WWF dan James Cook University Luncurkan Pedoman Praktik Perancangan dan Pengelolaan Kawasan Konservasi Laut untuk Hiu dan Pari | WWF Indonesia

WWF dan James Cook University Luncurkan Pedoman Praktik Perancangan dan Pengelolaan Kawasan Konservasi Laut untuk Hiu dan Pari



Posted on 13 May 2019   |  
Kawasan Konservasi Laut atau Marine Protected Area (MPA) memiliki peran kunci dalam melindungi dan melestarikan populasi hiu dan pari.
© Simon Lorenz/WWF Hong kong
Oleh: Vinni Nurizky (Sharks Conservation Campaigner)

Jumlah hiu dan pari menurun secara global, dan sejak 2014, seperempatnya berstatus terancam punah dan sebagian besar dikarenakan penangkapan yang berlebih. Angka tersebut  akan terus bertambah jika tidak dikontrol dan habitat pentingnya tidak dijaga, terutama pada habitat pembesaran (nursery ground), habitat kawin (mating ground) hingga habitat pelepepasan anakan (pupping ground).

Kawasan Konservasi Laut atau Marine Protected Area (MPA) memiliki peran kunci dalam melindungi dan melestarikan populasi hiu dan pari, sebagai salah satu cara untuk mengatasi penangkapan ikan hiu dan pari yang berlebihan dan meminimalisir ancaman terhadap siklus reproduksi hiu dan pari itu sendiri. Disisi lain dengan adanya Kawasan Konservasi laut yang mengakomodir perlindungan hiu dan pari juga dapat berkontribusi langsung kepada masyarakat lokal sebagai destinasi wisata.

Setelah mengembangkan Pedoman Pendugaan Cepat atau Rapid Assessment Toolkit pertama untuk hiu dan pari, WWF dan James Cook University kembali membuat sebuah panduan berupa Pedoman Praktik Perancangan dan Pengelolaan Kwasan Konservasi Laut untuk Hiu dan Pari. Panduan ini dibuat untuk memberikan informasi praktis berbasis sains/penelitian tentang cara memaksimalkan sebuah Kawasan Konservasi Laut untuk hiu dan pari lebih efektif, dimulai pada tahapan merancang, merencanakan, hingga mengimplementasikannya,  dan juga melakukan pengelolaan demi memastikan hiu dan pari ini tetap terjaga serta terlindungi hingga masa yang akan datang.

Baca Juga : WWF dan James Cook University Luncurkan Pedoman Pendugaan Cepat Pendataan Hiu dan Pari

Menurut Colin Simpfendorfer (James Cook University), Kawasan Konservasi Laut secara umum pada nyatanya belum menjawab tantangan konservasi yang dihadapi hiu dan pari secara spesifik, hal inilah yang mendasari perancangan Kawasan Konservasi Laut khusus untuk hiu dan pari. Dibutuhkan dasar tujuan, sasaran, dan target konservasi yang jelas, dengan menggabungkan pengetahuan ilmiah tentang pola pergerakan hiu, ekologi serta penggunaan habitat, tentu saja dengan mempertimbangkan aspek sosial ekonomi dan budaya.

“Hilangnya hiu di alam dapat merusak ekosistem laut sekaligus menghilangkan pendapatan dan mata pencaharian masyarakat pesisir, termasuk peluang pariwisata. Pengelolaan perlindungan yang efektif dari habitatnya adalah salah satu cara paling praktis untuk mengurangi angka kematian ikan hiu dan pari.” ujar Dr. Andy Cornish, WWF’s Sharks Global Leader. Perlindungan kawasan konservasi yang terencana dengan baik dapat memberikan banyak manfaat bagi masyarakat serta spesies hiu dan pari itu sendiri. Di samping memberikan batasan terhadap pemanfaatan hiu, pembatasan area ini juga dapat mendorong peningkatan jumlah populasi hiu dan pari di alam.

Pada 2016, lebih dari 10 negara menetapkan kawasan perairannya sebagai cagar alam hiu, dimana seluruhnya melarang penangkapan hiu untuk tujuan komersil, sementara itu beberapa diantaranya tetap mengizinkan penangkapan hiu meskipun dalam skala kecil. Panduan ini dapat digunakan oleh pengelola dan pemerintah pemerintah sebagai management authority nasional untuk membentuk sebuah Kawasan Konservasi Laut yang baru, maupun yang sebelumnya sudah ada, juga dapat dimanfaatkan oleh otoritas yang bertanggung jawab atas habitat laut dan perlindungan spesies, LSM, operator wisata bahari dan praktisi Kawasan Konservasi Laut lainnya yang bekerja untuk melestarikan hiu dan pari.

Indonesia sebagai negara yang memiliki setidaknya 177 Kawasan Konservasi berbasis laut dengan luasan 20,88 juta ha, dan luasan tersebut akan bertambah sesuai komitmen dalam mendorong pembentukan Kawasan Konservasi sebanyak 30 juta ha di tahun 2030. Tentunya sangat siginifikan jika mengakomodir habitat penting hiu dan pari didalam Kawasan Konservasi laut dan memberlakukan perlindungan penuh untuk semua jenis hiu dan pari didalam Kawasan Konservasi dalam mendorong pengelolaan hiu dan pari yang lebih baik.

 
Kawasan Konservasi Laut atau Marine Protected Area (MPA) memiliki peran kunci dalam melindungi dan melestarikan populasi hiu dan pari.
© Simon Lorenz/WWF Hong kong Enlarge
Pari Manta
© Jurgen Freund/WWF Enlarge

Comments

blog comments powered by Disqus