Pemerintah Kabupaten Pandeglang Banten Siap Dukung Desa Penyangga Taman Nasional Ujung Kulon | WWF Indonesia

Pemerintah Kabupaten Pandeglang Banten Siap Dukung Desa Penyangga Taman Nasional Ujung Kulon



Posted on 08 April 2019   |  
Drh. Kurnia Khairani WWF Indonesia-Ujung Kulon Project Site Manager bersama dengan Kepala Dinas 6 OPD Kabupaten Pandeglang, Direktur PSDLH, Kementrian Desa dan PDT.
© WWF-Indonesia
Pandeglang, 8 April 2019 - Program Ujung Kulon WWF-Indonesia  melakukan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan enam Organisasi Pemerintah Daerah (OPD) Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Penandatangan PKS ini bertempat di Hotel Horison Pandeglang hari ini (8/4). Hadir dalam acara penandatanganan perwakilan dari Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Pertanian, Dinas Ketahanan Pangan, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa, Dinas Koperasi dan usaha Mikro, Kecil, dan Menengah, serta Dinas Pariwisata. Penandatanganan PKS ini merupakan komitmen bersama untuk mendukung Rencana Aksi Masyarakat (RAM) sebagai hasil dari kajian penghidupan berkelanjutan (Sustainable Livelihood Assessment/SLA) yang telah dilakukan di 12 desa penyangga Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK).

Wilayah penyangga TNUK merupakan wilayah yang mempunyai peran sangat penting dalam menjaga dan melestarikan hutan. Masyarakat yang tinggal di wilayah sekitar hutan memanfaatkan apa yang ada di alam sebagai sumber penghidupan mereka. Kedua belas desa yang berada di kecamatan Sumur dan Cimanggu sudah melakukan SLA untuk mengggali potensi dan masalah yang ada di wilayah yang menjadi penyangga TNUK tersebut. SLA ini menghasilkan RAM dan RAM tersebut diterjemahkan ke dalam enam kegiatan sekolah lapangan yakni; Sekolah Lapangan Pertanian Ekologis (SLPE), Sekolah Lapangan Agroforestri (SLAF), Sekolah Lapangan Lumbung Pangan Hidup (SLLPH), Sekolah Lapangan Pengelolaan Ternak Kerbau (SLPTK), Sekolah Lapangan Madu, dan Sekolah Lapangan Mangrove.

“Komitmen konservasi yang dipegang WWF-Indonesia tidak hanya fokus pada spesies. Kami juga sangat berkomitmen terhadap peningkatan kapasitas masyarakat di sekitar kawasan taman nasional. Contoh nyata, program pemberdayaan masyarakat WWF-Indonesia dilakukan melalui kegiatan sekolah lapangan dan kajian penghidupan berkelanjutan. Kami menganggap masyarakat bukan hanya sekedar warga yang tinggal di kawasan saja, namun juga sebagai mitra dan pelaku utama konservasi,” kata Kurnia Khairani, Ujung Kulon Site Manager, WWF-Indonesia. Melalui SLA dan Sekolah Lapangan, pesan-pesan konservasi berbasis penghidupan berkelanjutan menjadi salah satu metode yang dapat digunakan untuk memberdayakan masyarakat sekaligus dapat menjaga kawasan agar tetap lestari.

“WWF-Indonesia telah bertahun-tahun melakukan pemberdayaan dan peningkatan kapasitas  masyarakat di sekitar wilayah kerja kami terutama yang berbatasan langsung dengan kawasan konservasi. Bukit Barisan Selatan, Kei, Alor, dan Ujung Kulon adalah contoh wilayah yang telah melakukan program pemberdayaan masyarakat termasuk melalui SLA dan Sekolah Lapangan. Kami sangat siap untuk terus memegang komitmen ini, di masa sekarang dan masa mendatang,” ujar Suhandri, Director for Wildlife, Sumatera, Ujung Kulon & Ciliwung, WWF-Indonesia.

Pada lokakarya SLA kali ini, Kemendesa, Bappeda Kabupaten Pandeglang, dan enam OPD Kabupaten Pandeglang turut hadir dan memberikan dukungan terhadap SLA secara umum dan RAM 12 desa penyangga TNUK hasil dari SLA secara khusus.

“Setelah melihat dan mempelajari matriks RAM 12 desa penyangga TNUK, kami selaku pemerintahan daerah mendukung adanya pemberdayaan dan penguatan kapasitas masyarakat terutama di daerah penyangga TNUK yang berada di Kecamatan Sumur dan Kecamatan Cimanggu. Pada tataran perencanaan kita sudah bersinergi dengan WWF untuk membuat suatu kerangka kerja agar perencanaan yang diharapkan oleh masyarakat dapat dituangkan dalam rencana kerja dan selanjutnya dapat ditindaklanjuti oleh perangkat daerah,” tambah Bambang Suyantho, Kepala Bidang Ekonomi Bappeda Kabupaten Pandeglang.

Dukungan terhadap RAM 12 desa penyangga ini juga ditunjukkan melalui penandatanganan Perjanjian Kerja Sama antara enam OPD Kabupaten Pandeglang dan WWF-Indonesia. Diharapkan lokakarya dan penandatanganan PKS SLA dapat menjadi inspirasi bagi wilayah lain. Diharapkan 12 desa penyangga TNUK dapat didorong untuk masuk ke dalam agenda Kabupaten Pandeglang dalam mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan. Seperti slogan masyarakat penyangga TNUK, “masyarakat ngejo leuweung hejo”, yang artinya masyarakat dapat memenuhi kebutuhan hidupnya namun kawasan lindungnya tetap terjaga lestari. Intinya, upaya mengkonservasi kawasan TNUK tidak serta merta mengabaikan kesejahteraan masyarakat.

                                                               - SELESAI -

Untuk informasi lebih lanjut, silahkan menghubungi:

Kania Dewi Rahayu, Community Outreach and Communication Specialist | Email: krahayu@wwf.id | 0853 3659 4451

 
Drh. Kurnia Khairani WWF Indonesia-Ujung Kulon Project Site Manager bersama dengan Kepala Dinas 6 OPD Kabupaten Pandeglang, Direktur PSDLH, Kementrian Desa dan PDT.
© WWF-Indonesia Enlarge
Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil,dan Menengah H. Tatang Muhtasar, SE, MM sedang melakukan penandatanganan PKS dengan WWF Indonesia.
© WWF-Indonesia Enlarge

Comments

blog comments powered by Disqus