Diskusi Konservasi: Pelesir, Pesisir, dan Konservasi | WWF Indonesia

Diskusi Konservasi: Pelesir, Pesisir, dan Konservasi



Posted on 12 September 2018   |  
DisKo: Pelesir, Pesisir, dan Konservasi (07/09/2018).
DisKo: Pelesir, Pesisir, dan Konservasi (07/09/2018).
© WWF-Indonesia/Syevira CITRA
Oleh: Denaya Karenzi (Volunteer Panda Mobile)
 
Hobi traveling memang sedang digandrungi masyarakat, apalagi kaum milenial yang hidupnya selalu berburu objek foto untuk kebutuhan sosial media. Dari Sabang sampai Merauke terdapat banyak objek wisata. Pantai menjadi salah satu objek wisata yang paling disukai masyarakat. Dengan panjang garis pantai 99.000 kilometer, Indonesia menjadi negara dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia. Tidak heran banyak orang yang menjadikan pantai sebagai tujuan berlibur dan berfoto ria. Oleh karena itu, perlu sebuah kesadaran bersama bahwa kegiatan wisata yang kita lakukan di daerah pesisir akan berpengaruh terhadap ekosistem di kawasan tersebut.
 
[Baca juga: Diskusi Konservasi: Memberantas Perdagangan Ilegal Satwa]
 
Dalam sebuah Diskusi Konservasi (DisKo) yang berlangsung di Kaskus Playground pada Jumat (07/09) yang lalu, WWF-Indonesia mengajak masyarakat untuk menyadari potensi tersebut. Diskusi Konservasi bertajuk "Pelesir, Pesisir, dan Konservasi" itu menghadirkan Anton Wijonarno, Marine Protected Area for Fisheries Manager WWF-Indonesia.
 
Anton membuka diskusi dengan memperlihatkan keindahan daerah pesisir Indonesia melalui beberapa video yang disuguhkan. "Selama ini Indonesia masih memunggungi laut. Kita digadang-gadang sebagai negara agraris, padahal sebenarnya Indonesia adalah negara maritim.” Anton juga menyampaikan bahwa prediksi tentang Indonesia yang akan kehabisan ikan itu sangat mungkin terjadi bila tidak adanya perubahan perilaku masyarakat dalam pemanfaatan laut. Selain ikan, Indonesia juga menjadi rumah bagi enam jenis penyu dan berbagai keanekaragaman hayati pesisir.
 
“Kita kan tinggalnya jauh dari kehidupan pesisir (sehingga) sering merasa tidak ada keterkaitannya dengan kegiatan masyarakat perkotaan. Apakah ada dampak (kegiatan masyarakat kota) terhadap kelestarian pesisir?” tanya Mira, salah seorang peserta DisKo. “Banyak (hal) sepele yang dapat kita lakukan sehari-hari yang dapat memberi dampak yang cukup besar. Dengan mengurangi sampah plastik, kita membantu melestarikan laut dan biotanya, karena penumpukan sampah plastik yang dibuang dari bantaran sungai akan bermuara ke laut. Di laut, penyu memburu plankton atau ubur-ubur untuk makanannya. Sampah plastik yang terombang-ambing di laut terlihat seperti ubur-ubur bagi penyu, sehingga mereka memakannya dan akhirnya mati," terang Anton.
 
Anton juga memaparkan kondisi pesisir Indonesia yang semakin memprihatinkan. Dari 34 provinsi di Indonesia, hanya lima yang menunjukkan perbaikan lahan mangrove. Memang pembangunan tidak dapat dicegah seiring bertumbuhnya kebutuhan masyarakat, namun konservasi bukan berarti menghentikan semua aktivitas pembangunan, tetapi berusaha lebih bijaksana dalam pemanfaatan sumber daya.  “Selain berfoto ria saat berkunjung ke pesisir, kita dapat berkontribusi dan membantu WWF-Indonesia dengan melaporkan kondisi objek wisata yang kita kunjungi dengan aplikasi "Marine Buddies". Jadi, kita bisa pelesir ke pesisir sambil melakukan konservasi,” tutur Anton di akhir sesi Diskusi Konservasi.
DisKo: Pelesir, Pesisir, dan Konservasi (07/09/2018).
DisKo: Pelesir, Pesisir, dan Konservasi (07/09/2018).
© WWF-Indonesia/Syevira CITRA Enlarge
DisKo: Pelesir, Pesisir, dan Konservasi (07/09/2018).
DisKo: Pelesir, Pesisir, dan Konservasi (07/09/2018).
© WWF-Indonesia/Syevira CITRA Enlarge
DisKo: Pelesir, Pesisir, dan Konservasi (07/09/2018).
DisKo: Pelesir, Pesisir, dan Konservasi (07/09/2018).
© WWF-Indonesia/Syevira CITRA Enlarge

Comments

blog comments powered by Disqus