Better Management Practices (BMP) - Perikanan Siput Abalon | WWF Indonesia

Better Management Practices (BMP) - Perikanan Siput Abalon



Posted on 14 February 2019   |  
Better Management Practice (BMP) Perikanan Siput Abalon
© WWF-Indonesia

Pemanfaatan siput laut sebagai sumber makanan telah lama dilakukan oleh manusia, terutama oleh masyarakat yang tinggal di daerah pesisir, bahkan jauh sebelum siput-siput laut tersebut menjadi komoditas baik di pasar domestik maupun mancanegara.

Beberapa wilayah di Indonesia yang teridentifikasi memanfaatkan siput-siput laut tersebut antara lain Kepuluan Riau, Bangka Belitung dan Indonesia bagian timur seperti Maluku dan sekitarnya. Dari kesekian wilayah tersebut, Maluku merupakan wilayah yang telah lama melakukan upaya eksploitasi dari beberapa jenis siput laut. Salah satu jenis siput laut yang sangat terkenal yakni Abalon.

Aktivitas penangkapan Abalon di alam yang dilakukan secara terus menerus akan mengakibatkan stok Abalon di alam kian menurun. Produksi abalon dunia dari hasil tangkapan alam mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Pada tahun 1970, produksi abalon dari tangkapan alam mencapai 19.720 ton, sedangkan pada tahun 2012 tangkapan berkurang menjadi 7.424 ton . Penyebab penurunan tersebut diantaranya disebabkan karena adanya penangkapan yang berlebih, penangkapan yang ilegal, predasi, kematian dari abalon yang berukuran kecil, berkurangnya habitat untuk abalon sendiri karena polusi/pencemaran dan pemanfaatan habitat abalon untuk kepentingan yang lain serta kompetisi abalon dengan organisme kompetitor.

Di samping itu, di Indonesia belum ada peraturan terkait pembatasan kuota dan ukuran Abalon yang diperbolehkan untuk ditangkap dari alam. Penurunan stok abalon di Indonesia dari jenis Haliotis asinina dapat dilihat pada aktifitas penangkapan di Lombok Selatan. Produksi Haliotis asinina dari tangkapan alam pada tahun 1980-an yakni sekitar 300 kg per hari, menurun hingga 200 kg per hari pada tahun 1990-an dan terus berkurang hingga kurang dari 100 kg sejak tahun 2000.

Selain itu, dapat dilihat dari ukuran panjang cangkang Abalon (Haliotis asinina) yang tertangkap, rata-rata menurun dari sekitar 8 cm pada tahun 1980-an hingga menjadi 7 cm pada tahun 1990-an dan kurang dari 6 cm sejak tahun 2000.

Dari hal tersebut, para stakeholder terkait mulai mengembangkan usaha-usaha untuk mengembalikan kondisi stok seperti sediakala. Salah satu usaha yang dilakukan adalah pembesaran Abalon dan pengembangbiakan induk Abalon yang ditangkap dari alam.

Oleh karena itu, BMP ini bertujuan untuk memberikan pemahaman serta wawasan dalam melakukan penangkapan induk Abalon dari alam dengan tetap memperhatikan aspek keberlanjutan dan kelesetarian habitat serta penanganan hasil tangkapan yang baik. Dengan semakin meningkatnya pemahaman dan wawasan dari setiap pihak terkait, tentunya akan sangat membantu agar ketersediaan stok siput laut tetap terjaga namun tetap memberikan peningkatan pendapatan bagi nelayan.

Better Management Practice (BMP) Perikanan Siput Abalon
© WWF-Indonesia Enlarge

Comments

blog comments powered by Disqus