Kiprah Da’i dan Dai’ah Konservasi Desa Penyangga Taman Nasional Ujung Kulon | WWF Indonesia

Kiprah Da’i dan Dai’ah Konservasi Desa Penyangga Taman Nasional Ujung Kulon



Posted on 19 May 2019   |  
Indonesia merupakan salah satu negara dengan pemeluk agama islam terbesar di dunia.
© WWF-Indonesia
Kondisi satwa liar yang ada di Indonesia saat ini seperti Badak Jawa, Badak Sumatera, Gajah Sumatera, dan Harimau termasuk ke dalam satwa yang terancam punah menurut IUCN.  Jumlah populasi satwa liar tersebut yang kian menurun mendorong beberapa tokoh agama islam untuk melakukan pendekatan yang berbeda sebagai salah satu strategi konservasi satwa liar.

Beberapa ulama yang tergabung ke dalam Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Universitas Nasional bekerja sama dengan para mitra dari kalangan aktivis dan akademisi seperti WWF Indonesia, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Forum Konservasi Harimau Indonesia (Harimau Kita), serta Alliance of Religion (ARC) Inggris untuk kemudian merumuskan adanya fatwa mengenai pelestarian satwa langka yang ada di Indonesia. Maka dari itu dikeluarkanlah fatwa MUI No. 4 Tahun 2014 Mengenai Pelestarian Satwa Langka Untuk Keseimbangan Ekosistem. Fatwa ini bertujuan bukan hanya untuk memperkuat kebijakan Pemerintah Indonesia dalam upaya pelestarian satwa langka yang ada di Indonesia saja, namun, fatwa tersebut juga dapat memberikan kepastian hukum menurut pandangan islam terhadap perlindungan satwa. Indonesia merupakan satu-satunya yang mengeluarkan fatwa khusus untuk perlindungan satwa langka.

Indonesia merupakan salah satu negara dengan pemeluk agama islam terbesar di dunia. 90% penduduk Indonesia adalah pemeluk agama islam. Diharapkan dengan syiar konservasi melalui syiar agama dapat menekan angka keterancaman satwa langka yang ada di Indonesia dengan meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menjaga satwa dan habitatnya.

Taman Nasional Ujung Kulon, sebagai satu-satunya habitat bagi Badak Jawa yang juga merupakan satu-satunya spesies di dunia, juga turut mendukung adanya Fatwa MUI mengenai pelestarian satwa langka. Bersama dengan MUI, Universitas Nasional, YABI, WWF Indonesia-Ujung Kulon Project dan mitra lainnya, TNUK mengajak para da’i di sekitar kawasan penyangga Taman Nasional Ujung Kulon membentuk suatu kelompok dakwah yang disebut Da’I Konservasi. Da’i konservasi ini dibentuk pada tahun 2014 setelah sahnya Fatwa MUI No. 4 Tahun 2014. Terdapat 18 da’i di tiap-tiap desa yang berada di Kecamatan Sumur dan Cimanggu.

Para pendakwah ini bertugas untuk menyampaikan syiar-syiar agama termasuk mengenai pentingnya konservasi dalam agama islam. Para pendakwah ini melakukan syiarnya melalui khutbah salat jumat, majelis taklim dan atau pengajian rutin tahunan pada saat bulan suci Ramadhan.

Sudah 3 tahun, Balai Taman Nasional Ujung Kulon bersama dengan da’i konservasi mengadakan majlis taklim di masjid-masjid atau musola yang ada di daerah penyangga Taman Nasional Ujung Kulon. Setiap Kepala Resort memilih dua masjid yang berada di wilayahnya untuk kemudian dijadikan tempat ceramah bagi da’i konservasi yang ada di daerah tersebut. Materi yang disampaikan meliputi pembahasan ayat-ayat suci Al-Qur’an yang bertemakan peranan manusia dalam menjaga alam sekitarnya seperti yang tertuang pada QS Al-A’raf ayat 56.

Diharapkan melalui syiar agama ini, umat yang berada di Daerah Penyangga Taman Nasional Ujung Kulon dapat menyadari peranan mereka untuk menjaga kelestarian Badak Jawa melalui cara menjaga kelestarian Taman Nasional Ujung Kulon.






 



 
Indonesia merupakan salah satu negara dengan pemeluk agama islam terbesar di dunia.
© WWF-Indonesia Enlarge
Taman Nasional Ujung Kulon, sebagai satu-satunya habitat bagi Badak Jawa yang juga merupakan satu-satunya spesies di dunia, juga turut mendukung adanya Fatwa MUI mengenai pelestarian satwa langka.
© WWF-Indonesia Enlarge

Comments

blog comments powered by Disqus