Sapa Sahabat Kecil di Kelas Susur Sungai Subayang | WWF Indonesia

Sapa Sahabat Kecil di Kelas Susur Sungai Subayang



Posted on 04 September 2019   |  
Kelas Susur Sungai Subayang (25/08/2019).
Kelas Susur Sungai Subayang (25/08/2019).
© WWF-Indonesia/Doni Susanto
Oleh: Icha Ayin Anjeli (Volunteer River Ambassador)
 
Naiak lai (Naik, Kak),” ajak Pak Anto dari tepian Sungai Subayang dengan bahasa daerah setempat, memanggil kami dari Komunitas River Ambassador (RA) sambil menaiki piyau (sejenis perahu kecil). Kami pun menyusuri sungai hingga sampai di Stasiun Lapangan Subayang WWF-Indonesia atau yang sering disebut camp. Air tampak surut dari hari-hari biasanya. Kemarau panjang membuat batu-batu di dasar sungai terlihat dengan jelas. Sungai yang diapit oleh bukit dengan pohon yang rindang sangat memanjakan mata bagi siapa saja yang melihatnya. Sesekali terlihat kawanan monyet muncul dari balik pepohonan seakan menyambut kedatangan kami atau mungkin mereka terusik dengan suara khas piyau yang cukup keras. Dari Desa Tanjung Belit, perjalanan ditempuh sekitar 15 menit untuk sampai camp dengan arus yang cukup tenang.
 
Sesampainya di camp, teman-teman RA turun dari piyau dan naik ke camp. Rumah kayu yang besar dengan halaman yang dikelilingi pepohonan tinggi dengan kanopi yang lebar memberikan kesan teduh di bawahnya. Kami disambut ramah oleh Bang Pendi, penjaga Camp Subayang.
 
Kehadiran kami di Camp Subayang adalah untuk mendukung Kelas Susur Sungai. Kegiatan tersebut kami mulai pada Minggu, 25 Agustus 2019 pukul 07.00 WIB. Semua pendukung kegiatan seperti buku cerita, botol air minum berwarna-warni sebagai hadiah, alat peraga, dan beberapa makanan ringan untuk sahabat kecil kami di sana sudah disiapkan.  Disambut udara pagi yang terasa sangat segar, kami kembali diantar Pak Anto naik piyau ke sekolah bersama seorang temannya yang kami sapa dengan panggilan Pak Jui.
 
Sungai Subayang memang selalu menarik perhatian kami. Jernihnya air dan hijaunya pepohonan yang mengapit sungai menjadi nilai tambah bagi Kelas Susur Sungai kali ini. Tak jarang, kami berpapasan dengan penduduk desa yang sedang menepikan piyau mereka untuk menebar jala ikan. Ada pula beberapa orang  yang menangkap ikan dengan cara terjun langsung ke air. Terkadang kami melintasi sekumpulan ibu yang mencuci bersama anak-anak mereka yang ikut main di sungai. Senyum ramah penduduk asli selalu terlihat menyapa kami.
 
Sesampainya di sekolah, terlihat empat orang anak perempuan menghampiri kami tersenyum manis. Mereka mengajak kami ke tepian sungai yang tak jauh dari sekolah mereka. “Kakak!” sapa beberapa anak sambil tersenyum dengan ramah sepanjang perjalanan menuju tepian sungai. Di sana, beberapa sahabat kecil menyambut kedatangan kami dengan senang. Kami duduk melingkar di bawah pohon, tepat di tepian sungai yang teduh. “Hai adik-adik,” sapa Ika, salah seorang teman RA kepada mereka. Dengan antusias para siswa membalas sahutan Ika. Kegiatan Kelas Susur Sungai diikuti oleh sekitar 28 anak yang terdiri dari kelas 4, 5, dan 6 dari dua SD yang berbeda, yaitu SD 006 dan SD 18 Koto Lamo Kampar Kiri Hulu.
 
Kesadaran akan pentingnya pendidikan lingkungan  adalah alasan utama komunitas RA melakukan kegiatan Kelas Susur Sungai untuk menjaga sungai. Salah satu kegiatan Kelas Susur Sungai adalah membaca buku bersama. Antusias mereka sangat terlihat saat kami mengajak mereka membaca  buku bergambar yang kami bawakan, bahkan mereka tidak malu saat kami meminta mereka untuk menceritakan ulang apa yang telah mereka baca.

Seusai membaca, mereka diajak mendengarkan dongeng dari salah seorang teman RA tentang “Monster sampah”. Dongeng ini bercerita dampak negatif dari membuang sampah sembarangan. Mereka begitu bersemangat  dan fokus mendengarkan dongeng yang dibacakan hingga akhirnya mereka berteriak “MONSTER SAMPAH DATAAAANG!” Tiba-tiba monster sampah itu benar-benar datang dari arah belakang. Tawa lepas terdengar saat monster sampah berjalan mendekati mereka dan menangkap salah seorang anak yang tengah duduk. “Adik-adik, monster sampah ini akan datang dan menghantui kita, apabila kita tidak menjaga lingkungan dengan baik dan membuang sampah ke sungai”, pesan Icha.
 
Informasi seputar kualitas sungai juga diberikan agar mereka mengetahui kualitas air yang bersih dan baik untuk digunakan, yaitu dengan cara sederhana seperti melihat warna air, bau dan rasa. Beberapa anak maju untuk menunjukkan seperti apa air yang bersih kepada teman-temannya. Hadiah berupa botol minum cantik menjadi apresiasi dari keberanian mereka.
 
Kegiatan dilanjutkan dengan pembuatan kreativitas  dari botol minum bekas yang disulap menjadi tempat pensil unik. Cara ini merupakan salah satu upaya untuk mengurangi sampah plastik. Pada akhir kegiatan, semua peserta menikmati makanan ringan yang sudah disediakan kemudian foto bersama.  “Kelas Susur Sungai River Ambassador?” teriak salah seorang teman RA memberi aba-aba. Dengan serempak adik-adik menjawab, “Karena Sungai untuk Semua!” Kalimat itu pun diabadikan dalam video dan menjadi pengingat supaya para sahabat kecil makin mencintai lingkungan, khususnya Sungai Subayang.
Kelas Susur Sungai Subayang (25/08/2019).
Kelas Susur Sungai Subayang (25/08/2019).
© WWF-Indonesia/Doni Susanto Enlarge
Kelas Susur Sungai Subayang (25/08/2019).
Kelas Susur Sungai Subayang (25/08/2019).
© WWF-Indonesia/Doni Susanto Enlarge
Kelas Susur Sungai Subayang (25/08/2019).
Kelas Susur Sungai Subayang (25/08/2019).
© WWF-Indonesia/Doni Susanto Enlarge
Kelas Susur Sungai Subayang (25/08/2019).
Kelas Susur Sungai Subayang (25/08/2019).
© WWF-Indonesia/Doni Susanto Enlarge

Comments

blog comments powered by Disqus