Mengenal Satwa Eksotis Ujung Kulon di Bumi Panda | WWF Indonesia

Mengenal Satwa Eksotis Ujung Kulon di Bumi Panda



Posted on 20 December 2016   |  
Himpunan Mahasiswa Biologi ITB mengunjungi Bumi Panda pada Sabtu (10/12).
Himpunan Mahasiswa Biologi ITB mengunjungi Bumi Panda pada Sabtu (10/12).
© WWF-Indonesia/ Saepulloh
Oleh: Dina M (Volunteer Bumi Panda)
Sebagai rumah edukasi milik WWF-Indonesia, Bumi Panda menjadi salah satu tempat tujuan para pelajar maupun mahasiswa untuk lebih mengenal tentang upaya konservasi yang dilakukan WWF-Indonesia. Himpunan Mahasiswa Biologi ITB adalah salah satu contohnya. Mereka mengunjungi  Bumi Panda pada Sabtu (10/12) silam untuk mengetahui tentang upaya konservasi badak Jawa.

Selanjutnya, rombongan mahasiswa tersebut diajak menonton video dokumenter yang berjudul “Ekpedisi Cula Badak Jawa” yang berkisah tentang seorang mahasiswa yang berupaya untuk mendokumentasikan badak Jawa di Taman Nasional Ujung Kulon. Para peserta terlihat antusias saat menyaksikan video dokumenter tersebut karena dibalut dengan cuplikan komedi sehingga tidak jenuh. Pada video tersebut digambarkan juga upaya konservasi yang dilakukan oleh WWF-Indonesia.

[Baca juga: Mengenal Upaya Konservasi Hutan Indonesia di Bumi Panda]

Informasi tentang upaya konservasi badak Jawa juga dibagikan melalui sebuah presentasi. “Sejak tahun 1962, WWF hadir di Indonesia untuk mengkonservasi badak Jawa. Keberadaannya dinilai sangat penting bagi keberadaan dan keseimbangan alam ini,” ujar Sani. Dari presentasi tersebut pun digambarkan jumlah individu yang tersisa dari badak Jawa. Walaupun sudah tidak ada perburuan (di Ujung Kulon), ancaman kepunahan masih akan terjadi yang disebabkan oleh alam itu sendiri. (Seperti kita ketahui), lokasi badak Jawa ini berdekatan dengan Gunung Krakatau yang masih aktif. Bisa dipastikan, jika (Gunung Krakatau) meletus, seluruh populasinya akan punah. Selain itu, ancaman tsunami pada badak Jawa menjadi perhatian khusus dari WWF-Indonesia sehingga saat ini ada upaya lain untuk meningkatkan populasinya dengan membuat “second habitat” dimana badak Jawa ditempatkan di lokasi yang relatif lebih aman dari ancaman geografis.

“Kak, apa yang terjadi jika badak Jawa punah?” tanya Cahyadi, mahasiswa dari ITB. “Tentunya keseimbangan alam akan terganggu dan akan berimbas dengan kehidupan masyarakat di Ujung Kulon itu sendiri karena badak Jawa menjadi maskot utama di sana. Pendapatan daerah akan menurun karena wisatawan akan semakin sedikit yang berkunjung ke sana," jelas Sani. Para mahasiswa tersebut terkesan dengan kunjungan ke Bumi Panda. “Saya menjadi semakin paham dengan keberadaan badak Jawa ini. Sudah seharusnya kami sebagai mahasiswa Biologi berkontribusi secara nyata untuk kelangsungan kehidupan badak Jawa di Ujung Kulon,” ujar Mutia, mahasiswi Biologi ITB.
 
Himpunan Mahasiswa Biologi ITB mengunjungi Bumi Panda pada Sabtu (10/12).
Himpunan Mahasiswa Biologi ITB mengunjungi Bumi Panda pada Sabtu (10/12).
© WWF-Indonesia/ Saepulloh Enlarge
Himpunan Mahasiswa Biologi ITB mengunjungi Bumi Panda pada Sabtu (10/12).
Himpunan Mahasiswa Biologi ITB mengunjungi Bumi Panda pada Sabtu (10/12).
© WWF-Indonesia/ Saepulloh Enlarge
Himpunan Mahasiswa Biologi ITB mengunjungi Bumi Panda pada Sabtu (10/12).
Himpunan Mahasiswa Biologi ITB mengunjungi Bumi Panda pada Sabtu (10/12).
© WWF-Indonesia/ Saepulloh Enlarge

Comments

blog comments powered by Disqus