Ular Sanca Hijau | WWF Indonesia

Ular Sanca Hijau



Posted on 02 November 2018   |  

Ular Sanca Hijau (Morelia viridis) merupakan jenis sanca pohon yang hanya dapat ditemukan dalam hutan  hujan Maluku dan Papua, mulai dari hutan dataran rendah hingga hutan pegunungan rendah dengan ketinggian 0 – 2000 meter. Ular ini memiliki panjang rata-rata 1,5 meter. Saat dewasa, ular sanca hijau menampilkan warna hijau terang di sebagian besar tubuh mereka. Pada permukaan punggung, terdapat bagian berbeda yang muncul dari sisik yang biasanya berwarna putih kekuningan dan membentuk garis yang patah atau kontinu di sepanjang tubuh. Secara alami, bagian sisik tersebut umumnya berwarna kuning, namun ada juga beberapa individu yang memiliki sisik alami berwarna kuning kusam, putih atau pun warna biru yang tersebar pada sisik di permukaan punggung.
 
Dalam Daftar Merah IUCN, Sanca Hijau berstatus Mengkhawatirkan (Least Concern/LC), sedang berdasarkan UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, spesies ini merupakan satwa dilindungi di Indonesia, yang mana tidak  boleh ditangkap, disakiti, dibunuh, dipelihara, atau pun diperdagangkan. Namun sayangnya, ular ini menjadi satu spesies ular sanca yang paling umum diperdagangkan hewan internasional, dan sering diambil dari alam liar, bahkan sejak ular itu masih kecil.
 
Hal yang menjadi daya tarik adalah warna sisiknya yang cantik dan berubah seiring bertambahnya usia ular tersebut. Sanca hijau yang masih remaja biasanya berwarna kuning terang atau merah bata dengan corak yang sangat cantik. Warnanya berubah menjadi hijau terang ketika ular tersebut sudah dewasa. Kecantikan ular ini membuatnya dianggap sebagai satwa eksotis dan memeliharanya adalah suatu hal yang berkelas. Padahal ini merupakan bagian dari tindak kejahatan pidana atas pelanggaran UU Nomor 5 Tahun 1990, dan pelakunya akan dijerat hukuman penjara 5 tahun dan denda Rp. 100 juta. Bila dibiarkan terus terjadi, populasi Ular Sanca Hijau di Indonesia akan terus menurun hingga akhirnya punah.

Comments

blog comments powered by Disqus