Para Pihak Sepakat Menjaga Suaka Margasatwa Bukit Rimbang Bukit Baling | WWF Indonesia

Para Pihak Sepakat Menjaga Suaka Margasatwa Bukit Rimbang Bukit Baling



Posted on 02 November 2018   |  
Pemangku kepentingan di Suaka Margasatwa Bukit Rimbang Bukit Baling sepakat untuk mewujudkan kelestarian suaka margasatwa tersebut. Piagam kesepakatan ini dihasilkan melalui lokakarya yang digelar oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Riau pada 30 Oktober 2018 di Pekanbaru.
© WWF-Indonesia
Oleh: Syamsidar
Pemangku kepentingan di Suaka Margasatwa Bukit Rimbang Bukit Baling sepakat untuk mewujudkan kelestarian suaka margasatwa tersebut. Piagam kesepakatan ini dihasilkan melalui lokakarya yang digelar oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Riau pada 30 Oktober 2018 di Pekanbaru.  

Kepala Balai BBKSDA Riau mewakili Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Bupati Kuantan Singingi, staf ahli Bupati Kampar, Kasubbid Pertanahan dan Penataan Ruang dan Penataan Ruang Pertanahan- Bappeda Riau, dan pemerintah Kabupaten Kampar, pemerintah Kabupaten Kuantan Singingi dan Kerajaan Gunung Sahilan menandatangani kesepakatan tersebut sebagai  komitmen tertulis mendukung perlindungan Rimbang Baling.

Komitmen ini menjadi langkah awal dalam pengelolaan SM Bukit Rimbang Bukit Baling berbasis masyarakat.  
Suharyono, Kepala Balai Besar KSDA Riau menyatakan,”Pengelolaan kawasan konservasi saat ini tidak lagi sama. Pada masa lalu konservasi hanya kewajiban pemerintah pusat, kini masyarakat adalah subyek dari konservasi”.

SM BRBB terletak di Kabupaten Kampar dan Kuantan Singingi, ditunjuk menjadi kawasan konservasi tahun 1984 melalui SK Gubernur Riau dengan luas 136.000 ha.  Kemudian ditetapkan oleh Menteri Kehutanan dengan luas 141.226 ha pada 2014.

Sebelumnya, pengelolaan kawasan ini minimal dikarenakan berbagai keterbatasan pengelola diantaranya  hanya ada dua petugas jagawana yang bertugas di kawasan ini, Sementara didalamnya terdapat beragam jenis satwa dan tumbuhan langka dan merupakan habitat kunci harimau Sumatera. Bentang alam dengan topografi perbukitan ini membentang di bagian Barat daya Provinsi Riau hingga ke Provinsi Sumatera Barat. Wilayah ini juga merupakan hulu dan daerah tangkapan air utama di Sumatera bagian tengah dan sudah dikenal dalam peradaban masa lampau.

Sebagian kawasan Bukit Rimbang Bukit Baling merupakan bagian dari Kerajaan Gunung Sahilan yang diperkirakan berdiri abad ke 16-17 Masehi. Kerajaan ini diperintah oleh raja dari keturunan Raja Pagaruyung. Sejak Januari 2017, kerajaan ini kembali diaktifkan melalui penobatan Raja Gunung Sahilan.

Raja Gunung Sahilan, Tengku Muhammad Nizar dalam kegiatan talkshow ini menyampaikan sejarah Kerajaan Gunung Sahilan dan kearifan masyarakat di wilayah Rimbang Baling.

“Masyarakat sejak dahulu menggunakan sungai dan hutan untuk bertahan hidup. Nenek moyang kita dulu memandang kayu bukan sumber kekayaan, kayu digunakan untuk rumah dan pondok, dan tak ada kayu-kayu besar ditebang,” kata Tengku Muhammad Nizar.

“Sekarang, hutan dimanfaatkan besar-besaran diambil kayunya untuk kepentingan perusahaan”, tambah Nizar.
Kegelisahan  yang sama akan keterancaman kelestarian Rimbang Baling muncul dari Bupati Kuantan Singingi akan keberadaan masyarakat transmigrasi di wilayah Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat yang berbatasan langsung dengan wilayah Kabupaten Kuantan Singingi.

“Mereka tinggal sangat dekat dengan kawasan. Kami benar-benar khawatir karena pengalaman sebelumnya, kalau sudah ada masyarakat bermukim dekat hutan akan terjadi perambahan,” ungkap Mursini.

Mursini berharap penegak hokum termasuk BBKSDA Riau dapat menindak tegas pelakuk jika menemukan perambahan. Sementara itu, keberadaan masyarakat yang telah lama bermukim di dalam kawasan SM BRBB menjadi catatan tersendiri bagi staf ahli Bupati Kampar, Suhermi.

“Mereka hidup di sana jauh sebelum kawasan itu ditunjuk menjadi kawasan konservasi. Masyarakat hidup bersama dengan alam dan kearifannya. Bagaimana nasib mereka? Pembangunan jalur interpretasi yang menghubungkan desa –desa di sepanjang Sungai Subayang akan membuka keterisoliran masyarakat, terang Suhermi yang mewakili Bupati Kampar pada talkshow tersebut.

Jalur interpretasi yang akan menghubungkan 12 desa didalam dan sekitar SMBRBB rencananya akan dibangun sepanjang 36 kilometer dengan dukungan pemerintah Kampar. Jalur ini rencananya akan dibangun 1 meter tanpa aspal dan beton.

Sebelum Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, rangkaian pertemuan telah dilakukan oleh Pemkab Kampar, BBKSDA Riau  dan masyarakat.

Suharyono,Kepala BBKSDA Riau menyatakan” Ini merupakan jalur interpretasi dan masyarakat turut serta menjaga wilayah tersebut misalnya dengan adanya polisi adat”.

Dukungan untuk menjaga hutan dan jalur interpretasi ini diungkapkan oleh Ketua Forum Masyarakat Batang Subayang-Batang Bio, Alamrai.

“Ongkos transportasi sangat tinggi, bahan pokok lebih tinggi karena warga harus menyewa perahu yang ongkosnya mahal. Jalur interpretasi ini dapat menghubungkan desa-desa yang selama ini hanya melalui sungai.” Ia berterimakasih akan adanya jalur ini nantinya dan ia pun yakin masyarakat akan menjaga jalur ini.

Di hari kedua kegiatan ini diakhiri dengan kunjungan lapangan ke Desa Tanjung Belit, Kecamatan Kampar Kiri Hulu, salah satu desa yang berbatasan langsung dengan SMBRBB. Peserta kunjungan melihat beberapa program berbasis masyarakat yang telah berjalan Rimbang Baling khususnya Desa Tanjung Belit yang telah dilaksanakan oleh Program IMBAU, konsorsium WWF Progaram Sumatera Tengah, Yapeka dan Indecon.

Program merupakan upaya perlindungan habitat harimau terintegrsi dimulai sejak pertengahan 2015 bekerjasama dengan BBKSDA Riau melalui perlindungan terintegrasi, pengelolaan kawasan yang lebih efektif dan keterlibatan serta pemberdayaan masyarakat dan pemangku kepentingan.

 
Pemangku kepentingan di Suaka Margasatwa Bukit Rimbang Bukit Baling sepakat untuk mewujudkan kelestarian suaka margasatwa tersebut. Piagam kesepakatan ini dihasilkan melalui lokakarya yang digelar oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Riau pada 30 Oktober 2018 di Pekanbaru.
© WWF-Indonesia Enlarge
Ekspedisi JALAS Sumbar-Riau Rimbang Baling.
Ekspedisi JALAS Sumbar-Riau Rimbang Baling.
© WWF-Indonesia Enlarge

Comments

blog comments powered by Disqus