Diskusi Konservasi Surabaya Angkat Isu Kerusakan Lingkungan Kawasan Pesisir | WWF Indonesia

Diskusi Konservasi Surabaya Angkat Isu Kerusakan Lingkungan Kawasan Pesisir



Posted on 15 May 2019   |  
Supporter Gathering Surabaya 2019.
Supporter Gathering Surabaya 2019.
© (c)Earth Hour Surabaya
Oleh: Rafika Trisha Pratiwi (Earth Hour Surabaya)
Surabaya adalah kota dengan jumlah penduduk terpadat di Jawa Timur yang tengah menghadapi isu kerusakan lingkungan yang semakin marak. Tetapi, Surabaya tidak akan tinggal diam membiarkan alam semakin terganggu. Maka, masyarakat Surabaya dari berbagai lapisan bergerak bersama untuk menyelamatkan kota pesisir tersebut.

Aksi nyata masyarakat Surabaya terwujud dalam diskusi konservasi bertajuk Supporter Gathering: Pelesir, Pesisir, karo Konservasi nang Suroboyo di Koridor Co-working Space Gedung Siola Lantai 3, Surabaya, pada Sabtu (27/04) lalu. Kegiatan ini dimotori oleh WWF-Indonesia dengan mengajak suporter, komunitas, dan aktivis konservasi lainnya untuk ikut andil dalam upaya mengedukasi masyarakat Surabaya mengenai lingkungan. Selain itu, acara ini juga dibuat untuk memaknai peringatan Hari Bumi yang jatuh pada 22 April.

[Baca juga: Diskusi Konservasi: Tidak Ada Alasan untuk Memburu dan Mengonsumsi Hiu]

Pengisi acara yang diundang untuk menyemarakkan kegiatan pun tidak sembarangan. Semua pembicara adalah orang-orang yang ahli di bidangnya. Sebut saja Anton Wijonarno yang merupakan Manager WWF-Indonesia dalam bidang Marine Protected Area (MPA) for Fisheries serta Iwan Febrianto sebagai perwakilan dari Yayasan EKSAI (Ekologi Satwa Liar Indonesia) dan pendiri organisasi Burung Nusantara. Selain itu, panitia juga menyiapkan pembicara spesial yaitu aktris dan model  Kelly Tandiono yang memberikan sudut pandang seorang public figure terhadap kelestarian alam.

Daerah Pesisir Timur Surabaya menjadi topik pembicaraan paling hangat dalam diskusi tersebut. Anton Wijonarno memaparkan materi Kawasan Konservasi Perairan (KKP), yang mengangkat pembahasan tentang delapan pendekatan pengelolaan perikanan berkelanjutan. Mulai dari optimalisasi desain KKP, pembangunan jejaring KKP, sampai penerapan strategi pemanfaatan perikanan. Selain itu, perikanan berkelanjutan juga menyentuh pada sumber daya manusia yang terlibat dengan memberi hak ekslusif perikanan kepada nelayan lokal. Konsep perikanan berkelanjutan juga mencakup praktik pengelolaan yang baik, skema dana berkelanjutan, transformasi pasar perikanan, dan Monitoring, Evaluationing, and Learning (MEL).
 
Sementara itu, Iwan Febrianto melihat kawasan Pamurbaya, Pantai Timur Surabaya sebagai area taman wisata mangrove yang berfungsi sebagai daerah migrasi oleh beberapa burung yang berasal dari selatan Indonesia. Jadi, apabila kondisi Pamurbaya mulai mengalami penurunan ketersediaan sumber daya alam, maka fauna imigran tidak akan singgah ke wilayah pesisir Surabaya lagi. Hal ini yang menyebabkan berkurangnya keanekaragaman hayati terutama untuk daerah pesisir yang dilindungi seperti Pamurbaya.
 
Adapun Kelly Tandiono lebih mengangkat isu global terkait sampah yang sering mencemari daerah pantai Indonesia. Perempuan yang hobi menyelam tersebut geram melihat sampah plastik yang selalu berserakan di pesisir pantai Indonesia. Maka, Kelly melakukan aksi nyata dengan mengajak rekan-rekannya dari berbagai belahan dunia untuk ikut andil dalam kegiatan sosial membersihkan sampah sekitar tempat wisata Gua Kristal, Kupang, Nusa Tenggara Timur.
 
Diskusi konservasi merupakan langkah awal untuk membuka mata masyarakat tentang kondisi lingkungan di pesisir Surabaya yang semakin memprihatinkan. Setelah memahami kondisi di sekitar tempat tinggalnya sendiri, warga kota diharapkan tergerak untuk melakukan aksi nyata menyelamatkan lingkungan.
Supporter Gathering Surabaya 2019.
Supporter Gathering Surabaya 2019.
© (c)Earth Hour Surabaya Enlarge
Supporter Gathering Surabaya 2019.
Supporter Gathering Surabaya 2019.
© Earth Hour Surabaya Enlarge

Comments

blog comments powered by Disqus