Nasib Sang Predator Lautan | WWF Indonesia

Nasib Sang Predator Lautan



Posted on 09 July 2015   |  
Black Tip Shark
© Cat Holloway/WWF

Hiu merupakan salah satu makhluk laut yang ramai diperbincangkan publik terkait populasinya. Data CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Flora and Fauna/Konvensi Perdagangan Internasional terhadap Satwa dan Tumbuhan yang Terancam Punah) mencatat pada tahun 2010, 180 jenis predator lautan ini dinyatakan terancam dibandingkan dengan tahun 1996 hanya 15 spesies, sehingga banyak gerakan menyelamatkan populasi hiu muncul dari berbagai kalangan. #SOSharks (Save Our Sharks) merupakan salah satu kampanye yang digalang oleh  WWF-Indonesia untuk menghentikan konsumsi, perdagangan hingga penayangan kuliner hiu oleh media. 

Rata-rata konsumsi lokal hiu dan produk turunannya di kota besar Indonesia sebesar 54.720 porsi atau 10.756,8Kg sirip hiu per tahun. Tak hanya itu, tangkapan hiu di Indonesia menempati posisi teratas, yaitu sebanyak 68,377 ton pada tahun 2000 dan selama 2002-2011, Indonesia mengekspor 109,248 ton hiu (FAO,2013) 

Tak jauh berbeda dengan Hiu, pari manta (manta ray) dan pari setan (devil ray) banyak diburu untuk dikonsumsi. Kulit pari juga digunakan untuk membuat dompet dan kerajinan tangan, dan insangnya dijadikan obat yang diekspor ke China dan Taiwan. Pari manta sendiri telah mengantongi status perlindungan penuh di Indonesia dan masuk pada appendix II dalam CITES, bahkan pari setan sendiri masuk dalam jenis yang diatur oleh Convention on Migratory Species (CMS) yang menegaskan komitmen negara anggota untuk melindungi dari segala pemanfaatan. Kedua jenis pari ini sangat rentan terhadap eksploitasi berlebihan, selama hidupnya pari hanya bisa melahirkan 8-10 anakan. (Baca Juga: Akhirnya Perlindungan Penuh untuk Pari Manta Indonesia)

Pemborosan Sumber Daya

Hiu dan pari yang didapat oleh nelayan tidak semuanya merupakan tangkapan utama atau target nelayan. Kebanyakan merupakan tangkapan sampingan (bycatch). Hiu dan pari biasanya tidak sengaja ikut terjerat dalam alat tangkap modern yang memiliki tingkat selektivitas rendah. Total bycatch perikanan global mencapai angka 40,4%. Sebagian besar bycatch tidak dimanfaatkan dengan optimal, dibuang sia-sia. Di tengah kondisi overfishing, bycatch merupakan pemborosan sumber daya yang berujung kepada penurunan hasil tangkapan nelayan. (Baca Juga: Pahami Tangkapan Sampingan, Melindungi Ekosistem Laut Lebih Baik)

Jumlah hiu sebagai tangkapan sampingan pun tidak sedikit. Laporan WWF tahun 2015 mengungkapkan, selama enam bulan 3.000 lebih anakan hiu hammerhead dan 800 lebih hiu blacktip didaratkan di pelabuhan perikanan nusantara  Berondong-Lamongan  sebagai  bycatch. Sementara 700 lebih anakan hiu hammerhead dan 2.000 lebih hiu jenis lain didaratkan di pelabuhan Karangsong-Indramayu sebagai bycatch. Hiu-hiu tersebut umumnya tertangkap pada alat tangkap jenis insang dan pukat hela. Spesies yang terjerat bycatch pun beragam, mulai dari penyu, burung laut, pari manta, mamalia laut seperti lumba-lumba hingga hiu.

Hingga saat ini, WWF-Indonesia terus berupaya untuk memperbaiki pengelolaan perikanan hiu dan pari manta. Menggandeng  pemerintah  dan  akademisi,  bersama  menyoroti  kurangnya  data  terkait hiu dan pari. Mendorong pemerintah membuat kebijakan sesuai kesepakatan internasional, dan juga mendukung pengadopsian praktik konservasi terbaik untuk hiu dan pari. Awal Juni lalu peneliti hiu dikumpulkan dalam Lokakarya  Simposium  Hiu  dan  Pari  untuk  memberikan  rekomendasi  aspek biologi;  populasi  dan ekologi; serta  sosial  ekonomi  untuk  perbaikan  pengelolaan  hiu  dan  pari Indonesia.

Upaya Konsumen
Lalu bagaimana publik dapat berpartisipasi untuk mengurangi ancaman kepunahan terhadap hiu dan pari?  

  • Tidak membeli produk yang terbuat dari bagian tubuh hiu, pari manta dan pari setan
  • Melakukan advokasi dan menyebarluaskan pengetahuan tentang konservasi hiu, pari manta dan pari setan ke lingkungan sekitar 
  • Memastikan  kepada  penjual  bahwa  seafood  yang  kita  beli  tidak ditangkap  menggunakan alat tangkap yang  mendukung  tekanan  terhadap  biota  yang dilindungi
 

 Penulis: Fajrina Nissa Utami Marine Campaign & Social Media Assistant
 
Black Tip Shark
© Cat Holloway/WWF Enlarge
Foto tangkapan sampingan (bycatch): Hiu seringkali tertangkap pancing dalam perikanan tuna rawai
© WWF-Indonesia / Bycatch Team Enlarge
Hiu martil (Sphyrna lewini) dilempar dari kapal hidup-hidup setelah siripnya dipotong. Pulau Cocos, Kosta Rika
© naturepl.com / Jeff Rotman / WWF Enlarge

Comments

blog comments powered by Disqus