Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan di DAS Koto Panjang | WWF Indonesia

Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan di DAS Koto Panjang



Posted on 06 November 2018   |  
Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan di Desa Tanjung, Kecamatan Koto Kampar Hulu (9-11 Oktober 2018)
Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan di Desa Tanjung, Kecamatan Koto Kampar Hulu (9-11 Oktober 2018)
© WWF-Indonesia/M. Irfan Fahrizal
[BAHASA INDONESIA]

Oleh: Doni Susanto (Education and Water Lab Subayang)
 
Seorang guru menjelaskan bagaimana ia terpilih oleh komite luar angkasa untuk berpartisipasi dalam suatu perjalanan terheboh di dalam sejarah hidup manusia dengan pesawat luar biasa besar yang mampu menjelajahi jarak yang tidak dapat dibayangkan. Perjalanan ini akan menempuh jarak 6.000 tahun dengan diameter pesawat sepanjang 5 km. Pilot dalam pesawat ini juga sudah diatur, semuanya sudah tersedia untuk perjalanan tersebut. Gravitasi dalam pesawat tersebut sama dengan di Bumi. Anda hanya akan menggunakan teknologi yang sudah Anda kenali dan akan memperoleh akses energi solar panel sepanjang perjalanan. Apa yang akan Anda usulkan untuk dibawa?
 
Pertanyaan tersebut muncul dalam kegiatan Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan di Desa Tanjung, Kecamatan Koto Kampar Hulu, yang diselenggarakan oleh pemerintah Desa Tanjung bekerja sama dengan WWF-Indonesia. Ini merupakan salah satu metode yang diberikan oleh fasilitator dalam pelatihan Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan (PPB).  Materi tersebut mampu merangsang peserta pelatihan untuk berpikir kritis, mencari solusi dari setiap permasalahan yang ada.
 
Pertanyaan yang disampaikan di atas didiskusikan oleh para guru secara berkelompok. Setiap kelompok  diminta untuk menggambarkan barang-barang apa saja yang akan dibawa dalam misi pesawat luar angkasa tersebut. Hasil kerja kelompok dituangkan dalam sebuah gambar pesawat terbang lengkap dengan barang-barang yang akan dibawa. Setiap kelompok mengirimkan perwakilan untuk bercerita di depan forum tentang barang-barang yang akan dibawa dalam misi tersebut. Ada yang membawa makanan, pohon durian, sayur-sayuran, perlengkapan pribadi, kosmetik, dan berbagai fasilitas yang dibawa dalam pesawat tersebut. Menarik sekali.
 
“Kami membawa ternak, tumbuhan, juga sanak saudara. Karena perjalanan ini sangat lama, kami membawa anggota keluarga, juga sekolah,” terang Deswanti, salah seorang perwakilan guru SDN 02 Desa Tanjung.
 
Muhammad Iqbal dari kelompok lain menambahkan, “Kelompok kami membawa bibit pohon durian, karet, bibit sayur, dan tanaman lainnya karena kami menganalogikan sedang melakukan perjalanan seperti di Bumi,” jelas Iqbal.
 
Kegiatan yang dilaksanakan selama tiga hari, 9-11 Oktober 2018, tersebut diikuti oleh guru-guru sekolah yang ada di Desa Tanjung. Sejumlah 24 guru perwakilan sekolah yang terdiri dari SD, SMP, MTS, SMA, MA, dan perwakilan Koordinator Wilayah Bidang Pendidikan Kecamatan Koto Kampar Hulu mengikuti kegiatan dengan antusias. Hari pertama kegiatan diawali dengan penyampaian materi oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Kampar dan perwakilan WWF-Indonesia.
 
Dinas Pendidikan Kabupaten Kampar yang diwakili oleh Taufik WS menyampaikan materi tentang pentingnya pendidikan berbasis lingkungan di Kabupaten Kampar. “Penerapan sistem ini mampu meningkatkan sikap kepedulian terhadap alam, lingkungan, dan tentu saja karakter siswa dapat terbentuk,” imbuhnya. Selain itu, hal ini dapat meningkatkan mutu pendidikan sekolah yang ada di Kampar. Harapannya, akan banyak sekolah yang menjadi sekolah contoh atau sekolah model di lingkungan Kabupaten Kampar.
 
Adi Purwoko selaku perwakilan dari WWF-Indonesia menjelaskan tentang program WWF-Indonesia yang ada di Kabupaten Kampar, kegiatan yang ada di Suaka Margasatwa Bukit Rimbang Bukit Baling, pentingnya menjaga sungai, dan upaya pelestarian sumber daya air tawar yang ada di Riau. Selain itu juga disampaikan materi tentang jejak ekologi-hidup dalam satu Bumi, konsep-konsep pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan, dan aspek-aspek dalam pendekatan sekolah secara menyeluruh.
 
Hari berikutnya pelatihan difokuskan pada praktik pengembangan metode ajar yang bisa diterapkan oleh guru-guru kepada siswa. Metode tersebut antara lain metode garis (berpikir kritis), bekerja dengan metafora-sistem berpikir (botol), misi berpikir multidisiplin (misi ruang angkasa), dan pendidikan luar kelas yang terdiri dari pembagian kelompok, mencium bau, dan tata kota.
 
Materi pelatihan dikemas dengan konsep yang menyenangkan, di dalam dan luar ruangan. Ada pula berbagai games pendukung materi pelatihan. Hal ini membuat para guru tersebut semakin antusias dan bersemangat dalam mengikuti pelatihan. Putri Junita, guru SMA 1 Koto Kampar Hulu mengungkapkan, ”Pelatihan yang diadakan oleh WWF-Indonesia sangat menyenangkan. Kami bisa belajar metode ajar yang terbaru. Tidak membosankan juga jika diterapkan untuk anak anak.”
 
Di akhir pelatihan, peserta juga berkomitmen untuk membagikan hasil pelatihan yang telah dilaksanakan selama tiga hari tersebut kepada guru-guru yang lain di sekolah mereka. Selain itu, peserta juga berkomitmen untuk mulai membuat sekolah menjadi lebih rindang, lebih hijau, membuat taman sekolah, dan memanfaatkan pekarangan sekolah sebagai bahan ajar.
 
Rini R. Andriani, Education Sustainable Development  Coordinator WWF-Indonesia menegaskan, “Kita akan dampingi sekolah-sekolah yang ada di Desa Tanjung untuk mencapai mimpi sekolah mereka sesuai dengan kriteria-kriteria yang ada dalam program ESD.”

---
[ENGLISH]

Education for Sustainable Development at Koto Panjang Riverbank

Translated by Ignatia Amelya

A teacher explained that he was chosen by the cosmic space committee to participate in once-in-a-lifetime journey to space. This space journey will be on an enormous space ship, capable of exploring distances that one can ever imagined. The space ship measures 5km in radius and will cover a distance of 6,000 years. The commanding pilot on this space ship has to arrange for everything to be available for this long trip. The gravitational force on the plane is the same as on Earth. You will only use technology that are availably known to you and energy will be produce from solar panels throughout the trip. So, what will you bring onboard?  

The question was thrown during the event Education for Sustainable Development in Tanjung Village, Koto Kampar Hulu Subdistrict, which was organized by the Desa Tanjung government in collaboration with WWF-Indonesia. This is one of the methods used by facilitators during Education for Sustainable Development (PPB) training. Through this module, participants are expected to think critically and find solutions to any existing problems.

The teachers who came for the training, were then divided in groups and was presented the question above. Each group was asked to draw the items that will be carried onboard. The group then take turns to present the items, with full illustrations on the items that they will bring on this mission. The result was interesting, some brought food, durian trees, vegetables, personal equipment, cosmetics, and various facilities carried on the plane.

"We are bringing our livestock, plants, and our relatives. Because this trip is very long, we bring family members, also schools, "explained Deswanti, teacher representatives of SDN 02 Tanjung Village.

Muhammad Iqbal, from another group, added, "Our group will be bringing durian seeds, rubber, vegetable seeds, and other plants because we analogize that we are traveling as if we are on Earth," explained Iqbal.
 
The activities were carried out from 9-11 October 2018, were attended by school teachers in Tanjung Village. A total of 24 school representative teachers consisting of elementary, junior high, MTS, high school, MA, and representatives of the Regional Coordinator for Education in the District of Koto Kampar Hulu participated in the activity enthusiastically. The first day of the activity began with material delivery by the Kampar District Education Office and WWF-Indonesia representatives.

The Kampar District Education Office represented by Taufik WS delivered material on the importance of environment-based education in Kampar District. "The application of this module will be able to increase awareness about nature, the environment, and of course the character building for students" he added. In addition, this can improve the quality of school education in Kampar. The ambition is that these participating schools will become role-model schools in Kampar District.
 
Adi Purwoko, a representative from WWF-Indonesia, explained about the WWF-Indonesia program in Kampar Regency, activities that takes place in Bukit Rimbang Wildlife Reserve Bukit Baling, the importance of maintaining the river, and efforts to preserve freshwater resources in Riau. In addition, materials on the ecological footprint of life in one Earth, concepts of education for sustainable development, and aspects of the overall school approach were also presented.
 
The next day, the training focused on the practice of developing teaching methods that could be applied by teachers for students. These methods include the line method (critical thinking), working with thinking metaphors (bottles), multidisciplinary thinking missions (space missions), and outside-of-class lessons that consists of group activities, heightening the smell sensory, and urban planning.
 
Training materials are packed with fun concepts for indoor and outdoor activities. There are also various games supporting training materials. This made the teachers more enthusiastic to attend the training. Putri Junita, a teacher at SMA 1 Koto Kampar Hulu revealed, "The training held by WWF-Indonesia was delightful. We can learn the latest teaching methods. It's not boring if applied in the classroom. "
 
At the end of the training, participants are committed to share what they learn for the past three days to other teachers at their school. In addition, participants also committed to start making schools greener, creating school parks, and utilizing school grounds as teaching materials.
 
Rini R. Andriani, WWF-Indonesia Education Sustainable Development Coordinator, weigh in, "We will accompany schools in Tanjung Village to achieve their school's ambitions in accordance with the criteria contained in the ESD program."
 
Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan di Desa Tanjung, Kecamatan Koto Kampar Hulu (9-11 Oktober 2018)
Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan di Desa Tanjung, Kecamatan Koto Kampar Hulu (9-11 Oktober 2018)
© WWF-Indonesia/M. Irfan Fahrizal Enlarge
Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan di Desa Tanjung, Kecamatan Koto Kampar Hulu (9-11 Oktober 2018)
Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan di Desa Tanjung, Kecamatan Koto Kampar Hulu (9-11 Oktober 2018)
© WWF-Indonesia/Doni Susanto Enlarge
Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan di Desa Tanjung, Kecamatan Koto Kampar Hulu (9-11 Oktober 2018)
Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan di Desa Tanjung, Kecamatan Koto Kampar Hulu (9-11 Oktober 2018)
© WWF-Indonesia/Doni Susanto Enlarge

Comments

blog comments powered by Disqus