Perjuangan Menyelamatkan Hiu Tikus | WWF Indonesia

Perjuangan Menyelamatkan Hiu Tikus



Posted on 15 July 2016   |  
Hiu Tikus
© Brian J. Skerry/National Geographic/WWF
Saya pertama kali melihat hiu tikus (thresher Shark) pada tahun 2003, 30 meter kedalaman laut Visayan, di saat malam berganti siang, tulis Andy Cornish, WWF Global Shark Leader.
 
Satu jam sebelumnya, saya dan istri berada di atas perahu cadik bersama beberapa penyelam di Pulau Malapascua, Filipina tengah. Kami berlayar ditemani bintang-bintang menuju Monad Shoal. Kawasan terumbu karang yang luas ini dikenal sebagai satu-satunya tempat di dunia di mana kita dapat melihat hiu thresher tanpa harus menyelam terlalu dalam.

Di sini hiu tikus pelagis ini umumnya naik dari kedalaman setelah subuh, bersama ikan-ikan lain di pos pembersihan di sepanjang terumbu karang. Saat itu laut terasa sangat dingin untuk diselami, namun dinginya laut terbayarkan paling tidak saat kami mengitari pos pembersihan dan melihat bayangan biru keabu-abuan, perlahan muncul ke permukaan. Tiba-tiba, juru selam kami memanggil dan mengarahkan kami melihat seekor hiu tikus berukuran tiga meter - sangat jelas dengan ekornya yang berbentuk bulan sabit - melintas di depan kami.

Sebuah momen yang takkan terlupakan - terlebih saat kita tahu bahwa populasi hiu tikus telah berkurang lebih dari 70% di area mana pun mereka ditemukan. Saat ini mereka membutuhkan perlindungan global dari seluruh dunia.

Dua puluh menit berikutnya, kami melihat lebih banyak hiu tikus mengitari pos untuk pembersihan,  tampak seperti bayangan pesawat terbang. Beberapa bahakan sempat melintas tepat di atas kami seolah siap berpose di saat saya mengatur pencahayaan kamera dalam gelap. Gambar-gambar yang saya dapat berkualitas buruk karena adanya pelarangan keras penggunaan flash pada kamera karena dapat mengganggu dan mengejutkan mereka. Namun, pengalaman menyelam bersama hiu sudah cukup membuat kami enggan kembali ke permukaan.

Sejak saat itu saya sudah mengunjungi Malapascua dua kali, paling akhir beberapa bulan yang lalu. WWF bersama Manta Trust and Project AWARE bekerja sama untuk menyusun panduan wisata hiu dan pari. Kami menggunakan area selam hiu tikus di Malapascua sebagai studi kasus yang terbilang sukses.

Hiu tikus pelagis adalah satu dari tiga spesies hiu tikus; jenis hiu yang makanan utamanya ikan-ikan kecil di batas kedalaman beberapa ratus meter. Walau sebelumnya sudah banyak yang tahu bahwa hiu thresher berburu ikan dengan ekornya yang berbentuk cambuk, bukti ilmiah baru didapat pada tahun 2010 saat para ahli merekam hiu tikus pelagis berburu ikan sarden. Melalui gerak lambat hasil rekaman, terlihat bahwa hiu tikus menggunakan ekornya memukul dari samping dan bahkan dari atas untuk melumpuhkan gerombolan ikan buruannya.

Sayangnya, ikan predator ini adalah spesies yang paling terancam dari jenis hiu pelagis lainnya. Kedalaman yang dihuni jenis hiu tikus pelagis (Pelagic thresher shark), hiu tikus mata-besar (Big eye thresher shark) dan hiu tikus lainnya (Common thresher shark) adalah area pancing yang ramai. Hiu-hiu ini sering tertangkap rawai lepas pantai dan jaring insang ikan pelagis lainnya, beberapa diantaranya memang menargetkan hiu, sedangakan jaring yang lain digunakan untuk menangkap tuna dan beberapa spesies lain. Penangkapan seperti ini - dan beberapa cara penangkapan lainnya seperti yang menggunakan jaring insang di area terumbu karang lepas pantai - kebanyakan tidak diatur dan tidak tercatat atau dilaporkan. Kejadian menyakitkan terjadi saat saya mengunjungi Pelabuhan Karachi di Pakistan beberapa bulan yang lalu, dan sekali lagi melihat hiu tikus. Namun saat itu hiu-hiu tikus yang saya temui sudah tidak bernyawa di dermaga, tertangkap jaring insang penangkapan yang tidak bertanggung jawab.

Penangkapan yang tidak berkesinambungan ini ditemani oleh kurangnya upaya konservasi di sebagian besar area mereka dan rendahnya tingkat reproduksi - contohnya hiu tikus mata-besar hanya mampu melahirkan kurang dari 20 anak semasa hidupnya. Hal ini membuat mereaka hidup di bawah ancaman kepunahan.
Namun, upaya perlindungan yang lebih baik sedang dirumuskan. Sebagai hasil dari meningkatnya perhatian terhadap terancamnya hiu tikus, Sri Lanka telah mengusulkan agar ketiga spesies ini dimasukkan ke Appendix II, Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES), yang nantinya akan mengatur perdagangan global produk-produk hiu tikus - dengan batasan, penangkapan hanya untuk perikanan berkesinambungan. Hal ini penting mengingat banyaknya sirip hiu tikus yang diekspor ke negara-negara di Asia untuk dijadikan sup sirip hiu, yang dihargai sangat tinggi.

Usulan Sri Lanka diterima dengan baik dan sampai saat ini, 22 negara ditambah Uni Eropa sudah menyatakan dukungan resmi mereka. Keputusan final untuk hiu tikus (thresher shark) - bersama hiu silky (silky shark) dan pari setan (devil ray), yang juga diusulkan untuk Appendix II - akan dibuat oleh 182 pihak pada pertemuan CITES di Afrika Selatan, yang akan diadakan bulan September.

WWF dan TRAFFIC sangat mendukung seluruh usulan ini. Kami akan berkampanye dan menyuarakan agar usulan ini diterima bersama dengan mitra lain di Global Shark and Ray Initiative di bulan-bulan berikutnya. Bukanlah hal yang mudah, mengingat beberapa negara menolak usulan ini, tapi kami pernah berhasil dalam memasukkan beberapa spesies hiu dan pari ke dalam CITES tahun 2013. Kami akan berusaha keras lagi.
Dengan harapan, banyak negara yang mendukung kami di konferensi CITES dan menolong hiu dan pari - sehingga nantinya ketika saya melihat hiu thresher, saya tahu bahwa kita sudah mengambil langkah besar untuk menyelamatkan mereka.
 
Sumber:
http://wwf.panda.org/wwf_news/?273230/Battle-to-save-the-threshers
Hiu Tikus
© Brian J. Skerry/National Geographic/WWF Enlarge
Hiu Tikus di Filipina
© Andy Cornish / WWF Enlarge
© WWF Enlarge

Comments

blog comments powered by Disqus