Bagian II: Kajian Stok Udang Windu - Pemenuhan Permintaan Pasar dengan Upaya Perikanan Berkelanjutan | WWF Indonesia

Bagian II: Kajian Stok Udang Windu - Pemenuhan Permintaan Pasar dengan Upaya Perikanan Berkelanjutan



Posted on 10 May 2019   |  
Pengecekan indukan udang windu di lokasi pengepul, Ismail
© WWF-Indonesia/Rizal
Oleh: Agri Aditya Fisesa - Marine Conservation Asisstant Paloh, Rizal - Marine Conservation Officer for Sumatera
 

Hasil survei awal WWF Indonesia yang dilaksanakan pada 24 Februari hingga 6 Maret 2019 menunjukkan wilayah penangkapan induk udang Windu tersebar di perairan pantai timur Aceh Mulai dari Kabupaten Aceh Tamiang sampai Kabupaten Bireuen dengan konsentrasi utama di perairan Seruway di Kabupaten Aceh Tamiang dan perairan Pereulak di Kabupaten Aceh Timur.
 
Usman yang tiga tahun terakhir menjadi pengepul induk udang dari desa Sungai Kerok 3, Kecamatan Seruway, Kabupaten Aceh Tamiang mengatakan bahwa lokasi penangkapan berada di seputaran Ujung Tamiang, Pusung Kapal atau Laut Seputan. Penangkapan induk udang Windu dilakukan sekitar 14 hari (trip) atau 2 siklus penangkapan per bulan, yaitu 7 hari pada pasang tertinggi (bulan terang)  dan 7 hari pada bulan gelap.
 
Kriteria panjang induk yang memenuhi syarat terbagi dalam 4 kelas, yaitu kelas A (9,5-10 inchi), kelas B (9,3-9,5 inchi), kelas C (9-9,3 inchi) dan kelas Super (>10 inchi). Untuk kelas Super dengan panjang diatas 10 inchi sudah jarang dijumpai. Kriteria lainnya yaitu sehat, tidak cacat dan tidak putus antena, serta daging udang tidak lunak. Udang dengan panjang kurang dari  9 inchi dan yang tidak memenuhi kriteria yang tertangkap oleh nelayan dijual sebagai udang konsumsi. Penjualan dilakukan ke CV. Mustika Minanusa Aurora (MMA) di Tarakan dengan harga jual 250 ribu/ekor tergantung ukuran dengan permintaan sebesar 100-150 ekor/siklus. Sementara harga dari nelayan 100-150 ribu/ekor tergantung ukuran.
 
Hasil diskusi dengan pengepul lainnya di Kecamatan Seruway yaitu Misnan yang sudah melakukan aktivitas jual beli induk selama kurang lebih 28 tahun terakhir menyatakan bahwa tangkapan sekarang sudah berkurang dan harga jual juga lebih rendah dibanding belasan tahun yang lalu. Nelayan-nelayan pada tahun 2000-an bisa mendapat tangkapan sekitar 30-40 ekor/hari sementara sekarang 10 ekor saja sudah sulit. Selain lokasi penangkapan diseputaran perairan Ujung Tamiang, Pusung Kapal atau Laut Seputan di Kecamatan Seruway, Misnan juga mempunyai perpanjangan tangan yang standby di Kota Binjai dan Pereulak, Aceh Timur.
 
Indukan yang bertelur dijual ke pembenih lokal (Aceh) dan induk yang tidak bertelur dijual ke beberapa lokasi di Indonesia seperti Sulawesi (Makassar), Tarakan, Surabaya, Jakarta, Lampung dan Balikpapan. Harga jual 250 ribu/ekor tergantung ukuran dengan semua administrasi diurus oleh pembeli, sementara harga dari nelayan 100-150 ribu/ekor tergantung ukuran.
 
Penangkapan induk udang di Kabupaten Aceh Timur bersumber dari Kuala Bugak dan Kuala Peudawa, Kecamatan Peureulak. Asnawi, pengepul di Peureulak biasanya memasarkan indukan ke hatchery di Leubu, Panton Labu, Kabupaten Aceh Utara, Kabupaten Bireuen dan Ke Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Ujung Batee. Pihak BBAP Ujung Batee biasanya membutuhkan induk minimal 40 ekor dalam sekali pengiriman. Terdapat kurang lebih 80 nelayan yang menjual induk ke Asnawi harga beli per ekor mulai dari 140-170 ribu/ekor dan di jual ke BBAP sebesar 280 ribu/ekor.
 
Pengepul lain di Peureulak, Ismail yang sudah melakukan kegiatan jual beli udang selama 30 tahun mengatakan bahwa sumber ancaman utama berkurangnya pasokan indukan adalah masih adanya penggunaan pukat trawl di lokasi tangkapan induk udang. Lokasi penangkapan berada di Kuala Peudawa dan Kuala Bugak.
 
Kurang lebih sekitar 200 boat (1 boat berisi 2 orang) yang menjual udang ke Ismail yang berasal dari Kuala Bugak, Peudawa dan wilayah sekitarnya. Nelayan yang menjual semuanya memakai alat tangkap tramel net yaitu bagian luar mesh size 8 inchi, lapis ke dua mesh size 3 inchi dan bagian dalam mesh size 2,5 inchi.  Setiap armada boat menggunakan sekitar 20 piece jaring, dengan ukuran rata-rata tiap piece panjang 30 meter dan lebar 1,5 meter.
 
Total hasil tangkapan perhari untuk semua nelayan berkisar 150 ekor untuk indukan hidup dan 300 kilogram dalam sekali siklus penangkapan. Penjualan terakhir yang sudah dilakukan Ismail berupa pengiriman induk ke Makasar sebanyak 140 ekor, ke Surabaya sebanyak 250 ekor, ke Semarang sebanyak 72 Ekor, ke Jakarta dan Serang sebanyak 70 ekor serta ke Bireuen sebanyak 8 ekor.
 
Berbeda dari Aceh Tamiang dan Aceh Timur, di Kabupaten Bireuen, Zakaria yang sudah menjadi pengepul selama 30 tahun sudah 2 bulan ini tidak mendapatkan pasokan indukan dari nelayan. Ia juga tidak mengetahui penyebab pasti mengenai kekosongan pasokan ini. Nelayan yang menjual hasil kepadanya sebanyak 30 orang namun penangkapan induk udang Windu bukan menjadi tujuan utama nelayan tersebut. Indukan dipasarkan ke pasar lokal (Aceh) ke hatchery di Kabupaten Bireuen dan Trieng Gadeng di Kabupaten Pidie Jaya. Jufri, pemilik hatchery di Peudada mengatakan bahwa indukan diambil dari Peureulak (Aceh Timur) dan Bugeng Peudada (Bireun).
 
Dengan adanya survei awal mengenai kajian stok udang Windu di Aceh ini diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai potensi indukan serta strategi kedepannya dalam pengembangan budidaya indukan udang Windu di Aceh.

Pengecekan indukan udang windu di lokasi pengepul, Ismail
© WWF-Indonesia/Rizal Enlarge
Indukan udang windu milik Ismail
© WWF-Indonesia/Rizal Enlarge
Indukan udang windu yang dalam proses pengemasan
© WWF-Indonesia/Rizal Enlarge
Wawancara dengan Ismail, pengepul indukan udang windu di Paloh
© WWF-Indonesia/Rizal Enlarge
BKIPM
© WWF-Indonesia/Rizal Enlarge
DKP A.Tamiang
© WWF-Indonesia/Rizal Enlarge

Comments

blog comments powered by Disqus