Balai TNTB dan WWF-Indonesia Adakan Pelatihan Calon Pemandu Selam Tingkat Rescue Kepada Masyarakat Binaan | WWF Indonesia

Balai TNTB dan WWF-Indonesia Adakan Pelatihan Calon Pemandu Selam Tingkat Rescue Kepada Masyarakat Binaan



Posted on 16 May 2018   |  
Menyelam
© © Jürgen Freund / WWF
Oleh: Asri (Taman Nasional Taka Bonerate) dan Martina Rahmadani (Responsible Marine Tourism Officer)

Taka Bonerate sebagai salah satu Taman Nasional Laut di Indonesia memiliki keindahan bawah laut memukau mata dengan hamparan gusung dan pasir putih yang indah. Terletak di Kabupaten Selayar, Sulawesi Selatan, perairan Taman Nasional Taka Bonerate sering dilalui sekelompok lumba-lumba, hiu, dugong, dan penyu. Perairannya yang jernih dihidupi terumbu karang yang indah, sehingga dengan keragaman hayati yang tinggi tersebut TN Taka Bonerate dinobatkan sebagai Cagar Biosfer yang ke-10 di Indonesia pada Tahun 2015 silam.

Menjadi salah satu kawasan strategis pariwisata nasional, pengelola TN Taka Bonerate menghadapi tantangan untuk mengoptimalkan kawasannya sebagai destinasi wisata unggulan. Dengan statusnya sebagai kawasan konservasi, dibutuhkan pengelolaan wisata dengan prinsip berkelanjutan yang melibatkan berbagai pihak, meliputi masyarakat lokal, pemerintah setempat serta para pelaku usaha di bidang wisata.

Participatory, community goals dan training merupakan prinsip yang menitikberatkan peran serta masyarakat lokal agar pengelolaan wisata yang akan dikembangkan dapat sesuai dengan tujuan serta kebutuhan masyarakat. Namun, untuk mencapai hal tersebut, masyarakat butuh kapasitas yang memadai sehingga mereka dapat memanfaatkan sumber daya yang ada secara bijak.

Salah satu langkah yang dapat dilakukan untuk menjadikan TN Taka Bonerate sebagai kawasan wisata berkelanjutan, ialah perlunya peningkatan kapasitas menyelam untuk menjadi pemandu selam profesional yang memenuhi standar keamanan dan keselamatan. Maka, WWF-Indonesia bersama Balai Taman Nasional Taka Bonerate (Balai TNTB) melakukan pelatihan selam profesional pada 7 – 9 Mei lalu yang dilatih oleh instruktur profesional dari WWF.

Bertempat di Ruang Rapat Balai TNTB, pelatihan dibuka secara resmi oleh Kepala Balai Faat Rudhianto, dan juga dihadiri oleh Kepala SPTN I Muhammad Hasan dan Kepala SPTN II Jinato Abd. Rajab. Dalam sambutannya, Kepala Balai TNTB berpesan agar peserta serius dan sungguh-sungguh mengikuti pelatihan sampai selesai, menyerap ilmu dan keterampilannya, karena mereka akan menjadi pemandu selam yang profesional dalam kawasan TN Taka Bonerate.

Peserta yang mengikuti pelatihan telah diseleksi berdasar kemampuan dasar menyelam oleh tim penyelenggara untuk mengikuti serangkaian aktivitas yang cukup padat. Dengan tujuan untuk meningkatkan perwakilan anggota kelompok pariwisata berbasis masyarakat yang memenuhi standar, instruktur selam menyampaikan pemahaman dasar yang harus dimiliki oleh seorang rescuer dalam menanggulangi situasi gawat darurat ketika terjadi kecelakaan atau kepanikan saat menyelam.

"Ada empat hal yang harus dilakukan ketika ditemukan masalah saat penyelaman: pertama berhenti terlebih dahulu, kedua nafas teratur, ketiga berfikir cepat dan keempat bertindak. Stres bisa dialami siapa pun saat menyelam, maka sebagai seorang pemandu kita harus mengetahui kondisi wisatawan” jelas Anton Wijonarno, instruktur selam dari WWF.

Pelatihan selam meliputi materi kelas dan praktik di laut lepas yang dibagi menjadi dua, yaitu praktik simulasi dan praktik langsung di laut. Pada praktiknya, peserta dihadapkan pada beberapa skenario yang telah dirancang, seperti ditemukannya korban tenggelam dan dalam kondisi pingsan. Pada kondisi tersebut peserta harus segera melakukan simulasi CPR (Cardiopulmonary Resuscitation/resusitasi Jantung) dan penanganan korban setelah sadar.

“Dalam simulasi CPR dan penanganan korban setelah sadar, ternyata membutuhkan ketenangan dan ketepatan agar korban tidak mengalami hal yang lebih buruk lagi” ujar Daus, salah satu peserta dari Pulau Rajuni

Pada skenario lainnya, tim penyelenggara menyiapkan korban di tengah laut dalam kondisi terapung dan dibutuhkan penyelamatan segera di saat peserta sedang melakukan penyelaman. Dengan adanya praktik dan pelatihan ini peserta diharapkan mampu menjadi penolong pertama saat terjadi kecelakaan di laut baik saat penyelaman mau pun saat terjadi kecelakaan dipermukaan.

Selain peningkatan kapasitas melalui pelatihan, monitoring dan evaluasi juga sangat dibutuhkan. Monitoring dan evaluasi dapat dilakukan dengan cara pendampingan yang intens. Kedepannya WWF bersama Balai TNTB akan melakukan pendampingan intens kepada kelompok di dalam kawasan untuk menyiapkan sumber daya pelaku wisata yang mumpuni baik dari sisi teknis kepariwisataan mau pun dari sisi kepedulian terhadap keberlangsungan lingkungan sekitar, sehingga kesejahteraan masyarakat di dalam kawasan TN Taka Bonerate lebih baik.

Menyelam
© © Jürgen Freund / WWF Enlarge
Diskusi terkait materi yang diberikan
© Asri/Taman Nasional Taka Bonerate Enlarge

Comments

blog comments powered by Disqus