Wartawan Bali Siap Praktikkan Wisata Bahari yang Bertanggung Jawab | WWF Indonesia

Wartawan Bali Siap Praktikkan Wisata Bahari yang Bertanggung Jawab



Posted on 13 November 2017   |  
Aktivitas wisata bahari
© © Chris Martin Bahr / WWF
Oleh: Adella Adiningtyas (Marine and Fishery Campaign and Social Media Assistant)

“Indonesia kini masuk dalam kategori 10 negara yang berkontribusi  sampah di lautan, situasi ini tak hanya mengurangi keindahan laut namun juga menimbulkan bahaya lain, dimana sampah plastik terlihat sebagai makanan bagi ikan ikan tertentu,” jelas Jensi Sartin, Manager Marine Protected Area (MPA) untuk wilayah Manggarai Barat saat membuka talkshow berinteraksi dengan mamalia laut dan berwisata bahari yang diikuti sejumlah wartawan di Nusa Dua, Bali (3 November). 
 
“Kini, pertanyaan untuk kita semua, apakah laut Indonesia cukup aman saat ini?”
 
Tidak! Tidak aman samasekali. Indonesia saat ini tengah bekerja mengurangi sampah plastik di lautan. Tentu ini tak mudah karena sejumlah faktor ; tidak tersedianya fasilitas, terbukanya akses dari satu pulau ke pulau lainnya, tak adanya penegakan hukum bagi mereka yang membuang sampah serta perubahan cuaca ikut berkontribusi dengan membawa sampah dari darat ke laut—dan mencemari tak hanya Indonesia namun juga wilayah perairan negara lain. Bagi spesies tertentu, sampah plastik misalnya plastik bening yang terapung apung di laut, seringkali dikira makanan. Beberapa kasus menunjukkan kematian burung laut karena menyantap plastik, penyu yang terlilit plastik, atau ikan yang menyantap partikel plastik. Sampah selanjutnya tak lagi menjadi masalah estetika tapi juga  politik karena kaitan dampak negatif  yang ditimbulkan terhadap sumberdaya dan manusia.  
 
“Mungkin saja ikan yang kita santap telah  tercemari dengan partikel plastik,” lanjut Jensi. “Kini bagaimana mengurangi tekanan terhadap sumberdaya laut ini?”
 
Program pariwisata bahari WWF Indonesia mengambil peran dengan mendorong sebanyak mungkin individual berpartisipasi mengurangi tekanan di laut.  Sejumlah workshop maupun pelatihan telah diberikan terhadap sejumlah kelompok target ; pelaku pariwisata, komunitas, pemerintah. “Kami mengajak sebanyak mungkin orang untuk menyadari bahwa apapun yang mereka lakukan, misalnya buang sampah sekecil apapun, berkontribusi langsung terhadap alam sekitar,” jelas Ayu Ginanjar Syukur, Marine Ecotourism Improvement Program officer WWF Indonesia. “Kami butuh dukungan agar semua orang memiliki komitmen tinggi untuk mengurangi tekanan alam. Kali ini WWF mengajak wartawan Bali, yang notabene bisa menjadi ujung tombak pertukaran informasi melalui media,” kata
 
Wartawan yang ikut dalam talkshow dan pelatihan tersebut adalah Kantor Berita 68 H Jakarta, Bali Tribune, Metro Bali, Cendana News, Bali Puspa dan perwakilan praktisi usaha Nusa dua.  Selama satu hari penuh, para wartawan diajak untuk mengenali laut dan ancaman ancaman yang muncul saat ini. Dua fasilitator, Pariama Hutasoit dan I Made Jaya Ratha mendampingi wartawan saat pengenalan laut dan mamalia laut.  
 
Berwisata Bahari
Talkshow dan pelatihan panduan berinteraksi dengan mamalia laut dan berwisata bahari WWF Indonesia dikenalkan dengan dua metode ; pertama penyegaran wawasan wartawan atas isu  sumberdaya perairan dan ekosistemnya yang sensitif terhadap perlakukan manusia. Kedua ; mempraktikkan langsung wawasan tersebut. Para wartawan berkesempatan snorkeling di Pantai Mengiat Nusa Dua dan melakukan simulasi untuk praktik praktik observasi mamalia laut.
 
“Seringkali banyak yang tak tahu berapa jarak yang tepat saat mengamati lumba lumba, atau bagaimana cara yang baik saat mengamati penyu,” kata Made Jaya Ratha.
 
Untuk penyu misalnya, tindakan yang tepat saat melakukan pengamatan adalah tidak mengganggu lokasi peneluran penyu, tidak meninggalkan benda benda yang menghalangi penyu naik ke pantai untuk berelur, tidak menimbulkan suara bising di lokasi peneluran penyu, dan gunakan cahaya redup yang digunakan seperlunya. Ini karena penyu sangat sentif terhadap cahaya dan suara. 
 
“Wartawan juga diajak melihat langsung terumbu karang yang tengah tumbuh dan dalam masa perawatan setelah kerusakan berat di masa lalu,” jelas Pariama Hutasoit. “Proses ini diharapkan bisa membantu wartawan memahami bahwa masa hidup dan tumbuh terumbu karang sangat tergantung dari bagaimana cara orang bersikap terhadap terumbu,” katanya..  
 
Meningkatnya jumlah populasi wisatawan di perairan bisa memicu kerusakan terumbu karang. Panduan WWF Indonesia menyebutkan , penyelam dan snorkeler yang tidak berpengalaman dan kurang bertanggung jawab bisa  menghancurkan  karang  ataupun  organisme  di  sekitarnya.  Selain  itu  substrat yang  teraduk  dan  terangkat  memperkeruh  kolom  air  dan  bisa  menutupi  dan mematikan koloni karang dan pada akhirnya mempengaruhi ekosistem terumbu secara keseluruhan.
 
Lainnya, gangguan yang berlebihan membuat satwa laut meninggalkan daerah mencari makan dan berkembang biak mereka. Satwa-satwa memiliki peran penting untuk kelestarian keseluruhan ekosistem. Menghilangnya satwa-satwa tersebut dapat mengubah pola jejaring  makan  antar  satwa  di  ekosistem  laut  serta  dapat  berpengaruh  terhadap menurunnya kualitas lingkungan secara luas.
 
Meningkatnya kerentanan karang. Bila terjadi kontak baik langsung maupun tidak langsung  secara  terus-menerus  dengan  penyelam  maupun  snorkeler,  karang  akan mengalami  stres  dan  mengeluarkan  lendir  (mucus)  secara  berlebihan.  hal  ini  bisa meningkatkan kerentanan karang terhadap penyakit, virus, dan organisme kompetitior lainnya. Dampak lanjutannya adalah karang akan mengalami perubahan warna menjadi lebih pucat dan kematian. Menurunnya  tingkat  keanekaragaman  hayati.  Eksploitasi  yang  berlebihan  pada beberapa  jenis  ikan  tertentu  dapat  mempengaruhi  ekosistem  secara  keseluruhan. 
 
“Bila terumbu karang  rusak maka implikasinya dirasakan secara langsung bagi masyarakat sekitar, seperti hilangnya sumber daya pariwisata dan perikanan serta rusaknya perlindungan pantai. Pengelolaan sampah hanyalah salahsatu dari tindakan riil kita untuk memperbaiki lingkungan, di sisi lain kita perlu komitmen tinggi untuk melestarikan alam,” kata Pariama.
 
Djoko Moeljono, wartawan Bali Tribune mengatakan praktik langsung di laut membuatnya memiliki cara pandang berbeda untuk berwisata bahari maupun melakukan observasi spesies. “Ini sangat membantu kami,” ujarnya antusias. 
 
Di luar dari memahami praktik terbaik tersebut, para praktisi maupun individual juga bisa melakukan pengawasan melalui aplikasi #TemanTamanLaut. Aplikasi ini bisa diunduh di  playstore. Aplikasi ini memungkinkan siapapun memberikan penilaian terhadap sebuah kawasan perairan  melaporkan aktivitas yang tidak bertanggung jawab. Siap menjadi wisatawan yang bertanggung jawab? Yuk, selami keindahan laut Indonesia, kenali keanekaragaman hayatinya dan jadilah #TemanTamanLaut!
 

Aktivitas wisata bahari
© © Chris Martin Bahr / WWF Enlarge
Pariama menjelaskan terumbu karang pada peserta talkshow
© Ayu Ginanjar/WWF-Indonesia Enlarge
Aktivitas peserta talkshow BEEP sebelum snorkeling di Pantai Mengiat
© Geebran/WWF-Indonesia Enlarge

Comments

blog comments powered by Disqus