Delapan Hal yang Perlu Diperhatikan Saat Menggiring Gajah Pulang | WWF Indonesia

Delapan Hal yang Perlu Diperhatikan Saat Menggiring Gajah Pulang



Posted on 11 February 2018   |  
anak gajah sumatera
© WWF-Indonesia/supriyanto
Oleh: Nur Arinta

Dalam menjalankan upaya konservasi Gajah Sumatera, ada banyak tantangan yang dihadapi. Salah satu tantangan besar dalam upaya konservasi adalah terjadinya penyusutan habitat. Hutan dikonversi menjadi perkebunan dan pemukiman, membuat satwa yang memiliki telinga lebar ini kehilangan rumahnya. Gajah yang memiliki ingatan yang kuat akan wilayah jelajahnya, tak jarang memasuki perkebunan atau pemukiman masyarakat. Hal ini menimbulkan terjadinya konflik antara gajah dan manusia. Konflik yang terjadi ini seringkali menimbulkan banyak kerugian, mulai dari kerugian materi akibat kerusakan yang dibuat oleh gajah, hingga membuat nyawa gajah maupun manusia.

Apakah Anda tinggal di kawasan sekitar habitat gajah? Jika iya, Anda perlu membaca artikel ini hingga selesai untuk mengetahui bagaimana cara menangani konflik gajah dan manusia jika sewaktu-waktu terjadi di tempat tinggal Anda.

Salah satu cara yang dapat dilakukan saat terjadi konflik gajah dan manusia adalah dengan mengusir gajah yang keluar dari hutan dan masuk ke kawasan pemukiman atau perkebunan. Anda bisa mengusir gajah secara bersama-sama dengan menggunakan meriam karbit, obor, dan bunyi-bunyian lainnya. Ini merupakan cara yang paling sederhana dan tidak menghabiskan banyak biaya. Waktu pengusiran gajah yang efektif dilakukan pada pagi hari, mulai dari jam 8.00 hingga 10.00 atau sore hari dari jam 15.00 hingga 18.00. Selain itu, Anda juga bisa membuat jebakan bunyi-bunyian menggunakan mercon yang dipasang di jalur-jalur masuk gajah yang sudah diketahui dengan jarak yang aman. Ingat, jangan sampai mercon-mercon tersebut melukai gajah-gajah ya!

Nah, pada saat melakukan pengusiran gajah, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan agar tidak menimbulkan masalah baru. Ini di acara-caranya!

1.    Jangan membuat gajah terkejut.

Jika kita membuat gajah terkejut, maka kita tidak dapat memastikan kemana gajah akan berlari. Bisa saja gajah justru lari ke arah pengusir atau justru ke pemukiman. Hal ini akan sangat membahayakan dan dapat menimbulkan permasalahan baru yang lebih besar.

2.    Tentukan ke arah mana gajah akan digiring.

Jangan sampai nantinya gajah diusir dan diarahkan ke pemukiman sebelah atau ke perkebunan di kawasan yang berdekatan. Jika terjadi demikian, tentu ini akan menambah kerusakan dan konflik yang terjadi.

3.    Hindari gajah jantan liar yang sedang birahi.

Gajah secara spesifik tidak memiliki musim kawin, namun biasanya frekuensinya mencapai puncak bersamaan dengan puncak musim hujan. Gajah jantan yang sedang birahi cenderung sering berperilaku mengamuk dan tak terkendali. Tanda-tanda gajah jantan yang sedang birahi, dapat terlihat dari sekresi kelenjar temporal yang meleleh di pipi, antara mata dan telinga denga warna hitam dan berbau merangsang. Perilaku ini biasanya terjadi tiga sampai lima bulan sekali selama satu hingga empat minggu. Sebaiknya gajah jantan yang terlihat memiliki ciri ini dihindari.

4.    Jaga jarak aman dengan gajah.

Seandainya gajah berlari mengejar, Anda masih bisa mengindar atau setidaknya pastikan di sekeliling kita ada pengaman seperti kanal. Kecepatan gajah berjalan dan berlari jauh melebihi kecepatan manusia di medan yang sama. Jika gajah bergerak mengejar, jangan pergi ke tempat terbuka. Bergeraklah ke tempat yang lebih tinggi dari posisi gajah.

5.    Gunakanlah pakaian berwarna gelap saat mengusir gajah.

Jangan menggunakan pakaian berwarna mencolok seperti merah, kuning, atau hijau neon. Gunakanlah pakaian dengan warna yang menyatu dengan lingkungan sekitar, seperti abu-abu, coklat, atau hijau gelap.

6.    Berhati-hatilah saat mengusir gajah.

Bila ada gajah yang mengalami sakit, cedera, dan luka, awasilah gajah tersebut. Gajah cenderung bergerak mengikuti pergerakan anaknya atau gajah yang sakit tersebutyang notabene lebih lambat. Sebaiknya, pengusiran dilakukan secara pelan-pelan tanpa memaksa mereka cepat pergi. Mengusir dengan melukai atau mencederai gajah cenderung akan membuat gajah menjadi agresif, stress, dan menyerang manusia.

7.    Jangan memasang jerat dalam mengurangi konflik gajah.

Jangan memasang jerat dalam mengurangi konflik gajah. Gajah adalah satwa yang cerdas dan dapat memutuskan jeratan pada kakinya. Jika jerat tersebut tetap melekat pada kakinya, gajah tersebut akan sakit daam waktu lama dan akan menjadi agresif karena berupaya mempertahankan diri. Hal ini tentu membuat gajah akan semakin sulit diusir dan keluar dari kawasan perkebunan atau pemukiman. Hal ini juga tidak bisa dibilang dapat menyelesaikan konflik antara gajah dan manusia karena melukai gajah, bahkan bisa membuat gajah mati karena infeksi.

8.    Perhatikan pembuatan rencana pengusiran gajah kelompok besar.

Pada kawasan yang sering dimasuki kelompok gajah, buatlah perencanaan pengusiran gajah dengan semua pihak terkait sehingga kordinasi penggiringan menjadi efektif. Ini untuk memastikan bahwa kelompok gajah tersebut tidak berpindah ke perkebunan atau pemukiman lain dan menimbulkan konflik baru.

Nah, itu semua hal yang perlu diperhatikan saat melakukan pengusiran gajah. Jika Anda melakukan pengusiran gajah yang masuk ke area pemukiman atau perkebunan, pastikan resiko yang ditimbulkan seminimal mungkin dan jangan sampai ada korban yang terluka bahkan meninggal, baik itu manusia atau gajahnya. Lebih baik mencegah, daripada mengobati. Itu artinya, berbagi ruang dengan satwa liar seperti gajah untuk mencegah terjadinya konflik jauh lebih baik lagi daripada tidak memedulikan habitat gajah hingga terjadi konflik. Namun jika gajah terlanjur masuk ke dalam kawasan manusia, jangan bunuh gajahnya, tapi usir gajah dengan baik dan giring gajah kembali ke hutan.

 
anak gajah sumatera
© WWF-Indonesia/supriyanto Enlarge

Comments

blog comments powered by Disqus