Perempuan, Peran dan Kearifan Lokalnya dalam Ketahanan dan Kedaulatan Pangan | WWF Indonesia

Perempuan, Peran dan Kearifan Lokalnya dalam Ketahanan dan Kedaulatan Pangan



Posted on 08 March 2018   |  
Sekelompok Ibu-ibu yang asik pergi meladang.
© WWF-Indonesia/Komang
Oleh: Cristina Eghenter

Perempuan adalah bagian sangat penting dari kehidupan secara umum. Perempuan juga merupakan ‘tuan rumah ekologi’ sebagaimana didefinisikan oleh beberapa pakar dan aktivis. Perempuan memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga ketahanan pangan dan pengolahan sumber daya alam. Keterlibatan perempuan dalam pengambilan keputusan terkait konservasi dan kelestarian lingkungan sangat dibutuhkan.

Perempuan adalah antara lain petani, pengumpul dan pengolah sumber daya alam, penjual dan pedagang, pemasak dan pengatur kehidupan rumah tangga. Pengambilan keputusan terkait pemanfaatan  sumberdaya dan ketersediaan pangan sering ada di tangan perempuan yang juga menjaga agar  perekonomian keluarga tetap sejahtera.

Dalam agenda pembangunan berkelanjutan, peran perempuan diakui dalam aktivitas pertanian, menjaga sumber daya pertanian, dan mempromosikan praktik pertanian yang berkelanjutan. Bila perempuan diikutsertakan dalam pengambilan keputusan, maka masa depan yang lebih baik bagi generasi mendatang, baik manusia maupun alam akan terwujud.

Perempuan adalah tonggak dalam pertanian sekala kecil atau susbsisten; mulai dari produksi, distribusi, hingga konsumsi. Model produksi yang melibatkan perempuan sebagai pemegang kendali ini, tidak hanya akan memastikan ketahanan pangan dan nutrisi dengan muu baik terjaga, tapi juga pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan akan diterapkan. Dalam hal ini, perempuan memiliki kontribusi signifikan dalam menjaga ketahanan pangan dan kelestarian lingkungan melalui pengetahuan dan keterlibatannya.

'Keanekaragaman' dan 'lokalitas' tanaman dan plasma nutfah lainnya adalah cara untuk membangun ketahanan dalam mengatasi krisis iklim dan lingkungan yang terjadi. Peran pengetahuan perempuan penting dalam melindungi keanekaragaman tersebut.  Biodiversitas sumber pangan lokal yang kaya dapat menyimpan sifat-sifat yang menguntungkan jika  kondisi lingkungan berubah. Ini adalah karunia tanaman yang kita butuhkan untuk mempertahankan dan melindungi sumber pangan yang berdaulat.

Pengetahuan tradisional terkait pertanian dan pemanfaatan sumber pangan yang dimiliki perempuan bisa membuat perempuan menjadi inovator dalam pertanian berkelanjutan. Namun sering terjadi perempuan justru jarang dilibatkan oleh pengambil kebijakan untuk membahas pertanian dan tidak diakui sebagai petani yang produktif. Upaya untuk menjamin ketahan pangan sering difokuskan pada peningkatan produksi, padahal ada hal-hal di luar produksi yang juga sama pentingnya di mana peranan perempuan sangat penting di sana, seperti edukasi, kesehatan, dan mutu gizi.

Komitmen dan aksi bersama untuk berbagi pengalaman, pengetahuan kearifan tradisional yang dimiliki perempuan perlu dilakukan sebagai sebuah upaya penguatan komunitas yang efektif dan didukung secara finansial, dengan organisasi, sekolah petani perempuan, pasar untuk perempuan dan pangan lokal, dan lainnya.

Hari Perempuan sedunia ini dapat menjadi momentum penting yang memberikan peluang bagi perempuan untuk berdaya sebagai pihak yang memegang peranan penting terhadap produksi pangan dan upaya peningkatan nutrisi. Tidak hanya itu, ini adalah momen untuk menyuarakan aspirasi dan kesejahteraan perempuan. Sudah saatnya perempuan turut aktif dan dilibatkan secara nyata dalam menjaga ketahanan pangan serta menjadi bagian dalam solusi dunia untuk transformasi produksi dan konsumsi menuju lingkungan, ekonomi, dan sosial yang berkelanjutan.


 
Sekelompok Ibu-ibu yang asik pergi meladang.
© WWF-Indonesia/Komang Enlarge
Kelompok Perempuan Karya Basamo sedang mendaur ulang sampah plastik.
Kelompok Perempuan Karya Basamo sedang mendaur ulang sampah plastik.
© WWF-Indonesia/Doni Susanto Enlarge

Comments

blog comments powered by Disqus