Yuk, Berwisata Sambil Jaga Lingkungan di 3 Desa Ekowisata Alor Ini! | WWF Indonesia

Yuk, Berwisata Sambil Jaga Lingkungan di 3 Desa Ekowisata Alor Ini!



Posted on 09 October 2018   |  
Kanak-kanak Alor dalam Expo Alor meramaikan stand WWF Indonesia
© WWF-Indonesia
Oleh: Alexandra M. Waskita (Dugong & Seagrass Conservation Program (DSCP) Site Manager, Alor)

Ada yang istimewa dari ajang pameran pariwisata Expo Alor tahun ini (20/09/2018). Alor memperkenalkan 3 destinasi desa ekowisata baru yang mengajak wisatawan menikmati alam sambil merawatnya. Tak hanya itu, tema perlindungan laut juga disosialisasikan pada oleh pengunjung Expo Alor, yang merupakan bagian dari kawasan Suaka Alam Perairan (SAP) Selat Pantar dan laut sekitarnya.

Desa Pante Deere, Kelurahan Kabola, dan Desa Munaseli merupakan tiga desa pesisir di Alor yang mengembangkan wisata dengan prinsip-prinsip bertanggung jawab dan berbasis masyarakat.

Peluncuran ketiga destinasi ekowisata baru Alor ini merupakan kolaborasi Dinas Pariwisata Kabupaten Alor, Yayasan Wisnu, Mala Tours, WWF-Indonesia, serta badan usaha di tiap desa yaitu BUMDes Pante Deere, Forum Komunikasi Nelayan Kabola (FKNK), dan BUMDes Munaseli.
 

Berwisata Sambil Merawat Lingkungan, Seperti Apa?

Kegiatan berwisata adalah salah satu kegiatan pemenuhan dari kebutuhan spiritual. Selain penyegaran dari rutinitas, dengan berwisata, seseorang akan mendapat pengalaman baru dan nilai yang dapat dijadikan pembelajaran.

Melalui kegiatan wisata desa berbasis lingkungan-budaya yang dikelola masyarakat, atau disebut sebagai ekowisata, seorang wisatawan dapat mengalami hal-hal baru dengan keunikannya masing-masing. Terlebih, kegiatan yang diangkat adalah berdasarkan keseharian masyarakat dan akar sejarah budaya setempat.

Misalnya saja, dalam paket ekowisata Jelajah Pulau Sika dan Pembibitan Mangrove di Kelurahan Kabola, pengunjung tak hanya bisa mengagumi hamparan pasir putih Pulau Sika, tetapi juga mengenali jenis-jenis tanaman pesisir dan hewan endemik di sana.

Bahkan, pengunjung dapat mengunjungi pembibitan mangrove dan menanam langsung anakan mangrove di pantai. Tak hanya itu, pengunjung juga diajak mengamati duyung (Dugong dugon) yang hidup di perairan Mali. Tentunya, pengamatan dilakukan dari atas kapal dan sesuai dengan tata cara pengamatan duyung yang ramah lingkungan.

Lain lagi dengan atraksi wisata yang ditawarkan paket Jejak Putri Laut dan Kolam Gurita dan Mezbah Lambang Persatuan di Desa Pante Deere. Sambil berwisata, pengunjung diajak untuk melihat langsung aktivitas masyarakat pesisir seperti budi daya rumput laut dan menangkap ikan.

Sementara, di Desa Munaseli, pengunjung diajak untuk menelusuri hikayat kejayaan Kerajaan Munaseli di zaman dulu. Pengunjung juga bisa mencoba berladang, menggiling jagung, dan menikmati panganan lokal ketupat jagung – mata pencaharian utama masyarakat Munaseli sejak dahulu.

Berwisata Sambil Membantu Berkembangnya Usaha Desa

Dengan mengunjungi desa ekowisata, wisatawan dapat mendukung kegiatan pengawasan pesisir dan laut, khususnya duyung dan habitatnya, yang dilakukan oleh Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) yang ada di masing-masing desa.

Pokmaswas bersifat sukarela di tingkat masyarakat yang didorongkan oleh pemerintah melalui Dinas Kelautan Perikanan di kabupaten dan provinsi setempat. Pokmaswas memiliki tugas utama untuk memberikan informasi mengenai ancaman perikanan merusak (bom, racun, potassium) yang masih dihadapi oleh masyarakat pesisir dan laut serta pelanggaran merusak lainnya yang ditemukan di kawasan konservasi perairan.

Karena sifatnya yang sukarela, dibutuhkan berbagai alternatif usaha yang digerakkan di basis masyarakat untuk mendanai kegiatan mereka. Dengan dorongan pemerintah dan lembaga lainnya, berbagai kegiatan telah dilakukan oleh masyarakat untuk mendanai kegiatan mereka, salah satunya melalui pendanaan swadaya dari desa, kegiatan pariwisata, usaha perikanan, maupun usaha-usaha lainnya.

Peluncuran desa ekowisata ini tentunya masih merupakan langkah awal pembelajaran. Salah satunya adalah pariwisata bukanlah hal yang utama, namun poin terpenting adalah keberlanjutan sumber daya alam dan ketahanan pangan masyarakat sekitar. Masyarakat yang dapat konsisten melestarikan alam dan budayanya lah yang dapat menikmati manfaat dari kegiatan wisata.

Saat ini, WWF-Indonesia dalam program konservasi duyung dan lamun (DSCP) Indonesia terus mendorongkan adanya pelestarian dugong dan habitatnya sebagai salah satu bagian dari kekayaan alam di wilayah perairan Kabupaten Alor dan sekitarnya. Anda juga bisa mendukung upaya konservasi duyung dan lamun di Alor melalui paket ekowisata ini dipromosikan oleh Mala Tours dan mitra WWF lainnya.

Baca Selanjutnya: Ingin Mengamati Duyung di Alor? Ikuti Panduan Ini, Awasi Bersama Kawasan Konservasi

Kanak-kanak Alor dalam Expo Alor meramaikan stand WWF Indonesia
© WWF-Indonesia Enlarge
Alor dikenal sebagai jalur migrasi mamalia laut, seperti lumba-lumba yang menari ini
© Derta Prabuning / WWF-Indoenesia Enlarge
© WWF-Indonesia / Tutus Wijanarko Enlarge

Comments

blog comments powered by Disqus