merupakan maskot DKI Jakarta itu biasa mencari makan di kawasan teluk dan laut. Dengan buruknya kualitas perairan, ketersediaan pakan burung tersebut pun menipis. Saat ini, Ady memperkirakan tinggal tersisa 157 jenis burung dari total 256 jenis yang semula ada di Jakarta. "Yang menghilang adalah lutung dan kucing bakau," tambahnya soal mamalia yang kini sulit ditemui.
 
Sementara itu, keanekaragaman hayati yang masih bisa ditemukan di taman dan hutan kota di Jakarta ialah 10 jenis amfibi dan lebih dari 50 jenis kupu-kupu. Di Sungai Ciliwung sendiri masih banyak ditemukan berang-berang yang hidup dalam lubang-lubang tanah bantaran sungai. Namun ironisnya, sekitar 92% ikan di Sungai Ciliwung sudah habis. Fauna lainnya yang masih bisa ditemukan yakni 46 jenis capung, reptil sekitar 30 jenis seperti ular, kadal, cicak, dan biawak. Satwa yang hidup di sekitar penduduk yakni nyamuk, semut yang berjumlah sekitar 30 jenis dan jenis tikus serta lebah.
 
Pengamat tata kota Nirwono Joga mengatakan kebijakan pemerintah kota selama ini masih mengabaikan flora dan fauna dan lebih mementingkan bisnis semata sehingga tak aneh jika semakin sulit menemukan keanekaragaman hayati di Jakarta. "Pemahamannya kalau kota itu manusia dan kendaraan, pembangunan yang dilakukan konsen dua itu. Tidak ada selama ini kebijakan pembangunan kota mengarah melestarikan alam dan flora fauna agar berkembang," kata pria yang akrab disapa Joga ini.
 
Pembangunan infrastruktur di Jakarta sendiri disebut Joga sudah menebang sekitar 3.000 pohon untuk berbagai kepentingan, seperti pembangunan moda raya terpadu (MRT) dan light rail transit (LRT). "Di kawasan Kuningan sampai Sudirman ada 2.500 pohon ditebang. Thamrin itu sekitar 500 pohon dan tak sampai setahun lebih dari 3.000 pohon ditebangi secara sistematis dilakukan pemerintah daerah atas nama pembangunan," cetusnya. Menurutnya, komitmen pemkot mengembangkan ruang terbuka hijau (RTH) masih sangat minim. Hal tersebut diperkuat dengan data bahwa Jakarta berada di posisi 57 kota sehat dari 60 kota besar di dunia. "Nomor satu kota sehat (adalah) di Tokyo, kedua Singapura. Kenapa bisa kota sehat karena kita bicara ruang terbuka hijau. Di Singapura saja (ada) 39% ruang terbuka hijau," ungkapnya. Untuk di Jakarta, ruang terbuka hijau masih bisa ditemukan di wilayah Menteng dan Kebayoran Baru. Karena itulah kualitas udara di Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan lebih bagus dibanding di berbagai daerah lainnya.
 
Dalam diskusi tersebut, Primayunta, Supporter Engagement Coordinator WWF-Indonesia juga menjelaskan mengapa kita harus menjaga keberadaan spesies dalam sebuah ekosistem. "Setiap spesies memegang peranan penting dalam ekosistem, yaitu sebagai perantara penyerbukan, penyebar biji dan sebagai top predator. Jika salah satunya hilang maka keseimbangan alam di Jakarta akan terganggu,” tutur Primayunta. Oleh karena itu, berbagai cara dilakukan WWF-Indonesia untuk terus menjaga keanekaragaman hayati termasuk yang tersisa di Jakarta, di antaranya dengan mengedukasi masyarakat agar berperilaku ramah terhadap lingkungan dengan melakukan gaya hidup hijau. "Selain itu, kami tak pernah berhenti mengajak masyarakat untuk bergabung dengan para relawan lingkungan, baik yang diiinisiasi WWF maupun komunitas lain sehingga bisa secara langsung berkontribusi dan merasakan bagaimana cara melestarikan lingkungan," pungkas Prima.
 
Diskusi Konservasi Jakarta Bio Marking (28/10/2017).
Diskusi Konservasi Jakarta Bio Marking (28/10/2017).
© WWF-Indonesia/ Azhari Lubis Enlarge
Diskusi Konservasi Jakarta Bio Marking (28/10/2017).
Diskusi Konservasi Jakarta Bio Marking (28/10/2017).
© WWF-Indonesia/ Azhari Lubis Enlarge
Diskusi Konservasi Jakarta Bio Marking (28/10/2017).
Diskusi Konservasi Jakarta Bio Marking (28/10/2017).
© WWF-Indonesia/ Azhari Lubis Enlarge

Comments

blog comments powered by Disqus