Kisah di Balik Perawatan Kesehatan Gajah | WWF Indonesia

Kisah di Balik Perawatan Kesehatan Gajah



Posted on 04 December 2017   |  
Pemeriksaan melalui USG (transcutaneous) pada gajah Ria.
Pemeriksaan melalui USG (transcutaneous) pada gajah Ria.
© WWF-Indonesia/ Zulfahmi
Oleh: Natalia Trita Agnika
 
Kabar kelahiran Harmoni Rimbo, Gajah Sumatera di Taman Nasional Tesso Nilo disambut gembira oleh banyak pihak karena memberikan harapan baru bagi upaya konservasi Gajah Sumatera sekaligus sebagai pengingat bahwa manusia perlu berbagi ruang untuk semua makhluk, termasuk gajah. Harmoni Rimbo adalah anak dari gajah Ria yang merupakan anggota Elephant Flying Squad.

[Baca juga: Mengenal Elephant Flying Squad, Pasukan Gajah Pencegah Konflik]

Gajah merupakan hewan mamalia dengan periode kehamilan yang paling panjang. Satu individu gajah, umumnya mengandung lebih dari 18 bulan bahkan terkadang mencapai usia dua tahun. Maklum, satu individu bayi gajah bisa lahir dengan berat sekitar 150 kg dan tinggi 90 cm. Tentu membutuhkan waktu yang lama baginya untuk tumbuh di rahim sang induk.

Mungkin kita bertanya-tanya, bagaimana cara merawat kesehatan gajah yang sedang hamil? Karena gajah Ria merupakan salah satu gajah anggota Elephant Flying Squad, maka gajah Ria dirawat kesehatannya dengan baik oleh dokter hewan. Peranan dokter hewan di Elephant Flying Squad WWF-Taman Nasional Tesso Nilo adalah sebagai tenaga medis yang wajib dalam memonitoring, menangani, mendiagnosa, serta memberikan terapi dan pengobatan.

Awal kehamilan gajah Ria terdeteksi sejak Mei 2016 silam oleh Tim Flying Squad dan dokter hewan. Hal ini terlihat dari perilakunya yang memiliki nafsu makan dan minum yang tinggi dan sering buang air kecil. Selain itu, perut gajah Ria mulai membesar dan berjalan agak lambat. Pemeriksaan lewat ultrasonography (USG) oleh drh. Annisa Wandha Sari (WWF-Indonesia) dan drh. Muchlis (Dinas Peternakan Kabupaten Pelalawan) pada Mei 2016 pun dilakukan. Dan benar, gajah Ria memang sedang hamil. Berbeda dengan pemeriksaan melalui USG pada ibu hamil, pemeriksaan melalui USG pada gajah dilakukan dengan dua cara, yaitu melalui dinding perut (transcutaneous) dan melalui rektum (transrectal).

Kesehatan gajah Ria selalu dipantau oleh pawang/mahout dan dokter hewan. Layaknya ibu hamil, gajah Ria juga diberikan suplemen vitamin, puding, serta buah-buahan secara rutin. Pemeriksaan USG dilakukan setiap tiga bulan sekali. Dari hasil pemeriksaan USG terakhir, gajah Ria diperkirakan akan melahirkan pada Januari 2018. Selain perhatian lebih pada gajah Ria, aktivitas patrolinya juga dikurangi pada masa kehamilannya.

Namun ternyata proses melahirkan gajah Ria lebih cepat dari dugaan. Gajah Ria melahirkan pada (21/11) yang lalu. Sehari sebelum melahirkan, gajah Ria tidak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Bahkan sehari sebelumnya, gajah Ria masih mengalungkan bunga selamat datang pada tamu dari WWF Singapura.

Kelahiran Harmoni Rimbo diketahui pertama kali oleh mahout gajah Ria, yaitu Yudi dan Erwin Daulay. Saat itu, sang mahout hendak ke hutan dan membawa gajah Ria ke Camp Flying Squad untuk pemberian obat cacing secara berkala. Namun setibanya di hutan, gajah Ria sudah bersama dengan bayi gajahnya. Tim Flying Squad dan drh. Wandha pun segera terjun ke lokasi untuk memberikan perawatan dan pengobatan.

[Baca juga: Kelahiran Harmoni Rimbo, Kabar Gembira Bagi Konservasi Gajah Sumatera]

Merawat gajah Flying Squad yang sedang hamil merupakan sebagian dari beberapa perawatan kesehatan yang dilakukan terhadap gajah-gajah tersebut. Pada gajah Flying Squad lainnya, dokter hewan juga memeriksa kesehatan gajah secara fisik, memberi vitamin, dan memberi puding setiap dua kali dalam sebulan. Puding ini terdiri dari jagung pecah, dedak, gula merah, dan mineral blok yang dimasak kemudian didinginkan semalaman dalam cetakan. “Tujuan pemberian puding adalah sebagai penyeimbang nutrisi gajah karena mengandung karbohidrat, protein, vitamin, dan mineral. Di alam bebas, gajah belum tentu bisa mendapatkan gizi tersebut dengan lengkap dan cukup,” jelas drh. Wandha.

Sedangkan untuk mencegah supaya tidak terkena penyakit, dilakukan pemeriksaan endoparasit pada feses gajah setiap tiga bulan sekali, memberikan obat cacing setiap empat bulan sekali sesuai dosis dari dokter hewan. Untuk mewaspadai penyakit EEHV (elephant endotheliotropic herpesvirus), dilakukan pemeriksaan darah rutin dan darah lengkap setiap enam bulan sekali.

Keunikan lain dalam merawat kesehatan gajah juga terdapat pada gajah jantan. Ada masa atau periode yang unik pada gajah jantan dan tidak terjadi pada hewan lain. Periode ini disebut musth, yaitu suatu fenomena fisiologi normal pada gajah yang ditandai dengan perubahan tingkah laku menjadi agresif, fisik tampak muram dan fisiologi ditandai dengan ekskresi dari kelenjar temporal di kepala. Nah, gajah jantan yang musth diberi perlakuan khusus dengan mengurangi pasokan makanan dengan kandungan protein serta diasuh oleh dua orang mahout.

Ternyata merawat kesehatan gajah bukan hal yang mudah. Terima kasih atas dukungan semua pihak dalam upaya menjaga kesehatan gajah-gajah Flying Squad. Tim Elephant Flying Squad ada untuk melakukan mitigasi konflik antara gajah-manusia demi upaya kelestarian Gajah Sumatera di habitat aslinya.

Terima kasih atas dukungan Suporter WWF selama ini dalam upaya konservasi gajah dengan menjadi SAHABAT GAJAH dan ELEPHANT WARRIOR.  Donasi Anda telah turut mendukung Tim Patroli Elephant Flying Squad.
Pemeriksaan melalui USG (transcutaneous) pada gajah Ria.
Pemeriksaan melalui USG (transcutaneous) pada gajah Ria.
© WWF-Indonesia/ Zulfahmi Enlarge
Pemeriksaan melalui USG pada gajah Ria.
Diskusi hasil USG gajah Ria antara drh. Wandha dengan drh. Roki pada September 2017.
© WWF-Indonesia/ Zulfahmi Enlarge
Pemeriksaan feses gajah di laboratorium.
Pemeriksaan feses gajah di laboratorium.
© WWF-Indonesia Enlarge
Pemeriksaan feses gajah di laboratorium.
Pemeriksaan feses gajah di laboratorium.
© WWF-Indonesia Enlarge
Pembuatan puding untuk gajah oleh para mahout.
Pembuatan puding untuk gajah oleh para mahout.
© WWF-Indonesia Enlarge
Harmoni Rimbo lahir pada 21 November 2017.
© WWF-Indonesia/Zulfahmi Enlarge

Comments

blog comments powered by Disqus