Nelayan Paloh Pasang Lampu LED Hijau di Jaring, Angka Tangkapan Sampingan Penyu Turun 61% | WWF Indonesia

Nelayan Paloh Pasang Lampu LED Hijau di Jaring, Angka Tangkapan Sampingan Penyu Turun 61%



Posted on 21 September 2018   |  
Implementasi LED Hijau sebagai upaya mitigasi bycatch penyu di nelayan gillnet Paloh.
© Fahmi / WWF-Indonesia
Oleh: Darwan Saputra (Fisheries Bycatch Improvement Program, WWF-Indonesia)

Aktivitas bongkar muat kapal jaring insang hanyut di Pelabuhan Liku, Desa Sebubus, Kabupaten Paloh setiap harinya dapat dijumpai dari pagi sampai sore hari. Proses jual beli ikan, pemuatan bahan bakar, ransum dan es terlihat cukup memadati pelabuhan. Jumlah armada yang bisa mencapai 50 unit kapal penangkapan ikan bisa berlabuh di tempat ini ketika musim ombak dan angin kencang sehingga tidak memungkinkan nelayan untuk melaut. 

Berbeda dengan aktivitas nelayan lainnya, sudah 3 hari ini, salah seorang nelayan jaring insang hanyut, yang akrab disapa Pak Pendi, tengah sibuk dengan kapalnya. Proses bersih-bersih yang dilakukannya mulai dari perbaikan jaring yang rusak, memoles badan kapal yang di beberapa titik mengalami kebocoran kecil, dan mengecat ulang kapal yang biasanya dilakukan dalam kurun waktu 3 bulan sekali. Demi menjaga ketahanan kapal dan alat tangkap milliknya.

“Jaring insang hanyut ini punya panjang jaring yang bisa mencapai 1.5 mil laut,  ukuran mata jaring 8 inci,  dan ikan bawal putih lah target tangkapan utama saya,” cerita Pak Pendi. Dengan lama trip penangkapan 3-5 hari, selain ikan bawal putih sebagai target, Pak Pendi bercerita tentang seringnya beberapa jenis penyu tertangkap secara tidak sengaja.

“Bahkan hampir setiap trip, ada interaksi dengan biota yang dilindungi tersebut,” ungkapnya. Sebagai salah nelayan percontohan di Desa Sebubus, Pak Pendi seringkali menangani penyu di atas kapal sesuai Better Management Practices (BMP) Penanganan Penyu sebagai Hasil Tangkapan Sampingan (Bycatch) yang disosialisasikan WWF-Indonesia.

Dari data WWF-indonesia, hasil tangkapan sampingan atau bycatch yang telah teridentifikasi di Perairan Paloh sejak 2013 – 2017 dengan rata-rata bycatch berkisar 720-1152 ekor penyu pada perikanan jaring insang (gillnet) bawal.

WWF-Indonesia telah melakukan upaya pendampingan penanganan hasil tangkapan sampingan penyu yang tertangkap secara tidak sengaja dengan target nelayan di Pontianak sampai sekitaran Paloh, Kalimantan Barat.

Selain upaya pendampingan penanganan hasil tangkapan sampingan penyu, WWF-Indonesia juga memperkenalkan implementasi lampu Light-Emitting Diode (LED) hijau di alat tangkap jaring insang milik nelayan di perairan Paloh. Uji coba pemasangan lampu LED pada jaring insang nelayan di Paloh telah dilakukan sejak 2014 hingga 2017. Uji coba lampu LED hijau dilakukan pada jaring insang berbahan dasar monofilament dengan mata jaring 8 inchi dipasang di setiap jarak 10 meter yang telah diberi tanda.

Biasanya nelayan menebar jaring pada sore hari pukul 16:30 dan mengangkat jaring pada pukul 02:00 pagi tergantung pada lokasi penangkapan dan cuaca, selama kurang lebih 10 jam jaring dibiarkan di dalam air. Lampu LED hijau ini untuk menghindari kontak secara langsung terhadap bycatch penyu tersebut pada alat penangkapan ikan (API).

Tujuannya antara lain untuk menekan ancaman terhadap kelangsungan populasi penyu di wilayah perairan Paloh yang menjadi salah satu pantai peneluran dan habitat penting beberapa jenis penyu. Dalam hal uji coba lampu LED Hijau, interaksi biota ETP penyu ini mengalami penurunan yang signifikan dan kerap kali beberapa ekor ikan bawal terjerat di area jaring yang dipasangi lampu LED hijau.

“Cahaya hijau yang dihasilkan oleh lampu LED bisa terdeteksi oleh penyu sehingga satwa itu menjauh atau mengubah arah renang dan tidak akan terjerat oleh gillnet,” jelas Dwi Ariyogagautama, Bycatch & Shark Conservation Coordinator, WWF-Indonesia.

Dari 69 trip berpasangan selama 1 season, yang awalnya kisaran bycatch mencapai 720-1152 ekor penyu, penurunan  bycatch mencapai 61.4%. Hasil tangkapan ikan target bawal nelayan pun mengalami peningkatan 11.6% dan mendapatkan benefit dari hasil penjualan ikan mencapai 14.3%.

“Semoga, program pemasangan lampu LED ini bisa berlanjut, jadi lebih banyak lagi nelayan yang bisa ikut mencoba dan merasakan manfaatnya, baik dari hasil tangkapan maupun berkurangnya penyu yang tertangkap tidak sengaja,” ungkap Pak Pendi.

Implementasi LED Hijau sebagai upaya mitigasi bycatch penyu di nelayan gillnet Paloh.
© Fahmi / WWF-Indonesia Enlarge
footage video dalam pembuatan profil uji coba LED hijau di nelayan Paloh
© Darwan Saputra / WWF-Indonesia Enlarge
Yoga dalam penanganan penyelamatan Penyu Lekang yang menjadi tangkapan sampingan dari alat tangkap gillnet di perairan Paloh, Kalimantan
© Dwi Ariyoga Gautama Enlarge
Lampu LED berwarna hijau menghindarkan penyu dari terjerat jaring nelayan
© WWF-Indonesia Enlarge
Lampu LED yang terpasang pada jaring
© WWF-Indonesia / Dwi Ariyogagautama Enlarge
Antusiasme Peserta Talkshow Melihat Lampu LED Hijau Sebagai Salah Satu Teknologi Mitigasi Bycatch
© Vinni Nurizky/WWF-Indonesia Enlarge

Comments

blog comments powered by Disqus