Kolaborasi dalam Survei Gajah Borneo | WWF Indonesia

Kolaborasi dalam Survei Gajah Borneo



Posted on 24 May 2019   |  
Keterlibatan TNI dalam survei gajah merupakan hasil koordinasi yang baik yang sudah lama dibangun oleh WWF Indonesia.
© WWF-Indonesia/Suparjono
Oleh: Agus Suyitno
[BAHASA INDONESIA]

Pada akhir Januari 2019 anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) di wilayah perbatasan Kalimantan Utara telah membantu kegiatan Survei Gajah Borneo yang dilakukan oleh WWF Indonesia, survei dilakukan selama satu minggu. Anggota TNI tersebut berasal dari Komando Rayon Militer (Koramil) Wilayah Sebuku, Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Utara, sebanyak 2 orang dari Bintara Pembina Desa (Babinsa) bernama Tri Sugeng dan Abdul Halik telah membantu survei Gajah Borneo. Turut terlibat pula dalam survei ini anngota dari Pemerintah Kecamatan Tulin Onsoi, Gabungan Pecinta Alam (Gappeta) Borneo, Perkumpulan Lintas Hiju (PLH), Satgas Konflik Gajah dan masyarakat setempat.

Keterlibatan TNI dalam survei gajah merupakan hasil koordinasi yang baik yang sudah lama dibangun oleh WWF Indonesia. Ketika permohonan dukungan untuk survei gajah diajukan mereka menyambut baik dan siap berkolaborasi dengan melibatkan anggotanya. Pelibatan anggota TNI dalam survei gajah tentunya sebagai salah satu bentuk kepedulian para pihak di dalam upaya pelestarian gajah dan habitatnya.

Survei Gajah Borneo ini merupakan lanjutan dari survei-survei sebelumnya, mulai dikerjakan sejak Februari 2018 dimana survei sebelumnya juga telah melibatkan para pihak diantaranya dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Nunukan, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur, Mahasiswa Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman dan Mapala 613 Poltek Nunukan. Survei ditargetkan berjalan sekitar 2 tahun dari 2018 – 2019 dengan menggunakan metode okupansi, total area survei sekitar 100.000 Ha, sejauh ini survei yang sudah dikerjakan hingga Februari 2019 telah berjalan sekitar 70%.

Survei Gajah Borneo sendiri merupakan salah satu program yang tertuang di dalam Strategi Rencana Aksi Konservasi Gajah Borneo (SRAK-GK) 2018-2028 dimana diperlukan pembaruan data terkait populasi dan habitat gajah di Kalimantan Utara sampai 2019 ini. Data sebelumnya berdasarkan data survei terakhir tahun 2012, populasi gajah di Kalimantan berkisar 30-80 individu, habitat utamnya di Kecamatan Tulin Onsoi yang berbatasan langsung dengan wilayah Sabah, Malaysia. Populasi Gajah di Sabah sendiri populasinya jauh lebih besar diperkirakan mencapai 1.500-2.000 individu. Kegiatan survei ini juga didukung oleh Toyota Motor Corporation Bersama WWF Jepang melalui program Living Asian Forest Project Bersama, yang bertujuan untuk mendorong praktek pengelolaan hutan yang bertanggung jawab agar sumber daya alam seperti kayu dapat menjadi komoditas yang keberlanjutan

Survei gajah tahap ke 5 ini dibagi menjadi 3 tim survei, masing-masing tim melakukan survei di Hulu Sungai Sibuda, Bagian tengah Sungai Sibuda dan hulu Sungai Apan, wilayah tersebut berbatasan langsung dengan wilayah Sabah, Malaysia. Untuk mencapai lokasi tersebut harus bersusah payah, medan yang dilalui cukup berat, tim harus melintasi sungai dengan giram yang besar dan tebing-tebing yang cukup tinggi. Di daerah ketinggian tersebut yang mencapai lebih dari 100 m diatas permukaan laut terdapat lembah-lembah dan sungai yang biasa digunakan gajah untuk bergerak dan mencari makan dan juga terdapat koridor yang diduga kuat sebagai lintasan gajah menuju Sabah, Malaysia ke Nunukan, Kalimantan Utara atau sebaliknya.

Abdul Halik dan Tri Sugeng dari Koramil sangat senang bisa membatu kegiatan survei Gajah Borneo, selain dapat memantau habitat gajah kegiatan ini juga dapat memantau keamanan kawasan hutan di Kecamatan Tulin Onsoi dalam pencegahan illegal logging, dulu illegal logging pernah terjadi pada tahun 2000 an, namun sekarang sudah tidak ada lagi. Kami siap untuk membantu survei gajah selanjutnya dan jangan segan untuk meminta bantuan kami, ucap Tri Sugeng saat dimintai pendapatnya setelah survei. Dia menambahkan anggota TNI dalam hal ini sangat dekat dengan masyarakat dan pihak lainnya, harapannya dengan kegiatan survei ini pemahaman kita bertambah tentang Gajah Borneo kemudian dapat memberikan edukasi kepada masyarakat untuk pelestariannya. Mereka merupakan aset daerah, masuk dalam kategori jenis binatang langka dan dilindungi oleh undang-undang, jadi mari kita bersama-sama untuk melestarikannya.

Survei selama satu minggu ini terdapat beberapa temuan penting diantaranya temuan tanda-tanda keberadaan gajah seperti jejak, kotoran dan bekas gesekan gajah pada batang pohon. Selain itu ditemukan daerah sumber garam (sopon) di hulu Sungai Sibuda, sekitar 1 km di perbatasan Sabah masuk dalam koridor atau lintasan gajah. Garam sangat disukai berbagai jenis mamalia terutama gajah, sumber garam sangat dibutuhkan untuk keperluan mineral yang dibutuhkan oleh gajah dalam berkembang biak.

Dari survei gajah hingga Februari 2019 ini, mulai terpetakan sebaran habitat gajah di wilayah Kalimantan, daerah-daerah yang belum dilakukan survei masih berpotensi terdapat keberadaan gajah dan ini akan dilakukan pada survei selanjutnya. Untuk jumlah populasi secara keseluruhan tentunya menunggu data survei hingga selesai. Setelah survei ini selesai, data survei ini akan sangat bermanfaat untuk dasar pengambilan keputusan untuk implementasi konservasi gajah di Kalimantan, baik dari aspek tata ruang, pengelolaan populasi, pengelolaan habitat dan dukungan kebijakan dari pemerintah.

---

[ENGLISH]

Indonesian Armed Forces (TNI) in North Kalimantan border joined in Elephant Survey

In the end of January 2019, members of the Indonesian Armed Forces (TNI) in the border area of North Kalimantan had assisted the activities of the Borneo Elephant Survey conducted by WWF Indonesia. It was held for one week. The TNI members came from the Sebuku Regional Military Command (Koramil), Nunukan Regency, and North Kalimantan Province. Two people from the Village Advisory Board, (Babinsa) named Tri Sugeng and Abdul Halik, helped the survey of Borneo Elephant.  

The involvement of TNI in this survey was the result of good coordination that has been established by WWF Indonesia from a long time ago. When we requested this survey, they were ready and welcome to collaborate with involving their members. The involvement of TNI members in this survey shows a form of concern for the parties, that they have efforts to conserve elephants and their habitat.

This Borneo Elephant Survey is a continuous survey, which first started in February 2018. The previous survey also involved parties from the Nunukan Environment Agency (DLH), East Kalimantan Natural Resources Conservation Center (BKSDA), University of Forestry Faculty Students Mulawarman and Mapala 613 Poltek Nunukan. The survey is targeted to run around 2 years from 2018 - 2019 by using the occupancy method. The total survey area is around 100,000 Ha, and so far, the survey that has been carried out until February 2019 has been running about 70%.

This Borneo Elephant Survey itself is one of the programs included in the Borneo Elephant Conservation National Strategy Action Plan (SRAK-GK) 2018-2028 where it is necessary to make update data regarding elephant populations and habitats in North Kalimantan until 2019.

Previous data is based on the latest survey, which was done in 2012.At that time the elephant populations in Kalimantan ranges were from 30-80 individuals, and their main habitat was found in Tulin Onsoi Subdistrict, which is the border to the Sabah region, Malaysia. The population of elephants in Sabah itself is a much larger population, that it is estimated about 1,500-2,000 individuals. This survey is supported by Toyota Motor Corporation and WWF Japan as Living Asian Forest Project,a  series of activities dedicated toward biodiversity conservation in Southeast Asia and to raise the awareness of the public on environmental issues.

The 5th phase of this elephant survey was divided into 3 teams, each team conducted a survey in the Upper Sibuda River, the middle part of the Sibuda River and the upper reaches of the Apan River, the area are directly adjacent to Sabah, Malaysia. To reach that location, the team had to try so hard, the road is quite steep; the team had to cross the river with large gears and the cliff was quite high. The areas can reach more than 100m above the sea level, but elephants are present there. They use the river often, move and feed around the areas. There were also corridors found, that are possibly some elephant paths to Sabah, Malaysia to Nunukan, North Kalimantan or vice versa.

Abdul Halik and Tri Sugeng from the Koramil were very happy to be able to help Borneo Elephant survey activities. They could monitor elephant habitat by participating the survey and monitor the secured forest areas in Tulin Onsoi Subdistrict for illegal logging prevention. Illegal logging used to occur in 2000s, but not anymore. “We are ready to help the next elephant survey and do not hesitate to ask for our help.” Tri Sugeng answered when he was asked for his opinion after the survey. He added that TNI members are very close to the community and other parties, he hoped that through the survey, the community could increase their awareness of Borneo Elephants conservation and could provide education to the community for its conservation. Borneo elephants are island pride assets, fall into the category of rare species, and are protected by law, so let us together to save them.

This one-week survey found several important things including the discovery of elephant traces, dirt and former friction on elephant trunks. In addition, it was found a source of salt (sopon) in the upper reaches of the Sibuda River, about 1 km on the Sabah border around the elephant corridor. Salt is very popular with various types of mammals, especially elephants. Such source of salt is needed for mineral when elephants are breeding.
From the Borneo elephant survey until February 2019, the distribution of Borneo elephant habitat in Kalimantan was discovered. The areas that have not been surveyed yet still have the potential to have elephants and the survey will be continued. To know the total population, the team should wait the data survey to get completed. After the survey is completed, the survey data will be very useful for the basic data on decision making for the implementation of elephant conservation in Kalimantan, both in terms of spatial planning, population management, habitat management and policy support from the government.
Keterlibatan TNI dalam survei gajah merupakan hasil koordinasi yang baik yang sudah lama dibangun oleh WWF Indonesia.
© WWF-Indonesia/Suparjono Enlarge

Comments

blog comments powered by Disqus