WWF dan HSBC Mendorong Kepedulian Masyarakat Terhadap Lingkungan dengan Aksi Mulung Ciliwung | WWF Indonesia

WWF dan HSBC Mendorong Kepedulian Masyarakat Terhadap Lingkungan dengan Aksi Mulung Ciliwung



Posted on 16 April 2019   |  
Mulung Ciliwung 13 April 2019.
Mulung Ciliwung 13 April 2019.
© WWF-Indonesia/Surianto Effendi
Oleh: February T.A. Ramadhan (Ciliwung Project Assistant)
Saat ini, kita tengah menghadapi berbagai permasalahan lingkungan yang kompleks, mulai dari pemanasan global, pencemaran akibat plastik, hingga kerusakan ekosistem. Maka, menjelang Hari Bumi yang diperingati setiap 22 April, WWF-Indonesia dan HSBC ingin mendorong kepedulian masyarakat terhadap lingkungan, salah satunya dengan cara mengadakan kegiatan Mulung Ciliwung. Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara WWF-Indonesia, relawan HSBC, dan Komunitas Ciliwung Herpetarium, dan beberapa pemangku kepentingan lainnya. Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bogor juga membantu mengurus pengangkutan sampah hasil Mulung Ciliwung.

[Baca juga: Peduli Sampah Melalui Kegiatan Mulung Ciliwung]

Kegiatan Mulung Ciliwung kali ini merupakan kegiatan ke-3 yang sudah dilakukan. Berlangsung pada Sabtu, 13 April 2019 di salah satu segmen Sungai Ciliwung, yaitu Kedung Waringin, Bojong Gede, aksi bersih-bersih sungai yang dilakukan para relawan berhasil mengumpulkan sekitar 1,5 ton sampah dalam waktu dua jam. Angka tersebut terbilang cukup besar. Hal ini menunjukkan perilaku masyarakat sekitar sungai yang tidak ramah lingkungan karena masih terbiasa membuang sampah sembarangan. Dengan adanya kegiatan Mulung Ciliwung, para relawan berharap bisa menumbuhkan kepedulian lingkungan di dalam diri peserta aksi dan warga sekitar.

Selain memungut sampah, pada kegiatan Mulung Ciliwung kali ini juga ada pembahasan tentang pentingnya keberadaan sungai dan herpetofauna bagi ekosistem. Herpetofauna merupakan kelompok satwa dari kelas reptil dan amfibi, seperti kura-kura, kodok, katak, ular hingga komodo. Ternyata, keberadaan spesies-spesies tersebut sangat penting bagi lingkungan sekitarnya. Salah satu contohnya adalah ular yang berperan sebagai predator alami bagi hama sawah seperti tikus. Jadi, meski beberapa herpetofauna tersebut terbilang berbahaya atau bisa mengganggu manusia, bukan berarti harus dibasmi semuanya.

[Baca juga: Mulung Ciliwung: Aksi Nyata untuk Kurangi Sampah Sungai Ciliwung dan Jaga Sumber Air Bersama]

Mulung Ciliwung hanya salah satu cara untuk mengurangi sampah yang mencemari sungai. Kita juga bisa ikut menjaga kebersihan sungai dengan aksi mandiri seperti penggunaan tumbler untuk mengurangi minuman kemasan atau membawa eco bag saat berbelanja agar bisa mengurangi kantong plastik. Dengan rasa kepedulian lingkungan yang tumbuh dari dalam diri setiap individu, kita bisa berharap akan mendapati sungai yang lebih bersih di masa mendatang.
Mulung Ciliwung 13 April 2019.
Mulung Ciliwung 13 April 2019.
© WWF-Indonesia/Surianto Effendi Enlarge
Mulung Ciliwung 13 April 2019.
Mulung Ciliwung 13 April 2019.
© WWF-Indonesia/Surianto Effendi Enlarge
Mulung Ciliwung 13 April 2019.
Mulung Ciliwung 13 April 2019.
© WWF-Indonesia/Surianto Effendi Enlarge
Mulung Ciliwung 13 April 2019.
Mulung Ciliwung 13 April 2019.
© WWF-Indonesia/Surianto Effendi Enlarge

Comments

blog comments powered by Disqus