Menjadi Konservasionis Muda Bersama Bumi Panda WWF-Indonesia | WWF Indonesia

Menjadi Konservasionis Muda Bersama Bumi Panda WWF-Indonesia



Posted on 09 December 2016   |  
Kunjungan SDK Yahya ke Bumi Panda (02/12/2016).
Kunjungan SDK Yahya ke Bumi Panda (02/12/2016).
© WWF-Indonesia/ Saepulloh
Oleh: Adrian Permana (Volunteer Bumi Panda)
Jumat (02/12), Bumi Panda kedatangan kelompok gugus Pramuka SDK Yahya Bandung. Sebanyak 52 siswa didampingi guru pembimbing disambut oleh tim Bumi Panda. Karena jumlahnya yang cukup banyak, mereka dibagi ke dalam tiga kelompok yang melakukan kegiatan berbeda pada waktu yang bersamaan.

Kelompok 1 melakukan tur Bumi Panda yang didampingi oleh Dwi Widya, volunteer Bumi Panda yang menjelaskan mengenai Species Room yang ada di Bumi Panda. Para siswa diajak mengenali spesies payung WWF-Indonesia, seperti badak Jawa, orangutan, harimau Sumatera, penyu, dan gajah Sumatera. Mereka antusias mendengarkan penjelasan mengenai satwa-satwa yang dilindungi tersebut. “Kak, gimana caranya saya bisa menolong hewan-hewan ini, ya?” tanya Diana siswa SDK Yahya. “Caranya gampang banget dengan menjaga lingkungan sekitar kita. Kurangi pemakaian plastik dan buang sampah pada tempatnya. Selebihnya, kita sama-sama dukung (upaya konservasi) kakak-kakak WWF-Indonesia, ya!” jawab Dwi.

[Baca juga: Diskusi Konservasi di Bumi Panda: “Ada Apa dengan Air?]

Pada saat yang bersamaan, Kelompok 2 belajar mengenai konservasi air di Laboratorium Air, Bumi Panda. Sebagai permulaan, mereka diperkenalkan dengan salah satu proyek konservasi WWF-Indonesia di Rimbang Baling, Riau, dengan menjelaskan kearifan lokal masyarakat di Rimbang Baling yang menjaga sungai sebagai bentuk penghargaan dan kecintaan pada alam. “Jadi di Rimbang Baling itu masih ada sungai yang airnya bersih sekali. Nah kakak mau mengajak adik-adik supaya bisa ikut menjaga sungai dan air yang ada di sekitar kita,” ujar Sani Firmansyah, koordinator Bumi Panda. “Saya sudah pernah bantuin eyang saya bersihin selokan dari sampah, Kak,” celetuk Martin, siswa SDK Yahya menanggapi ajakan Sani.

Selanjutnya, mereka diajak menjadi konservasionis air. Dengan mengenakan pakaian berupa jas laboratorium, para siswa dijelaskan tentang berbagai peralatan laboratorium, seperti gelas kimia, mikroskop, pipet tetes, kertas lakmus, dan beberapa larutan yang akan diujicobakan. Sani lalu menjelaskan cara kerja percobaan larutan asam dan basa. Para siswa juga dapat menyaksikan air yang sedang diperiksa dengan menggunakan mikroskop yang hasilnya  diproyeksikan ke layar LED. Pekikan terkejut dan berbagai reaksi bermunculan ketika mereka melihat berbagai mikroorganisme yang terkandung di dalam air. “Wah ada cacing! Kak, kok banyak banget sih, kumannya?” teriak salah satu siswa.  “Air yang kotor bisa menjadi tempat berkembang biak kuman. Makanya kita harus sama-sama menjaga air bersih,” jawab Sani.

Sementara itu, Kelompok 3 belajar mengenai lingkungan secara visual dengan menonton film bertema lingkungan. Salah satu film yang diputar adalah “We Are all Connected” yang menjelaskan bahwa manusia dengan makhluk hidup lainnya saling terhubung. Para siswa cukup antusias dengan tayangan, film tersebut.

“Sangat mengasyikkan ya, siswa kami bisa belajar untuk mengetahui satwa yang dilindungi, hutan, laut, juga pentingnya menjaga air bersih. Semoga pembelajaran yang luar biasa dari kakak-kakak Bumi Panda WWF-Indonesia bisa menjadi bekal siswa kami untuk bisa menjadi agen perubahan untuk lingkungan yang lebih baik lagi,” ujar Irene, guru pendamping SDK Yahya Bandung. Rangkaian kegiatan di Bumi Panda diakhiri dengan foto bersama para volunteer dan guru pendamping. Suasana makin semarak ketika para siswa menyanyikan lagu ucapan terima kasih dan tepuk pramuka.
 
Kunjungan SDK Yahya ke Bumi Panda (02/12/2016).
Kunjungan SDK Yahya ke Bumi Panda (02/12/2016).
© WWF-Indonesia/ Saepulloh Enlarge
Kunjungan SDK Yahya ke Bumi Panda (02/12/2016).
Kunjungan SDK Yahya ke Bumi Panda (02/12/2016).
© WWF-Indonesia/ Saepulloh Enlarge
Kunjungan SDK Yahya ke Bumi Panda (02/12/2016).
Kunjungan SDK Yahya ke Bumi Panda (02/12/2016).
© WWF-Indonesia/ Saepulloh Enlarge

Comments

blog comments powered by Disqus