Hiu: Kawan atau Lawan | WWF Indonesia

Hiu: Kawan atau Lawan



Posted on 21 March 2013   |  
Hiu martil (Sphyrna lewini) dilempar dari kapal hidup-hidup setelah siripnya dipotong. Pulau Cocos, Kosta Rika
© naturepl.com / Jeff Rotman / WWF

Oleh Senna Saraswati, mahasiswi yang sedang melangsungkan studi di Universitas Airlangga, Surabaya, ini sangat tertarik dengan dunia konservasi. Hobi menulis di blog telah mengantarkannya menjadi pemenang kompetisi photo-blogging 2012 yang diselenggarakan oleh WWF-Indonesia. Twitter: @sennasrs


Di benak kita selama ini, hiu selalu diproyeksikan sebagai sesuatu yang berbau horor dan teror. Sejak jaman dahulu kala, hiu sudah dianggap sebagai spesies yang istimewa. Mitos tentang hiu sudah menonjol dalam mitologi Hawaii. Pada saat itu, hiu disebut Aumakua atau penguasa samudera. Mitos hiu sebagai pemakan manusia dan pembunuh yang agresif juga ternyata masih melekat di mata masyarakat hingga kini dan menjadi stigma yang membelenggu.
 

Hingga saat ini ada sekitar 440 jenis hiu yang diketahui yang dapat ditemukan di semua lautan di dunia, dan sebagian kecil dapat ditemukan di estuari dan sungai. Dari ratusan jenis hiu hanya 3 jenis, The great white shark, The tiger shark and The bull shark, yang sering terkait dengan serangan pada manusia. Ketika di laut, kemungkinan anda tenggelam 100 kali lebih tinggi dibanding kemungkinan digigit hiu. Bahkan ada penelitian yang menyebutkan bahwa kemungkinan manusia dibunuh oleh hiu 1 : 300 juta, berbeda jauh dengan kemungkinan terbunuh oleh kecelakaan pesawat sebesar 1 : 10 juta.
 

Serangan hiu pertama terjadi di pesisir pantai New Jersey pada tahun 1916. Peristiwa tersebut terjadi antara 1 Juli dan 12 Juli 1916. Dari serangan The Jersey Shore, 4 korban tewas dan 1 korban luka-luka. Peristiwa itu bermula karena migrasi ribuan orang dari Timur laut US akibat heat-wave mematikan dan wabah polio ke daerah pesisir New Jersey. Sejak tahun 1916, para ilmuwan memperdebatkan spesies hiu yang bertanggung jawab atas terjadinya penyerangan tersebut, dan yang paling sering menjadi tersangka adalah Great White Shark dan Bull Shark.
 

Reaksi masyrakat lokal dan nasional terkait serangan hiu Jersey Shore berujung pada perburuan hiu yang diarahkan untuk dimusnahkan secara habis-habisan. Saat itu, hiu disebut sebagai man-eating atau pemakan manusia. Serangan hiu Jersey Shore secara tiba-tiba menjadi kultur baru yang popular di Amerika, dimana hiu menjadi kartun editorial, merepresentasikan bahaya. Serangan tersebut juga menjadi ilham terbitnya novel Jaws, yang menceritakan Hiu Putih yang mengancam daerah pesisir Amity. Buku yang ditulis oleh Peter Benchley pada tahun 1974 tersebut akhirnya diadaptasi menjadi film oleh Steven Spielberg setahun kemudian dengan judul yang sama. Baik buku maupun filmnya sangat sukses di pasaran dan cukup influential.

Tahun lalu, dua peselancar dari Mexico dan dua dari California telah kehilangan nyawa karena kehabisan darah akibat gigitan hiu. Setelah beberapa kejadian yang sama, para peneliti mulai berasumsi apabila hiu sekarang mengincar manusia. Jose Leonardo Castillo, kepala investigator hiu untuk National Fishing Institue Mexico, dan rekan-rekannya menginvestigasi suatu kemungkinan sejak terungkapnya suatu fakta bahwa tempat dua peselancar meksiko kehabisan nyawa tersebut adalah tempat dibuangnya jasad korban dari aktivitas kriminal. Mungkin saja hal itu penyebabnya; setelah secara simultan mengkonsumsi daging manusia, satu atau lebih hiu dapat mengasosiasikan manusia dengan makanan.
 

Meskipun tidak ada hubungan langsung antara manusia dan makanan hiu, setidaknya asumsi tersebut menjelaskan bahwa kebanyakan hiu menyerang secara general. The National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) menjelaskan bahwa hiu tidak memburu manusia tapi apabila mereka menyerang, biasanya hal itu terjadi karena kesalahan hiu mengidentifikasi. Seekor hiu predator yang besar biasanya menyerang singa laut atau anjing laut berlemak dan mangsa yang memiliki bentuk tubuh serupa. Biasanya, hiu akan menginvestigasi makanan potensialnya dengan mencoba. Sayangnya, akbiat gigi yang sangat tajam, sebuah gigitan saja dapat menyebabkan seseorang kehabisan darah hingga meninggal dunia. Salah satu masalah juga terletak pada danau, sungai, dan estuary, dimana freshwater shark seperti bull shark sering kali berada di perairan terbuka di mana manusia berenang, berperahu, memancing atau sedang berekreasi dan akhirnya mengakibatkan hiu dan manusia bertatap muka.
 

Berdasarkan Murray Suid dan George Burgess, terdapat empat tipe serangan hiu terhadap manusia. Yang paling pertama dan umum adalah provoked attacks. Serangan ini terjadi apabila manusia dalam cara tertentu sengaja menyentuh atau menganggu hiu. Sering kali nelayan kehilangan jari ketika memindahkan hiu dari jaring. Yang kedua adalah serangan yang paling sering terjadi, hit-and-run attacks. Dalam kasus tersebut, hiu sebenarnya sedang menginvestigasi apakah seseorang yang ia gigit adalah mangsanya atau bukan. Apabila setelah menggigit ternyata bukan mangsanya, maka hiu akan segera meninggalkan tempat tersebut. Cara ketiga adalah sneak attacks, dimana hiu yang berada di dasar laut tiba-tiba dan tanpa sepengetahuan naik dan menggigit orang yang sedang menyelam. Dan yang terakhir adalah bump-and-bite attacks, dimana seekor hiu akan menabrak orang tersebut terlebih dahulu lalu menggigitnya.
 

Jadi, sebenarnya hiu bukanlah musuh. Serangan hiu tidak akan terjadi apabila tidak ada pemicu, yaitu manusia. Namun, kita dapat melakukan beberapa hal untuk mencegah dan meminimalisir kemungkinan diserang hiu:
 

  1. Tetaplah berada di dalam kelompok karena hiu lebih suka menyerang individu
  2. Hindari berada di dalam air pada pagi hari dan larut malam karena hiu sedang aktif mencari makan pada waktu-waktu tesebut
  3. Jangan masuk ke dalam air apabila sedang berdarah meskipun lukanya sangat ringan karena hiu sangat peka terhadap hal tersebut
  4. Jangan menggunakan perhiasan mengkilap karena hiu langsung menangkapnya sebagai mangsa
  5. Hindari nelayan komersial saat di dalam air karena tangkapan mereka dapat memancing hiu
  6. Hindari memakai baju berwarna cerah karena hiu dengan mudah menerima warna kontras
  7. Berhenti membuat percikan air yang besar karena hiu menangkapnya sebagai pergerakan mangsa yang terluka
Hiu martil (Sphyrna lewini) dilempar dari kapal hidup-hidup setelah siripnya dipotong. Pulau Cocos, Kosta Rika
© naturepl.com / Jeff Rotman / WWF Enlarge
Foto tangkapan sampingan (bycatch): Hiu seringkali tertangkap pancing dalam perikanan tuna rawai
© WWF-Indonesia / Bycatch Team Enlarge

Comments

blog comments powered by Disqus