Selangkah Lagi, Kelompok Tani Kakao Cipta Mandiri Penuhi Target Ekspor Tahunan | WWF Indonesia

Selangkah Lagi, Kelompok Tani Kakao Cipta Mandiri Penuhi Target Ekspor Tahunan



Posted on 13 March 2018   |  
Hasil biji kakao kering yang siap dipasarkan.
Hasil biji kakao kering yang siap dipasarkan.
© WWF-Indonesia
Oleh: Fahriy Dwi Winata
 
Di saat ujung barat Indonesia bangga dengan kenikmatan kopinya, di ujung timur Indonesia tak kalah bangga dengan biji kakao premiumnya. Para petani kakao masih berkutat mengejar memenuhi kebutuhan ekspor dan tetap mempertahankan kualitasnya.
 
Ada empat kelompok petani organik kakao dari Kabupaten Jayapura, Papua, yaitu kelompok tani Pato, Srukumani, Cipta Mandiri, dan Nembu. Jika sebelumnya kelompok tani Srukumani mampu meningkatkan panen dalam dua bulan hingga 150%, Ariklaus Lensru, salah satu petani kakao di Kampung Klaisu yang tergabung dalam kelompok tani Cipta Mandiri optimis hasil panennya akan terus meningkat setiap bulannya. Ariklaus bertani kakao di lahan miliknya seluas 1,5 hektare. Petani kakao berusia 57 tahun ini selalu mengalami peningkatan panen setiap tahunnya, terutama pada tahun 2017.
 
[Baca juga: Cokelat Kerafat, Asal Tanah Papua yang Go Internasional]
 
Pada tahun-tahun sebelumnya, untuk menghasilkan biji kakao kering sebanyak 2-3 ton harus membutuhkan waktu 6-7 bulan, sedangkan pada tahun 2017, biji kakao kering yang dihasilkan dapat mencapai 2-3 ton hanya dalam waktu tiga bulan. Pada tahun 2018 ini, ia pun cukup optimis. “Saya sudah prediksi pada tahun 2018 dapat mencapai jumlah hingga 10-12 ton,” ucap Ariklaus. Hal ini diperkuat dengan melihat hasil panen pada Februari 2018 saja yang mencapai 1,42 ton. Target ekspor petani untuk memenuhi permintaan Original Beans (perusahaan cokelat di Belanda –Red) adalah 15 ton per tahun.
 
Ariklaus pun turut bangga ketika sistem rumah fermentasi di kelompok taninya menginspirasi pemerintah Kabupaten Jayapura untuk mengaplikasikan sistem tersebut pada beberapa kelompok tani lainnya. Baginya, menjadi petani kakao bukan saja untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga, tetapi ibadah dalam menebarkan kebaikan bagi orang lain.
 
[Baca juga: Sophia Kwano: Bertani Kakao Belanda, Membantu Konservasi dan Ekonomi Keluarga]
 
Kakao “Belanda” milik Ariklaus ini termasuk dalam kakao varietas criollo (jenis kakao terbaik) dan dibudidayakan secara organik dengan konsep wanatani (agroforestry). Pohon-pohon kakao tumbuh di antara pepohonan lainnya yang memiliki fungsi lain sebagai pelindung pohon kakao dari sinar matahari yang terlalu banyak karena berdampak kurang baik untuk pertumbuhan pohon kakao. Beginilah yang petani lakukan dalam meningkatkan fungsi dan manfaat hutan untuk masyarakat.
 
Sejak tahun 2014 hingga saat ini, WWF-Indonesia Program Papua masih memfasilitasi para petani kakao yang tergabung dalam beberapa kelompok tani di Kabupaten Jayapura dalam bentuk pendampingan. “Dalam kurun waktu dari 2014-2017, WWF-Indonesia Program Papua telah melakukan beberapa program, di antaranya pendidikan dan pelatihan pengembangan budidaya kakao organik dengan konsep agroforestry, proses sertifikasi kakao organik, dan pelatihan manajemen keuangan untuk para petani kakao,” terang Kornelis Kindem, Community and Outreach Officer WWF-Indonesia Program Papua.
Hasil biji kakao kering yang siap dipasarkan.
Hasil biji kakao kering yang siap dipasarkan.
© WWF-Indonesia Enlarge
Kakao Belanda (Kakao Kerafat)
Kakao Belanda (Kakao Kerafat)
© WWF-Indonesia/ Andhiani M. KUMALASARI Enlarge

Comments

blog comments powered by Disqus