Panda Mobile Memperingati Hari Bumi Bersama Siswa Bambino International Preschool Cipete | WWF Indonesia

Panda Mobile Memperingati Hari Bumi Bersama Siswa Bambino International Preschool Cipete



Posted on 01 May 2019   |  
Panda Mobile di Peringatan Hari Bumi Bersama Hari Bumi Bersama Siswa Bambino International  Preschool Cipete.
Panda Mobile di Peringatan Hari Bumi Bersama Siswa Bambino International Preschool Cipete.
© WWF-Indonesia
Oleh: Suci Dwi (Volunteer Panda Mobile)
Kegiatan Panda Mobile di penghujung April 2019 kali ini terasa begitu istimewa dan membuat seluruh anggota tim dan volunteer bersemangat. Alasannya, Panda Mobile akan memperingati Hari Bumi dengan 50 anak yang baru berusia 2-6 tahun. Para peserta tersebut adalah siswa Bambino International Preschool di Cipete Raya.

[Baca juga: Cara Mengundang Panda Mobile]

Acara dimulai sejak pagi saat peserta masih segar untuk menerima materi dan pengetahuan baru tentang lingkungan. Kak Raisha dan Kak Suci membuka dengan perkenalan mengenai WWF-Indonesia. Kedua anggota tim Panda Mobile tersebut menjelaskan asal muasal pemilihan panda sebagai logo WWF.

Jadi, cerita bermula dari kelahiran panda Chi-Chi ke Kebun Binatang London tidak lama sebelum WWF didirikan. WWF menganggap panda sebagai satwa yang karismatik yang terancam punah, namun dicintai oleh banyak orang di dunia. Panda raksasa bisa mewakili komitmen WWF untuk melindungi kehidupan alam liar, termasuk satwa dan habitatnya serta seluruh ekosistem penting di planet Bumi.

Aktivitas selanjutnya adalah penyampaian materi tentang spesies payung yang terdiri dari gajah, harimau, orangutan, penyu, hiu paus, dan Badak Jawa. Spesies payung adalah satwa yang memiliki daerah jelajah yang sangat luas. Tim Panda Mobile menjelaskan alasan pentingnya menjaga hewan-hewan tersebut. Apabila habitat yang menjadi daerah jelajah satwa payung terpelihara dengan baik, maka makhluk lain yang ada di dalamnya juga dapat terjaga.

Usai acara pertama, para peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok sesuai kelas untuk mengikuti sejumlah kegiatan yang dilakukan secara paralel. Satu grup siswa diajak bermain engklek orangutan yang dipandu oleh Kak Syifa. Pada games ini, peserta akan bermain sambil belajar mengenai  delapan fakta orangutan, mulai dari cara beradaptasi hingga jenis makanan yang disukai oleh kera besar tersebut. Para siswa tampak sangat antusias ketika bermain permainan ini.

Meski baru mengenal orangutan secara sepintas, namun peserta bisa membayangkan wujud kera besar berbulu tersebut. Namun, ternyata anak-anak punya pendapat unik mengenai satwa payung yang sedang dipelajarinya. Contohnya saja siswa bernama Ali yang mengungkapkan rasa kekhawatirannya dengan berkata, "I like orangutan, but I’m scare if I have to see them directly, Kak.” Menanggapi pernyataan tersebut, Kak Syifa menjawab dengan tangkas, “It's okay Ali. They live far from here. But you can see them only at zoo.”

Sementara itu, sebagian peserta di grup lainnya diajak menonton film di truk Panda Mobile. Video yang diputar hari ini berjudul Quartet at The Crossroads. Film tersebut dibuka dengan gambaran Indonesia yang memiliki kekayaan flora dan fauna. Namun, suatu hari, orang-orang menebang pohon-pohon di hutan sehingga menyebabkan para hewan kehilangan tempat tinggal.

Di akhir kegiatan menonton, tim Panda Mobile menyebutkan salah satu jenis satwa yang akan merasakan dampak langsung akibat kerusakan alam, yaitu trenggiling. Padahal, trenggiling adalah salah satu hewan yang harus selalu dijaga populasinya. Jadi, tim Panda Mobile berpesan agar masyarakat, pemerintah dan lembaga lain seperti WWF-Indonesia berkomitmen untuk hidup berdampingan dengan alam.

Video selanjutnya yang diputar berjudul We Are All Connected. Film ini bercerita tentang aktivitas manusia dan hewan yang sama, namun tempat tinggal kedua makhluk hidup tersebut yang berbeda. Selain itu, ada satu film lagi yang berjudu Plastic Planet yang berkisah tentang dunia yang dipenuhi plastik sehingga menyebabkan hewan-hewan laut mati dan lingkungan rusak. WWF berharap kedua film ini bisa mengingatkan para siswa untuk terus menjaga lingkungan sehingga bisa mencegah ancaman bahaya yang yang mungkin terjadi di masa depan.

Ternyata, anak-anak bisa menangkap pesan yang tersurat dan tersirat dari semua kegiatan. Hal ini tergambar dari pernyataan salah satu peserta yang bernama Hikari yang mengatakan, "We promise to not using plastic again to bring our stuffs.” Tim Panda Mobile terkesan dengan anak-anak pintar yang mampu belajar dengan cepat. Perwakilan WWF-Indonesia ini lalu mengajak peserta untuk melakukan aksi nyata seperti penggunaan tas belanja dari kain atau paper bag, menggunakan tumbler dan membawanya untuk mengurangi konsumsi air mineral kemasan.

Tim Panda Mobile merasa senang jika kegiatan ini dapat memberikan kegembiraan seperti yang diungkapkan Hikari, “We are so happy today, because we learn something new from you, Kak.”  WWF berharap program ini bisa dilaksanakan secara rutim dan memberikan manfaat positif. Dengan begitu, siswa mendapat media pembelajaran alternatif untuk mengenal lingkungan lebih dekat.
Panda Mobile di Peringatan Hari Bumi Bersama Hari Bumi Bersama Siswa Bambino International  Preschool Cipete.
Panda Mobile di Peringatan Hari Bumi Bersama Siswa Bambino International Preschool Cipete.
© WWF-Indonesia Enlarge
Panda Mobile di Peringatan Hari Bumi Bersama Siswa Bambino International Preschool Cipete.
Panda Mobile di Peringatan Hari Bumi Bersama Siswa Bambino International Preschool Cipete.
© WWF-Indonesia Enlarge

Comments

blog comments powered by Disqus