Ketika Fashion Mulai Mempertimbangkan Kelestarian Alam | WWF Indonesia

Ketika Fashion Mulai Mempertimbangkan Kelestarian Alam



Posted on 20 July 2018   |  
Panda Mobile di “X-Otics Endemic Fashion Show” Universitas Negeri Jakarta (14/05/2018).
Panda Mobile di “X-Otics Endemic Fashion Show” Universitas Negeri Jakarta (14/05/2018).
© WWF-Indonesia
Oleh: Hanna Astaranti (Panda Mobile Staff)
 
Apa hubungan antara fashion dan lingkungan hidup? Tak banyak yang tahu bahwa gaya hidup dalam memilih fashion dapat berpengaruh pada lingkungan hidup. Sebut saja pakaian-pakaian yang terbuat dari bulu atau kulit hewan. Bahkan ada yang berasal dari kulit satwa yang dilindungi. Selain itu, industri tekstil merupakan salah satu sektor industri yang menyumbang emisi karbon dalam jumlah besar. Dalam proses pembuatannya, limbah tekstil juga dapat berdampak negatif bagi lingkungan sekitar. Belum lagi kebiasan membeli baju baru hanya karena memenuhi nafsu belanja. Kebiasaan tersebut hanya akan meningkatkan jumlah sampah.
 
Namun kini sudah banyak pihak yang mulai mempertimbangkan kelestarian alam dalam hubungannya dengan fashion. Hal tersebut juga terjadi di Fakultas Seni dan Desain, Universitas Negeri Jakarta pada Senin (14/05). Dalam sebuah acara bertajuk “X-Otics Endemic Fashion Show”, Panda Mobile WWF-Indonesia diundang untuk berbagi ilmu dan berdiskusi mengenai hewan endemik dan pengolahan sampah.
 
[Baca juga: Cara Mengundang Panda Mobile]
 
Sebanyak 120 mahasiswa dengan antusias menyambut kedatangan Panda Mobile WWF-Indonesia. Sani Firmansyah, selaku perwakilan dari Panda Mobile WWF-Indonesia berbicara mengenai satwa-satwa endemik yang berada di Indonesia, mulai dari ciri-ciri, habitat, dan ancaman terhadap keberlangsungan hidup satwa di alam liar. Salah satu contohnya adalah keberadaan Harimau Sumatera. Harimau asli Indonesia ini adalah satu-satunya sub-spesies harimau yang tersisa di Indonesia. Sebelumnya terdapat dua sub-spesies lain, yaitu Harimau Jawa dan Harimau Bali. Dua jenis harimau ini sudah lebih dahulu punah dikarenakan perburuan besar-besaran yang dilakukan oleh manusia. Status Harimau Sumatera saat ini adalah Critically Endangered karena hanya tersisa 371 individu di habitat alaminya.
 
Selain menjelaskan mengenai satwa endemik yang ada di Indonesia, Sani juga menjelaskan mengenai bahaya sampah bagi keberlangsungan hidup satwa. Sedotan plastik yang biasa kita gunakan umumnya hanya digunakan untuk satu kali pemakaian saja. Padahal, sedotan plastik membutuhkan waktu yang sangat lama untuk hancur. Mikroplastik yang merupakan bagian terkecil dari plastik pun akan tetap ada dan tidak dapat dihilangkan. Hal ini sangat membahayakan hewan laut yang akan kita konsumsi karena kandungan mikroplastik dikatakan berisiko menyebabkan berbagai penyakit. Sampah sedotan plastik yang dibuang sembarangan juga dapat berujung ke laut dan membahayakan biota laut yang menyangka bahwa sedotan tersebut adalah makanannya. Banyak kejadian yang menunjukan adanya sampah plastik di dalam perut penyu terdampar yang sudah dinekropsi. Seketika para peserta mendesah kecewa dengan kenyataan akan banyaknya sampah yang dibuang secara sembarangan.
 
Dalam kaitannya antara satwa endemik dan fashion, Sani menyampaikan pentingnya untuk mencari tahu dari mana asal produk yang akan kita beli. Melalui kampanye #BeliYangBaik, para peserta disarankan untuk tidak membeli baju yang terbuat dari kulit satwa seperti buaya, ular, maupun harimau. Mereka juga diimbau untuk tidak membeli suvenir atau aksesori yang bahan-bahannya berasal dari satwa karena akan berdampak buruk bagi kelestarian satwa di alam liar.
Panda Mobile di “X-Otics Endemic Fashion Show” Universitas Negeri Jakarta (14/05/2018).
Panda Mobile di “X-Otics Endemic Fashion Show” Universitas Negeri Jakarta (14/05/2018).
© WWF-Indonesia Enlarge
Panda Mobile di “X-Otics Endemic Fashion Show” Universitas Negeri Jakarta (14/05/2018).
Panda Mobile di “X-Otics Endemic Fashion Show” Universitas Negeri Jakarta (14/05/2018).
© WWF-Indonesia Enlarge

Comments

blog comments powered by Disqus