Relawan HSBC dan Warga Medan Belajar Menjaga Air di Acara Water Walk | WWF Indonesia

Relawan HSBC dan Warga Medan Belajar Menjaga Air di Acara Water Walk



Posted on 03 May 2019   |  
Water Walk Medan (28/04/2019).
Water Walk Medan (28/04/2019).
© WWF-Indonesia
Oleh: Sani Firmansyah (Engagement Activation Staff WWF-Indonesia)
Hari Bumi merupakan momentum untuk kita agar lebih peduli lingkungan. Salah satu cara memperlihatkan rasa cinta pada alam ditunjukkan oleh WWF-Indonesia dan HSBC dalam bentuk acara Water Walk. Kegiatan tersebut diselenggarakan di Taman Cadika Pramuka, Medan Johor, Kota Medan, Sumatera Utara pada Minggu (28/4) pagi. Acara ini bertujuan untuk berbagi pengetahuan tentang air dan lingkungan pada peserta yang terdiri dari staf HSBC dan masyarakat umum.

[Baca juga: WWF dan HSBC Mendorong Kepedulian Masyarakat Terhadap Lingkungan dengan Aksi Mulung Ciliwung]

Acara diawali dengan penggambaran kondisi air yang ada di dunia. Menurut Water Specialist WWF-Indonesia, Agus Haryanto, dari semua air yang ada di Bumi, sekitar 97% di antaranya adalah air laut, sementara 2% air berupa es di kutub utara serta kutub selatan. “Dan hanya 1% air yang bisa kita gunakan sehari-hari,” kata Agus.

Lebih lanjut Agus menjelaskan bahwa jumlah air yang ada di Bumi tidak akan berkurang atau bertambah, namun kualitasnya bisa berubah. Penurunan mutu air disebabkan oleh sampah masif yang mencemari sungai. Hal ini akan memengaruhi keanekaragaman hayati, lingkungan serta manusia. Maka, dengan momentum Hari Bumi, Agus mengajak masyarakat –khususnya warga Medan- untuk melakukan berbagai upaya menjaga kualitas air. “Mulai dari hal yang sederhana, yaitu  berhemat air dan tidak membuang sampah ke sungai,” kata dia.

Sebenarnya, warga Medan sendiri sudah menjadi saksi kerusakan berbagai DAS di Sumatra Utara, salah satunya DAS Deli. Saat ini, Sungai Deli tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Luas hutan di hulu Sungai Deli tinggal 3.655 hektare. Atau, dengan kata lain hutan yang tersisa tinggal 7,59 persen dari 48.162 hektare areal DAS Deli. Padahal, DAS Deli seharusnya punya kawasan resapan air mencapai 140 hektare, atau 30 persen dari luas DAS.

Kerusakan hutan di sekitar DAS disebabkan alih fungsi jalur hijau menjadi areal perkebunan, permukiman serta pertokoan. Akibatnya, DAS tersebut selalu meluap sehingga menimbulkan banjir setiap musim penghujan.

Namun, tampaknya warga kota masih belum memiliki kepedulian terhadap lingkungan di sekitar Sungai Deli. Buktinya, berbagai jenis sampah mencemari sungai. Berdasarkan catatan Pegiat Lingkungan Go River, Lelinawati Siregar, S.Sos, sekitar 70 persen pencemar Sungai Deli adalah limbah padat dan cair. Ia juga menyebutkan data limbah domestik padat yang dihasilkan di Kota Medan sendiri sebanyak 1.235 ton/hari.

Setelah seluruh peserta mendapatkan informasi mengenai kondisi air dan sungai, aktivitas dilanjutkan dengan Water Walk. Program edutainment ini bertujuan mengajak seluruh peserta untuk mempelajari dan mengetahui kualitas air yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Pembicaraan soal air dibuka dengan pertanyaan tentang kebutuhan air untuk secangkir kopi yang dilontarkan oleh Freshwater & Energy Policy Officer WWF-Indonesia, Nanda Mariska. Pertanyaan tersebut ditanggapi oleh Elvin Gumati, salah satu staf HSBC, “Saya kira secangkir kopi membutuhkan air sebanyak 10 liter!” Ternyata, jawaban dari pertanyaan tersebut cukup mencengangkan. Menurut Nanda, Kebutuhan air untuk membuat secangkir kopi dari mulai proses penanaman, panen sampai diseduh sebanyak 140 liter.

Kemudian, peserta diajak untuk mengikuti proses pengujian air. Hal ini menjadi pengalaman langka bagi sebagian orang. Maka tak heran jika peserta antusias mengikuti kegiatan. Pada pos pengujian ini, mereka bisa melihat sendiri bakteri atau mikroba yang terkandung dalam air melalui alat bantu mikroskop. "Bahkan, pada air bersih sekali pun terdapat bakteri atau mikroba dengan jenis tertentu untuk memastikan bahwa air itu layak untuk dikonsumsi,” jelas Agus Haryanto.

Selain mengamati mikroba, peserta juga diajak menguji tingkat keasaman dan kebasaan air. Sebelum memulai pengujian, peserta diberikan pengetahuan dasar bahwa air yang layak dikonsumsi itu memiliki kriteria tidak berbau, tidak berasa dan tidak berwarna. Selain itu, air yang dikonsumsi tidak boleh terlalu asam ataupun terlalu basa. “Dengan kertas lakmus, kita dapat mengetahui tingkat keasaman dan kebasaan air. Air yang dikonsumsi sebaiknya netral dengan nilai PH sama dengan tujuh,” tutur Chick Rini, Communication Officer WWF-Indonesia.

Kegiatan ini telah memberi banyak manfaat bagi peserta. “Kami bisa mengetahui tentang penggunaan air lebih dalam, serta cara termudah untuk menjaga keberadaan air,” tutur Wardianto, salah satu Staf HSBC. Peserta berharap kegiatan ini bisa dilaksanakan lagi di waktu mendatang sehingga warga Medan lebih peduli terhadap lingkungan hidup.
 
Water Walk Medan (28/04/2019).
Water Walk Medan (28/04/2019).
© WWF-Indonesia Enlarge
Water Walk Medan (28/04/2019).
Water Walk Medan (28/04/2019).
© WWF-Indonesia Enlarge
Water Walk Medan (28/04/2019).
Water Walk Medan (28/04/2019).
© WWF-Indonesia Enlarge
Water Walk Medan (28/04/2019).
Water Walk Medan (28/04/2019).
© WWF-Indonesia Enlarge

Comments

blog comments powered by Disqus