Nasib Hutan di Balik Sehelai Tisu | WWF Indonesia

Nasib Hutan di Balik Sehelai Tisu



Posted on 04 January 2018   |  
Harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae) di Kebun Binatang Ragunan, Jakarta, Indonesia
© WWF-Indonesia/Saipul Siagian
Oleh: Nur Arinta

Tisu, helaian kertas tipis dan lembut yang memiliki daya serap tinggi ini sangat erat dengan kehidupan kita sehari-hari. Mulai dari aktivitas di meja makan, bepergian, merias wajah, mencuci tangan, hingga aktivitas di toilet menggunakan kertas tipis ini. Begitu melekatnya tisu dalam kehidupan sehari-hari ini berdampak pada konsumsi tisu yang tinggi. Kita sering tidak sadar saat menggunakan tisu, ini membuat perilaku boros tisu menjadi hal yang biasa. Padahal, ini memiliki dampak yang besar terhadap lingkungan.

Pada awalnya tisu lebih banyak digunakan untuk toilet. Namun sekarang tisu menjadi fasilitas yang wajib di tempat makan. Selain itu, produksi tisu juga terus berkembang dengan berbagai bentuk dan pengemasan, sehingga lebih menarik masyarakat untuk menggunakan tisu. Ini membuat konsumsi tisu Indonesia ke depannya akan terus meningkat, seiring dengan perubahan gaya hidup dan peningkatan daya beli masyarakat Indonesia. WWF-Indonesia bersama creative agency Hakuhodo melakukan penelitian, dari hasil penelitian tersebut menyatakan 54 persen masyarakat Indonesia hidup di kota besar, memiliki kebiasaan menghabiskan tiga helai tisu untuk mengeringkan tangan.

Koesnadi, Sekjen Serikat Hijau Indonesia mengatakan, “jika jumlah penduduk Indonesia 200 juta orang, dan setiap harinya mereka menggunakan setengah gulung tisu, artinya konsumsi tisu Indonesia setiap harinya adalah 100 juta gulung. Bila diasumsikan berat satu gulung tisu adalah seperempat kilogram, maka penggunaan tisu Indonesia dalam satu hari mencapai 25 ribu ton.” Bisa dibayangkan berapa banyak pohon yang dibabat untuk memenuhi kebutuhan konsumsi tisu Indonesia setiap harinya. Hal ini menjadi miris karena satu pohon ternyata mampu menyediakan oksigen untuk 3 orang, dan juga menjadi penyerap karbon dan emisi.

Permintaan tisu yang terus meningkat ini berdampak pada hutan alami yang menjadi rumah bagi para satwa liar seperti Harimau Sumatera, Orangutan, Gajah Sumatera, dan spesies lainnya. Deforestasi yang terjadi di hutan Indonesia sebagian besar disebabkan oleh konversi hutan menjadi perkebunan dan hutan tanaman industri (HTI). Di Sumatera, lebih dari 7 juta hektare hutan yang merupakan habitat Harimau Sumatera telah berubah menjadi perkebunan, dan kawasan HTI untuk kertas dan tisu. Sejak tahun 1985 hingga kini, hutan Sumatera terus menyusut dengan angka laju deforestasi sebesar 2,9 persen setiap tahunnya. Kini hanya tinggal 24 persen luas hutan alami yang tersisa di Sumatera, dan akan semakin menyusut jika permintaan komoditas hutan seperti tisu terus meningkat dan tidak terkendali.

Jika dilihat kembali, konsumsi tisu Indonesia memang belum sebesar konsumsi negara lain, apalagi jika dibandingkan dengan negara barat. Namun kita tidak perlu menunggu untuk melakukan hal yang positif untuk alam. Apalagi ternyata secara tidak sadar setiap helai tisu yang kita gunakan adalah penentu nasib hutan dan satwa yang hidup di dalamnya.

Menyambut tahun yang baru ini, mari kita sebagai konsumen dan pengguna tisu menjadi lebih bijak dalam menggunakan si putih tipis nan lembut ini, lebih baik lagi jika hanya menggunakan tisu yang sudah mendapat label hijau. Atau ya, berhemat, Bagaimana caranya? Setiap selesai mencuci tangan, kita bisa mengeringkan tangan kita dengan cara yang menyenangkan, yakni dengan melakukan #30claps, atau bisa juga dengan cara mengeringkan tangan kita menggunakan sapu tangan. Jika kita memerlukan tisu, biasakan untuk tidak mengambilnya lebih dari satu. Gunakan setiap helai tisumu secara lebih efektif.

Terakhir, mulailah membeli tisu yang berlabel ramah lingkungan. Label Forest Stewardship Council (FSC) merupakan simbol yang menandakan produk komoditas hutan yang berasal dari hutan yang dikelola secara bertanggung jawab, baik secara lingkungan maupun sosial. Ini artinya, tisu yang Anda gunakan didapatkan dari hutan yang tidak merusak lingkungan, memperhatikan konservasi keanekaragaman hayati, pengurangan emisi karbon, rehabilitasi hutan, dan memperhatikan hak-hak masyarakat adat, masyarakat sekitar hutan, dan juga hak pekerja.

Jadikanlah 2018 sebagai waktu dimana kita menjadi lebih baik dari tahun sebelumnya. Menjadi konsumen tisu yang bijak, penyelamat hutan, dan pahlawan bagi satwa Indonesia!

 
Harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae) di Kebun Binatang Ragunan, Jakarta, Indonesia
© WWF-Indonesia/Saipul Siagian Enlarge

Comments

blog comments powered by Disqus