Hidup Dekat Rumah si Belalai? Inilah Caranya Untuk Mengurangi Konflik dengan Gajah | WWF Indonesia

Hidup Dekat Rumah si Belalai? Inilah Caranya Untuk Mengurangi Konflik dengan Gajah



Posted on 10 February 2018   |  
Tesso Nilo merupkan hutan dataran rendah yang tersisa di Riau. Di dalamnya hidup sekitar 150 ekoar gajah Sumatera, hampir setengah dari populasi gajah Sumatera di Riau berada di kawasan ini
© WWF-Indonesia / Gilang FAbiola
Oleh: Nur Arinta

Hutan Sumatera adalah rumah bagi banyak satwa kunci di Indonesia, salah satunya adalah Gajah Sumatera. Gajah Sumatera merupakan gajah terkecil dari tiga subspesies gajah lainnya yang ada di kawasan Asia. Mamalia besar dengan nama latin Elephas maximus sumatranus ini dapat bertahan hidup hingga 70 tahun di alam bebas. Namun ancaman yang dihadapi pun sangat banyak, mulai dari perburuan, penyusutan habitat, hingga konflik yang terjadi dengan manusia.

Penyusutan habitat gajah akibat konversi hutan dalam skala besar menjadi lahan perkebunan, pertanian, dan pemukiman mengakibatkan wilayah jelajah gajah terganggu oleh aktivitas manusia. Manusia dan gajah seringkali menginginkan wilayah dengan karakter yang sama, sehingga kerap terjadi konflik di antara keduanya. Hampir setiap hari terjadi konflik antara manusia dan gajah di Sumatera akibat menyempitnya habitat gajah. Kantong populasi gajah menjadi terpecah dan ini berimbas pada menurunnya kemampuan mamalia yang khas dengan belalainya ini untuk bertahan hidup dalam jangka waktu panjang.

Hilangnya hutan sebagai rumah Gajah Sumatera ini akhirnya memaksa mereka masuk ke kawasan berpenduduk untuk mencari makan. Hadirnya tanaman yang disenangi gajah di lahan perkebunan dan pertanian pun mengundang mereka untuk keluar dari habitatnya dan mencari makan di lahan milik masyarakat. Hal inilah yang memicu terjadinya konflik antara manusia dengan Gajah Sumatera. Konflik antara manusia dan Gajah seringkali berujung pada kematian gajah, menimbulkan kerugian materi seperti kerusakan kebun dan pemukiman masyarakat, hingga ada korban manusia meninggal dunia.

Berdasarkan data Departemen Kehutanan tahun 2002, terdapat 82 suku asli Sumatera yang tinggal di sekitar kawasan habitat gajah. Masyarakat adat asli tersebut memiliki kearifan lokal untuk hidup berdampingan dan berbagi ruang dengan satwa liar seperti gajah. Inilah yang seharusnya menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk mencegah terjadinya konflik dengan Gajah Sumatera. Lalu apa yang harus dilakukan jika kita hidup di sekitar habitat Gajah Sumatera? Berikut ini adalah kiat-kiat untuk menghindari dan mencegah konflik dengan Gajah Sumatera.

1.    Jangan membeli lahan di dekat habitat gajah

Jika Anda ingin membangun tempat tinggal di Sumatera, carilah informasi apakah lahan yang akan Anda beli itu dekat dengan habitat gajah atau tidak. Jika berdekatan dengan habitat gajah, sebaiknya batalkan pembelian dan cari lokasi lain yang tidak berdekatan dengan habitat gajah.

2.    Perhitungkan resiko dan kerugian

Bila Anda melakukan usaha di area yang dekat dengan habitat gajah, Anda harus memperhitungkan resiko kerugian dan mengalokasikan biaya cadangan untuk mengurangi konflik dengan gajah dan kerusakan yang akan terjadi di kemudian hari.

3.    Bersihkan kebun di daerah yang berdekatan dengan habitat gajah

Rajinlah membersihkan kebun dari semak belukar. Jangan biarkan kebun anda terlihat seperti semak belukar, karena ini disukai dengan gajah. Gajah Sumatera tidak betah dengan area terbuka, karena mereka membutuhkan tempat bernaung yang sejuk, terutama di siang hari. Gajah juga lebih merasa aman di tempat yang penuh dengan semak belukar.

4.    Hindari memelihara hewan seperti anjing atau sejenisnya

Anjing akan menggonggong saat melihat gajah dan akan membuat gajah terganggu. Rasa tidak nyaman yang ditimbulkan akan membuat gajah cenderung mengejar anjing tersebut. Biasanya jika terjadi demikian, anjing akan berlari ke rumah dan ini akan berpotensi merusak rumah bahkan membahayakan penghuninya

5.    Jagalah selalu rumah dan kebun Anda

Gajah tidak mengenal hutan atau lahan, bahkan pemukiman, yang terpenting bagi mereka adalah makanan. Di alam, gajah tidak akan menyerang manusia jika tidak ada penyebab yang memaksanya untuk melakukan hal tersebut. Biasanya gajah akan menghindar bila bertemu manusia. Gajah biasanya hanya akan menyerang jika terkejut atau mempertahankan diri.

Begitu lah kiat-kiat untuk menghindari konflik dengan Gajah Sumatera jika kita tinggal atau memiliki usaha berdekatan dengan habitat gajah. Gajah merupakan satwa kunci dalam rantai ekosistem. Dengan menyelamatkan gajah, maka kita juga menyelamatkan banyak kehidupan dalam rantai ekosistem. Berbagi ruang merupakan kunci dalam menyelesaikan konflik antara gajah dan manusia. Oleh karena itu, mari kita mulai hidup harmoni dengan alam, terutama bagi yang hidup berdekatan dengan habitat satwa, seperti Gajah Sumatera ini.

 
Tesso Nilo merupkan hutan dataran rendah yang tersisa di Riau. Di dalamnya hidup sekitar 150 ekoar gajah Sumatera, hampir setengah dari populasi gajah Sumatera di Riau berada di kawasan ini
© WWF-Indonesia / Gilang FAbiola Enlarge

Comments

blog comments powered by Disqus