‘Bangkit Muda Mudi Mekko’, Semangat Pariwisata Bahari Bertanggung Jawab dari Flores Timur | WWF Indonesia

‘Bangkit Muda Mudi Mekko’, Semangat Pariwisata Bahari Bertanggung Jawab dari Flores Timur



Posted on 06 February 2018   |  
Foto bersama para peserta pelatihan sebelum turun ke laut untuk simulasi aktivitas wisata bahari yang bertanggung jawab
© Ayu Ginanjar Syukur / WWF-Indonesia
Oleh: Ayu Ginanjar Syukur (Marine Ecotourism Improvement Program Officer, WWF-Indonesia)

Ada pemandangan berbeda hari itu (17/01/2018) di perairan Dusun Mekko, Pulau Adonara, Flores Timur. Jika biasanya di laut kita melihat nelayan memancing ikan atau menarik jaring yang sudah mereka tebar, kali ini, terlihat muda mudi yang sedang belajar menjadi pemandu wisata bahari.

Simulasi praktik ini menjadi kegiatan terakhir pada acara Pengenalan Panduan Wisata Bahari yang Bertanggung Jawab – atau yang disebut dengan Best Environmental Equitable Practices (BEEP) WWF-Indonesia.  

“Bangkit, Muda-Mudi Mekko! Bangkit!” Riuh semangat jargon dipimpin oleh Pak Bakri Lolo Wajo, Ketua Kelompok Bangkit Muda Mudi Mekko (BM3), di tengah hujan yang menemani selama simulasi praktik Panduan Wisata Bahari Ramah Lingkungan.

Sejak tahun 2013, Perairan Mekko menjadi salah satu kawasan yang masuk ke dalam Kawasan Konservasi Perairan Daerah (KKPD) Flores Timur dengan target konservasi untuk mendukung pengelolaan dan perlindungan habitat penting hiu. 

Berdasarkan data WWF tahun 2016, di Perairan Mekko, ditemukan 2 jenis hiu yaitu jenis hiu karang sirip hitam (Carcharinus melanopterus) dan hiu karang sirip putih (Triaenodon obesus) dengan total kemunculan masing-masing sebesar 82,69% dan 17,31%. Selain hiu yang bisa dijumpai saat menyelam atau snorkeling, Mekko dikenal memiliki Pulau Pasir Putih yang sangat indah dan sudah mendatangkan banyak wisatawan baik wisatawan nusantara maupun mancanegara.

Pariwisata yang bertanggung jawab pun dibutuhkan untuk melestarikan sumber daya dan lokasi, melindungi nilai-nilai dan budaya masyarakat, serta memperkuat pengelolaan bisnis berkelanjutan. Hal ini tertuang dalam tiga prinsip keberlanjutan yaitu bertanggung jawab terhadap lingkungan; bertanggung jawab terhadap sosial budaya; dan bertanggung jawab terhadap pengelolaan bisnis berkelanjutan.

Setelah memahami konsep pariwisata bertanggung jawab melalui sesi pengenalan BEEP di dalam kelas, peserta belajar bagaimana praktik terbaik saat mengoperasikan kapal, memandu wisatawan snorkeling, serta saat mengamati dan berinteraksi dengan satwa laut.

Poin penting seperti apa saja yang harus dan tidak boleh dilakukan; dan mengenali ciri-ciri satwa terganggu; harus dipahami oleh setiap orang baik bagi pemandu maupun wisatawan. Sehingga, briefing di awal dan di akhir kegiatan harus dilakukan oleh pemandu yang baik. Sederhananya, umpamakan satwa yang sedang diamati seperti diri kita sendiri, bagaimana risihnya saat kita ‘ganggu’ dengan sentuhan, suara yang bising, dan sampah.
 
Kegiatan pengenalan BEEP ini diikuti oleh 24 anggota dan simpatisan Kelompok Bangkit Muda Mudi Mekko (BM3). Melalui pengisian pre test sebelum mulai materi di kelas & port test setelah simulasi praktik, diketahui bahwa 75% peserta telah meningkat pengetahuannya.

Pengenalan BEEP menjadi salah satu materi dalam upaya peningkatan kapasitas kelompok pariwisata berbasis masyarakat (Community-Based Tourism). Tahap ini merupakan tahapan yang penting agar masyarakat dapat menjadi tuan rumah yang baik bagi tamunya.

Sebelumnya, bukan hal yang mudah bagi mereka untuk menjalankan organisasi. Berawal dari kesamaan minat dan bakat dalam bermain sepak bola, lalu dibentuklah kepanitiaan perlombaan yang kira-kira hanya berusia 3 bulan, bubar – berdiri lagi – bubar lagi.

Hingga pada 1 Mei 2016, sekelompok muda mudi berinisiatif untuk membentuk kelompok yang bernama Bangkit Muda Mudi Mekko ini. Berkat komitmen tinggi dari setiap anggotanya, sampai saat ini kelompok masih berdiri bahkan sudah dikukuhkan melalui SK Kepala Desa Nomor 01 Tahun 2017 mengenai Penetapan Kelompok Bangkit Muda Mudi Mekko Desa Pledo, yang meliputi bidang usaha: konservasi; kelautan dan perikanan; kepariwisataan dan bidang usaha dana, dan jasa lainnya.

Banyaknya keterbatasan bukan penghalang bagi mereka. Mulai dari buruknya aksesibilitas, listrik yang terbatas pada beberapa genset swadaya yang hanya menyala pada jam 18:00 – 22:00, hingga hujan deras sejak awal praktik di laut sampai kembali ke rumah masing-masing. Namun, semua hambatan itu lenyap seketika dengan semangat yang menggelora dari seluruh anggota kelompok.

Tentunya bukan hanya sampai di sini upaya yang dilakukan untuk mewujudkan pariwisata yang bertanggung jawab. Masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, oleh karena itu kita harus selalu ‘Bangkit!’

Foto bersama para peserta pelatihan sebelum turun ke laut untuk simulasi aktivitas wisata bahari yang bertanggung jawab
© Ayu Ginanjar Syukur / WWF-Indonesia Enlarge
Simulasi briefing mengenai zonasi kawasan kepada tamu sebelum memulai aktivitas snorkeling
© Ayu Ginanjar Syukur / WWF-Indonesia Enlarge
Keindahan bawah laut di salah satu lokasi snorkeling di Perairan Mekko
© Ayu Ginanjar Syukur / WWF-Indonesia Enlarge
Simulasi praktik ‘back roll’, salah satu cara turun (entry) dari kapal
© Tardi Sarwan / WWF-Indonesia Enlarge
Briefing sebelum simulasi snorkeling yang ramah lingkungan
© Tardi Sarwan / WWF-Indonesia Enlarge

Comments

blog comments powered by Disqus