Teknologi Alat Tangkap Ramah Lingkungan, Kunci Perikanan Berkelanjutan | WWF Indonesia

Teknologi Alat Tangkap Ramah Lingkungan, Kunci Perikanan Berkelanjutan



Posted on 12 October 2018   |  
Lampu LED Hijau, salah satu inovasi teknologi mitigasi untuk mengurangi tangkapan sampingan penyu
© Ahmad Fahmi / WWF-Indonesia
Oleh: Dwi Ariyogagautama (Bycatch and Sharks Conservation Coordinator, WWF-Indonesia)

Seperti halnya banyak jalan menuju Roma, banyak cara pula untuk mewujudkan perikanan yang berkelanjutan di Indonesia. Salah satunya, melalui pengembangan inovasi teknologi perikanan yang ramah lingkungan.

Misalnya saja, kort nozzle -  jenis propeller kapal yang dapat meningkatkan efisiensi penggunaan bahan bakar hingga 22,42%. Selain menghemat biaya operasional, juga lebih ramah lingkungan karena efisien dalam penggunaan energi. Dengan teknologi, kita dapat meminimalisir dampak pencemaran laut dalam pengoperasian penangkapan ikan.

Ada lagi, jaket tuna - alat bantu penanganan ikan pasca penangkapan dengan alat tangkap pancing ulur tuna (hand line). Alat ini dipasang ketika mata kail pada pancing ulur termakan oleh tuna, untuk mengurangi gerakan ikan, sehingga mempercepat proses penangkapan ikan dan meningkatkan kualitas ikan tangkapan.

Secara total, terdapat 16 inovasi teknologi perikanan yang disosialisasikan Balai Besar Penangkapan Ikan (BBPI) dalam Gelar Teknologi Alat Tangkap Ramah Lingkungan (5-6/09) di Semarang, Jawa Tengah. Acara tahunan tersebut merupakan kolaborasi BBPI Semarang yang didukung oleh WWF-Indonesia dan National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA).

Alat Tangkap yang Selektif: Kriteria Produktif dan Ramah Lingkungan

Pengembangan teknologi perikanan tidak selalu bertujuan dalam peningkatan produktivitas hasil tangkapan saja. Pengembangan teknologi alat penangkap ikan pun perlu lebih selektif untuk mengurangi tertangkapnya biota laut ETP seperti penyu, hiu, pari mobulid, dan mamalia laut.

Misalnya, adanya modifikasi terhadap alat penangkap ikan (API) ikan pukat cincin (purse seine)  yang saat ini menjadi lebih produktif bagi kapal purse seine tipe waring yang menangkap ikan pelagis di Pantai Utara Jawa. Sayangnya, modifikasi terhadap ukuran mata jaring (mess size) terus mengecil, dan mengancam kelangsungan stok perikanan di Indonesia.

Oleh karena itu, pengembangan teknologi tetap harus distandardisasikan dan tetap pada koridor perikanan yang berkelanjutan.

Kisah Sukses Lampu LED: Teknologi Ramah Lingkungan yang Selamatkan Populasi Penyu di Paloh, Kalimantan Barat

Contoh alat tangkap yang mendukung perikanan berkelanjutan adalah teknologi lampu LED hijau di jaring nelayan, untuk menghindarkan tertangkapnya penyu secara tidak sengaja. Dalam kegiatan Gelar Teknologi Alat Tangkap Ramah Lingkungan, NOAA, WWF-Indonesia, WWF-Pakistan, Misool Basetfin Foundation, dan Manta Watch menyampaikan hasil penelitian penggunaan teknologi lampu LED dalam mencegah tangkapan sampingan biota laut dilindungi dan rentan terancam punah (endangered, threatened, protected/ETP) pada alat penangkap ikan jaring insang (gill net).

Penelitian efektivitas penggunaan lampu LED di jaring nelayan Paloh, Kalimantan Barat, telah menunjukan penurunan tangkapan sampingan (bycatch) penyu yang signifikan, yaitu sebesar 61,4%! Sebelumnya, setidaknya 720-1152 ekor penyu tertangkap jaring insang bawal di Perairan Paloh sejak 2013 – 2017.

Tantangan Adopsi Teknologi API Ramah Lingkungan

Namun, teknologi yang canggih pun tidak menjamin dapat diadopsi dengan mudah oleh pelaku perikanan. Ada siklus kegiatan yang perlu dilakukan ketika mengembangkan teknologi perikanan. Dimulai dari penelitian, perekayasaan inovasi, uji coba, diseminasi, hingga mendesain dan penentuan standar material yang digunakan. Setelah itu, kita harus kembali berkonsultasi dengan berbagai pihak untuk proses pengadopsiannya.

Proses ini pun diaplikasikan dalam pengembangan teknologi LED dalam mencegah tangkapan sampingan biota ETP. Tantangan pengembangan teknologi mitigasi tangkapan sampingan biota ETP pun tidak sederhana.

Ketika hasil kajian efektif, proses yang tidak kalah penting adalah pengadopsian oleh pelaku perikanan. Dalam penelitian harus setidaknya menjawab 3 komponen dasar. Teknologi efektif menurunkan bycatch biota ETP, menjaga hasil tangkapan target nelayan, dan tidak menggangu pendapatan nelayan.

Hal lainnya adalah pengembangan desain atau konstruksi teknologi itu sendiri. Teknologi mudah dioperasikan, dan produknya pun mudah diakses. Peran industri alat tangkap ataupun industri pendukung lainnya sangat menentukan replikasi teknologi ini bisa digunakan di berbagai tempat.

Karenanya, keberhasilan uji coba lampu LED untuk nelayan pun perlu ditindaklanjuti dengan implementasi teknologi yang lebih masif oleh lebih banyak nelayan. Proses selanjutnya adalah menentukan standar kontruksi dan material, sedangkan pengaplikasian dan penelitian untuk jenis ETP lainnya masih terus berjalan.

Penting agar semakin banyak innovator yang terus berkontribusi untuk perikanan di Indonesia yang lebih baik. Semoga, semakin banyak lembaga penelitian, praktisi, dan pihak lainnya yang terus berinovasi dalam pengaplikasian teknologi ini dalam koridor perikanan yang berkelanjutan.

Lampu LED Hijau, salah satu inovasi teknologi mitigasi untuk mengurangi tangkapan sampingan penyu
© Ahmad Fahmi / WWF-Indonesia Enlarge
Dwi Ariyogagautama saat memberikan presentasi mengenai perkembangan alat mitigasi bycatch oleh WWF-Indonesia
© Ahmad Fahmi / WWF-Indonesia Enlarge
Memperagakan hand signal 'hiu' sebagai salah spesies yang cukup sering ditemukan tersangkut di alat tangkap (bycatch)
© Ahmad Fahmi / WWF-Indonesia Enlarge
Salah satu miniatur (maket) alat penangkap ikan yang dipamerkan peserta pameran.
© Ahmad Fahmi / WWF-Indonesia Enlarge
Antusiasme siswa-siswi saat melihat alat-alat teknologi perikanan di BBPI
© Ahmad Fahmi / WWF-Indonesia Enlarge
Lampu LED yang terpasang pada jaring
© WWF-Indonesia / Dwi Ariyogagautama Enlarge
Lampu LED berwarna hijau menghindarkan penyu dari terjerat jaring nelayan
© WWF-Indonesia Enlarge
Implementasi LED Hijau sebagai upaya mitigasi bycatch penyu di nelayan gillnet Paloh.
© Fahmi / WWF-Indonesia Enlarge

Comments

blog comments powered by Disqus