21 Penyu Ditemukan Terdampar Mati di Pesisir Paloh Akibat Cemaran | WWF Indonesia

21 Penyu Ditemukan Terdampar Mati di Pesisir Paloh Akibat Cemaran



Posted on 11 April 2018   |  
Pemeriksaan penyu yang tercemar limbah di Paloh
© Hendro/WWF-Indonesia
Oleh: Dwi Suprapti (Marine Species Coordinator WWF-Indonesia), Fidry Rahmanda dan Maulid Dio (Flying Vet Indonesia)

Sebanyak 21 ekor penyu ditemukan terdampar di pesisir Paloh, Kalimantan Barat, dalam keadaan mati dan membusuk. Tim monitoring penyu WWF-Indonesia di Paloh mencatat kejadian terdampar mati penyu-penyu tersebut ditemukan secara berturut-turut sejak tanggal 6 Februari hingga 7 April 2018, dengan temuan terdampar mati sebanyak 11 ekor penyu terjadi pada tanggal 6 April 2018.
 
Penyu yang terdampar tunggal dan terpisah-pisah lokasi di sepanjang pesisir Paloh ini hampir keseluruhannya ditemukan dalam kondisi mati dan telah membusuk, hanya temuan tanggal 9 Februari saja yang kondisi penyunya ditemukan dalam keadaan hidup dan sakit, namun akhirnya mati setelah 9 hari direhabilitasi.
 
Tim gabungan BKSDA Kalimantan Barat, BPSPL Pontianak, WWF-Indonesia dan tim medik dari Flying Vet Indonesia segera meluncur ke lokasi untuk melakukan tindakan nekropsi atau bedah bangkai untuk mengetahui penyebab kematian penyu-penyu tersebut.
 
Hasil pemeriksaan medik yang dilakukan oleh dokter hewan Flying Vet Indonesia mengindikasikan bahwa penyu yang dijumpai terdampar dalam kondisi mati disebabkan oleh faktor keracunan limbah kimia B3 yang menyerupai aspal. Sedangkan penyu yang terdampar sakit kematiannya disebabkan oleh malnutrisi sebagai akibat tersumbatnya lambung penyu karena mengkonsumsi sampah plastik yang berukuran besar (5 cm x 8 cm).
 
Pesisir Paloh merupakan habitat penting bagi 4 jenis penyu yaitu Hijau (Chelonia mydas), Sisik (Eretmochelys imbricate), Lekang (Lepidochelys olivacea) dan Belimbing (Dermochelys coriacea). Selain sebagai habitat peneluran, wilayah ini juga merupakan habitat pakan, habitat perkawinan serta jalur migrasi atau lalu lintas penyu.  Tak hanya bagi penyu, perairan ini juga menjadi lalu lintas penting bagi berbagai kapal antar negara baik kapal perikanan, tanker hingga cargo. Mengingat secara geografis lokasi ini berhadapan langsung dengan laut cina selatan yang dikelilingi oleh beberapa negara.
 
Dengan kejadian luar biasa ini, WWF-Indonesia bersama tim dokter hewan Flying Vet Indonesia melakukan observasi cepat kondisi perairan pesisir Paloh dan menemukan banyak tali plastik yang tersangkut pada alga merah (salah satu pakan dari penyu hijau), sampah plastik lainnya juga ditemukan disepanjang garis pantai seperti botol plastik, kantong plastik, pembungkus makanan, dan lain-lain.
 
Selain sampah plastik, cemaran berupa material berwarna hitam dengan konsistensi padat yang banyak dijumpai disepanjang Pantai Paloh dalam kurun waktu lebih dari 2 bulan. Pantai paloh dengan pasir yang putih menjadi tertutupi oleh material hitam yang berpadu dengan pasir membentuk gumpalan yang persis menyerupai ikatan antara cairan aspal dan agregat pasir pada konstruksi jalan.
 
Material hitam pekat yang ditemukan menutupi di sebagian pantai tersebut sama persis dengan material hitam yang ditemukan menempel dan menggumpal pada saluran pencernaan penyu yang telah dinekropsi. Materi ini telah mencemari habitat pakan penyu sehingga termakan oleh penyu. Hal ini diperkuat dengan ukuran penyu yang mati adalah didominasi oleh penyu muda atau juvenile (20 – 50 cm) yang umumnya tinggal di habitat pakan serta hasil nekropsi yang menunjukkan penyu mati dalam kondisi akut pasca makan.
 

Pemeriksaan penyu yang tercemar limbah di Paloh
© Hendro/WWF-Indonesia Enlarge
Cemaran aspal tampak atas
© Hendro/WWF-Indonesia Enlarge
Penyu yang ditemukan hampir keseluruhannya ditemukan dalam kondisi mati dan telah membusuk
© Hendro/WWF-Indonesia Enlarge

Comments

blog comments powered by Disqus